inicio mail me! sindicaci;ón

Angan-angan koe

untuk negeriku yang sangat kucinta

Sinabang-Singkil-Medan-Jakarta (1)

Sinabang ini sebenarnya kota yang berasal dari kata ’sinafang’ atau senapan. Dinamakan demikian karena Belanda banyak bermukim disini pada jaman penjajahan.  Kota ini terletak didalam sebuah teluk dan menghadap ke Pulau Sumatera, jadi memang relatif lebih aman terhadap gelombang Samudra Hindia yang bergulung-gulung.

Di Pulau ini terdapat juga rel kereta api uap yang khusus digunakan untuk mengangkut kayu hutan yang konon jenis kayunya lebih baik dari kayu jati untuk dibawa kenegeri Belanda.

Makanan yang khas disini adalah makanan pesisir, sebenarnya di losmen Barokah juga tersedia makanan berbagai ragam, dan kalau kita ingin pesan udang, kepiting atau lobster juga tersedia.

lobster

Di Pulau ini juga ada bandara yang diberi nama Lasikin. Sebuah bandara yang baru dibangun BRR dan kelihatan rapi.  Sebenarnya ada 4 operator pesawat yang dilayani oleh bandara ini pada saat ini yakni Susi Air, Riau Air (RAR), Merpati dan SMAC dengan harga tiket sekitar 550.000 tujuan Medan. Tujuan dari penerbangan adalah Medan dan Banda Aceh.

Pada cuaca buruk hanya pesawat Susi Air yang berani atau memungkinkan untuk mendarat. Pesawat Susi di piloti oleh orang bule dan meskipun kecil namun pesawat ini auto pilot :-) Yang disebut buruk tentu tidaklah terlalu buruk, hanya saja jika jarak pandang kurang dari 3.000 meter pesawat tidak berani mendarat karena kelengkapan bandara yang memang kurang memadai. Cuaca seperti gambar berikut pesawat sudah sulit untuk mendarat.

cuaca-lasikin

Dengan cuaca seperti diatas, kami hanya mendengar deru pesawat yang kemudian kembali ke Medan. Penumpang diberi makan dan dijanjikan bahwa pesawat akan kembali lagi sekitar jam 4 setelah melanjutkan perjalanan ke Medan – Gunung Sitoli PP. Sebagian penumpang cukup sabar menunggu pesawat  dan ketika jam 4 dipastikan bahwa penerbangan selanjutnya adalah hari Senin maka banyak penumpang yang naik pitam :-(

penumpang-kecewa

Sudah jelas bahwa hari minggu tidak ada penerbangan Riau Air, dan kami diminta menunggu hingga hari Senin. Masalahnya jika Senin cuaca juga hujan maka bisa dipastikan berangkat hari Rabu. Sementara penerbangan lain tiket sudah habis terjual. Maka saya bisik-bisik pada penumpang lain untuk naik Ferry aja malam ini menuju Singkil. Hari sebelumnya Ferry menuju pelabuhan Haji. Hanya saja beberapa penumpang mempertanyakan kondisi langit yang berawan, mereka kuatir bahwa   dalam pelayaran akan benar-benar menguras isi perut :-(

Dengan berbekal semangat pulang saya cepat-cepat kembali ke Sinabang, sayangnya barang-barang saya tertinggal di Kijang Inova yang menjemput penumpang ke Bandara. Rombongan kami berempat terpecah, dua orang memilih tetap menunggu hari senin sementara kami berdua memilih menyeberang :-)

Bersambung

No comments yet »

Your comment

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>