Angan-angan koe
untuk negeriku yang sangat kucinta
Archive for April, 2009
April 27, 2009 at 09:19 · Filed under sosial
Posisi SBY pada saat ini rasanya seperti kita sedang menghadapi kondisi Suhato pada ‘Jaman Orba’. Pada saat itu melalui ‘kebulatan tekad’ sudah dapat dipastikan bahwa Suharto adalah presiden berikutnya tinggal kita pilih siapa gerangan wakil presiden yang akan dipilihnya. Demikian pula halnya yang terjadi pada diri SBY saat ini, dengan kemenangan melalui ‘quick count’ sebesar lebih kurang 20 %, telah banyak pihak yang memastikan bahwa SBY adalah pemenang pada pemilihan presiden yang akan datang.
Hal ini mungkin saja terjadi jika lawan-lawan dari SBY adalah muka lama pada pilpres 2004, maka dengan tambahan pengalaman SBY jadi Presiden 2004-2009 maka jelaslah bahwa kedudukan SBY pun semakin menguat dengan pemikiran tanpa pengalamanpun sudah unggul tahun 2004. Kekuatan ini semakin menjadi-jadi manakala pihak-pihak yang sebenarnya punya potensi untuk nyapres , dengan peraturan yang sengaja dikondisikan malah memutuskan diri untuk puas sebagai Wakil Presiden saja
Memang sangat sulit menghadapi masa mengambang yang jelas pilihannya bukan dilandaskan pada ideologi, namun hanya pada orang per orang yang dikenal, baik karena ‘ketenaran’ maupun ‘keturunan siapa’ menjadi patokan yang utama. Sementara partai hanyalah sebagai kendaraan kutu loncat yang bisa dilompati para oportunis untuk mengejar posisi.
Pun demikian tetap ada yang menarik dalam pilpres kali ini. Yakni seolah mengutub antara pihak yang berniat menggalakkan pemberatasan korupsi hingga akar-akarnya yang ini dicerminkan oleh kinerja KPK dalam kepemimpinan SBY melawan pihak yang merasa lahan-lahannya mulai terobrak-abrik oleh sepak terjang KPK.
Keluarnya Golkar dari Koalisi yang ada menambah tegas garis tersebut diatas, ditambah lagi keinginan PKS untuk merapat semakin jelas warna yang mungkin akan diambil dalam langkah SBY dalam periode mendatang dan ini akan memacu pihak-pihak yang beroposisi terhadap SBY semakin meningkatkan kinerjanya untuk memenangkan posisi Pilpres yang akan datang.
Kondisi diatas tentunya menyulitkan penilaian masyarakat akan kondisi nyata yang dihadapi selama periode kepeminpinan SBY. Ambilah contoh bagaimana kita menilai kinerja KPU yang acak adul. Seperti tanpa ada prasangka macam-macam dan juga ada keterlibatan ‘penguasa’ seolah kesalah KPU menangani hajat besar di negeri ini menjadi kesalahan KPU semata.
Padahal jika diperbandingan kinerja KPU 2004 yang lalu yang sebagian besar petingginya di ‘meja hijaukan’, baik dari total biaya maupun kecanggihan datanya jauh lebih bagus tahun 2004
.
Padahal sebenarnya keberhasilan KPK atau KPU adalah sama-sama mencitrakan kemampuan Pimpinan tertinggi negeri ini pada periodenya
April 24, 2009 at 09:47 · Filed under sosial

Detik detik berlalu
Dalam hidup ini
Pelan tapi pasti
Menuju mati
Kerap datang rasa takut
menyusup dihati
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia
Pada hening dan sepi
Aku bertanya
Dengan apa ku isi
Detikku ini
Kerap datang rasa takut
menyusup dihati
Takut hidup
ini terisi
Oleh sia-sia
Tuhan kemana kami
setelah ini
Adakah engkau dengar
Doaku ini
Oleh : Iwan Abdulrachman
Perasaan diatas adalah perasaan yang lumrah kita rasakan semakin umur kita bertambah. Ada rasa takut bahwa hidup ini akan terisi oleh kesia-siaan. Hal ini akan membuat kita bercermin lagi menatapi langkah-demi langkah yang telah kita lalui.
Abah menjelaskan bahwa hidup ini harus kita isi dengan perbuatan dan bersyukurlah bahwa kita terpilih diantara begitu banyak orang yang mencari kerja. Bahwa kerja yang skala besar memang harus dilaksanakan secara berorganisasi, maka tak jadi masalah jika kita terpilih sebagai salah satu pengisi organisasi tersebut agar suatu karya besar dapat ditampilkan. Hal ini juga yang mengakibatkan hidup tak lagi terisi oleh kesia-siaan.
Kerja dengan penuh pengorbanan terlalu murah jika hanya dihitung dengan uang, karena suatu karya bagi kebaikan sesama akan lebih berharga dan tak ternilai. Jika kita hitung dengan cermat, memang sebagian besar waktu kita sebenarnya digunakan untuk kerja dibanding keluarga bahkan beberapa keluarga harus rela meninggalkan anak istrinya untuk periode tertentu. Dan tentunya semua ini untuk menjawab bahwa kita sebenarnya “Takut hidup ini terisi oleh sia-sia”
Track 07 DETIK HIDUP – Track 07 DETIK HIDUP
April 21, 2009 at 16:00 · Filed under sosial
Pagi ini serasa ada rasa tak sabar untuk segera keliling ke Tangkuban Perahu. Daerah ini memang daerah jajahan bersama teman-teman SMAK Dago sewaktu masih remaja dan tinggal di kota Bandung. Ada beberapa acara jika kami pilih daerah ini untuk disambangi, belajar ‘moto cross’ di Pacuan Kuda yang kala itu beberapa berita didominasi kehebatan alm. Popo Hartopo, memaksakan motor Honda CB 100 dan CG 125 untuk mendampingi Suzuki TS 100 dan Yamaha DT 100 naik ke Jayagiri dengan mengambil arah belok kiri setelah tikungan Pasar Lembang. Boleh dibilang kami hapal betul batang demi batang dan batu yang melintang dijalan tersebut
Diufuk timur matahari belum nampak, namun bayangnya kejinggaan seakan memberi tahuku bahwa disanalah aku sang fajar berada, akulah sang timur yang semakin terjaga. Sementara rembulan belum ingin beranjak dari tempatnya.
Segera saja kurekam semua tanda alam lewat jendela kameraku. Tak sabar rasanya untuk segera menapaki masa lalu yang begitu cepat berlalu. Dan tanpa kusadari bahwa semua ini ternyata telah di kemas Karash Adventure & Training dalam kemasan bertajuk “Sharing of Joy, Tripatra – UPD Project. Sebuah acara yang diadakan untuk mensyukuri selesainya proyek Ujung Pangkah yang sangat membanggakan ditengah keterpurukan bangsa ini.
Dan dalam acara ‘Iwan Abdulrachman Show’ seluruh peristiwa masa lalu dan masa akan datang seperti dikupas tuntas. Rasanya sesak nafas ini, karena apa yang dituturkan lewat petikan gitar lagunya begitu mengena dan berhimpit dengan kehidupan kita dalam keseharian.

Seperti halnya peristiwa alam yang sempat terekam lewat kamera diatas ternyata diurai lewat lagu sebagai berikut :
Dhuha – Iwan Abdulrachman
Rembulan memudar
dan matahari diam-diam semakin terjaga
tersenyum merona diufuk timur
cakrawala
Pesona surya menatapku
menyapaku membelai jiwaku
oh sang surya menghangatkan ruhaniku
Betul, bulan belum sempat menghilang dan hanya memudar dari langit ketika matahari semakin terjaga, tersenyum merona diufuk timur cakrawala. Sang surya bukan hanya memberikan kehangatan ditubuh, tapi juga menghangatkan ruhaniku. Dan Abah demikian Iwan di sebut, mampu menghadirkan hampir segala sesuatu yang saya tulis dalam blog ini melalui syair lagu yang dinyanyikan sepotong-sepotong. Memang luar biasa dan sulit menceritakannya jika tak hadir sendiri di ruang Ganesha Hotel Panorama saat itu

April 13, 2009 at 21:30 · Filed under sosial
Ideas & initiated by the late Tun Abdul Razak, the 2nd Prime Minister of Malaysia in 1960s. The Bridge was planned during the term of 3rd Prime Minister, Tun Hussein Onn in 1970s. Built during the 4th Prime Minister, Tun Dr. Mahathir Mohamad in the 1980s and finally opened to traffic in 14 Sept. 1985.

Year Built : 1982
Year Completed : 1985
Project Duration : 3¾ Years
Bridge Design Name : Cable Stay Concrete Girder
Main Contractor : Hyundai Engineering & Construction. Co. Ltd, Korea
Consulting Engineer : Howard Needles & Tammen, Bergendoff Intl. Inc. SA/JK(SEA)
Length
Overall : 13.5 km (8.4 miles)
Over Water : 8.4 km (5.2 miles)

Viaduct & Approach
Penang Island: 1.5 km (1 miles)
Prai: 3.6 km (2.2 miles)
Carriageway: 4 lanes (6 in future)

Height
Tower Above Water: 101.5 m
Bridge Above Wate : 33 m

Span
Main Span :225 Meters
End Span : 107.5 Meters
Other Span : 40 Meters

Total Width
Dual Lanes : 18.25 m
Three Lanes : 25.75 m
Lane Width : 3.75 m

Design
Median Barrier : 1.25 m
Edge Barrier : 1.0 m
Design Speed : 80 km/hr
Maximum Gradient : 3.0%

Land Reclamation
Main Land : 250 Acre
Penang Island : 100 Acre
Setidaknya data inilah yang ada pada website Jembatan Penang (Penang Bridge Sdn Bhd) Jembatan yang selesai dibangun tahun 1985 ini sangat menarik bagi saya. Ketika saya hendak menyeberang ke Butterworth supir taxi menawarkan untuk naik Ferry yang konon jauh lebih dekat dengan bayaran 70 ringgit. Namun hal ini saya tolak dan saya bersedia menambah 10 ringgit menjadi 80 ringgit karena jarak menjadi lebih jauh.
Ada sedikit perbedaan antara Suramadu dengan Penang ini. Jika di Penang yang berkembang justru Pulau Penang yang kemudian butuh akses ke semenanjung Malaysia, sementara Suramadu yang berkembang adalah Surabaya yang entah alasan apa dibuat jembatan menuju Madura.
Tapi oke lah, saya pikir kita juga berharap jembatan ini dapat segera difungsikan dan Madura bisa jadi daerah industri baru atau setidaknya akan menjadi daerah tujuan wisata baru. Hanya saja kemungkinan bahwa jembatan ini akan senasib dengan Balerang juga besar.
Memang ada pulau-pulau yang secara tradisional berkembang menjadi kota utama seperti misalnya Ternate yang lebih diminati sebagai tempat tinggal dibanding Pulau Halmahera yang jauh lebih luas
Maka demikian pula dengan Sinagpore yang lebih berkembang di banding Johor dan tentu saja Penang yang jauh lebih maju di banding Butterworth.


Jembatan yang selesai dibangun tahun 1985 atau sekitar 25 tahun yang lalu ini, saat ini sedang dalam proses pelebaran guna lebih memperlancar arus transportasi Pulau Penang menuju Semenanjung. Dan tentunya 25 tahun lagi kita tak berharap ada pelebaran jembatan Suramadu karena memang sudah kita rencanakan dengan baik saat ini
Menurut informasi dari supir taxi, harga rumah dan tanah di Pulau Penang jauh berlipat kali dibanding di Butterworth dan mungkinkah harga tanah di Madura juga akan berlipat kali dibanding Surabaya, atau tanah di Surabaya akan naik harganya setelah Suramadu di operasikan ?
Rek Ayo Rek – Mus Mulyadi
April 12, 2009 at 16:51 · Filed under sosial
Setibanya di Bandara Kuala Lumpur, santai saja mengingat masih lebih dari dua jam sebelum keberangkatan. Kami sempat makan dan minum kecil serta mencoba ATM Mandiri istri saya yang ternyata juga bekerja dengan baik.
Suasana di LCCT Kuala Lumpur ini sangatlah ramai. Banyak orang dengan berbagai penerbangan tumplek blek disini. Sementara bandara juga sedang mengalami renovasi. Hampir semua kounter diperuntukkan Air Asia. Bahkan ketika saya masuk ke bagian penerbangan Luar Negeri malah dipersilahkan ke bagian penerbangan domestik untuk chek in saja.
Setelah Check In masalah baru timbul ketika petugas melihat tanggal kedaluarsa pasport kami yang bulan Juli 2009. Maka petugas kounter tidak bisa memutuskan dan kami dilempar ke manajernya. “Bulan Juli kurang dari 6 bulan, dan peraturan Internasional melarang menggunakan passport yang demikian. Jika kami yang mengijinkan atau membawa anda ke Singapore maka penerbangan kami yang akan kena denda 3000 US $ perpenumpang”, demikian penjelasannya.
“Anda boleh pilih penerbangan ke tujuan lain nanti semua biaya yang sudah dikeluarkan buat tiket diperhitungkan hanya saja kami tidak mengembalikannya dalam bentuk uang ” demikan penjelasan tambahannya.
Wah padahal tiket ke Singapore, penginapan di Singapore yang mahal itu dan tiket Singapore ke Jakarta sudah ditangan. Maka sejenak saya berunding dengan istri dan cuti kami sayang kalau harus pulang ke Jakarta hari ini juga. Maka kami putuskan untuk terbang langsung ke Denpasar.

“Oke, anda bisa terbang jam 15.00 direct ke Denpasar dan bayar tambahan untuk Denpasar – Jakarta dan kami akan segera hitungkan, setuju ?” demikian sarannya.
Akhirnya kami setujui dan mengalami dua kerugian pertama adalah biaya nginep di Singapore yang gak mungkin bisa diminta lagi kedua ongkos Denpasar Jakarta.
Widget powered by EveryTrail: GPS Geotagging
Untungnya bali memang tujuan wisata yang menyenangkan meskipun agak kesal juga ketika harus antri imigrasi di Bandara Ngurah Rai. Kelelahan tiga jam perjalanan masih harus ditambah berdiri lama tunggu antrian imigrasi. Yang antri pada bisik-bisik kok nggak ada perubahan di Indonesia ini. Sementara tetap saja ada jalan tikus dimana dengan ramah seseorang dipersilahkan melalui jalur itu entah bayar entah tidak tapi inilah kenyataanya.


Paspor kami dibolak-bali seolah kurang lama kami antri. Kemudian dinasehati dengan sebuah nasehat yang rasanya nggak perlu saya dengar karena hanya akan menambah lama orang ngantri dibelakang saya. “Sebaiknya bapak perpanjang paspor bapak” ……. waduhhhh nenek-nenek juga tau, gue terdampar disini juga karena itu bro…. sayangnya hanya dalam hati saja.


Sewa mobil di Bali yang cuma 200.000 untuk 26 jam dan diantar sampai airport memang menyenangkan. Mobil Mitsubitshi Kuda itu enak juga dikendarai dan kami keliling bali lewat Kintamani terus ke Singaraja balik lagi lewat Bedugul. Dan tentu saja Bali tetap saja lebih indah dari semua rangkaian perjalannan ini dan kami bersiap merencanakan liburan bersama anak dan keponakan untuk ke Bali tahun ini, tentunya tanpa harus lewat imigrasi yang menyebalkan …….
Kecak (Monkey Chants) – Loren Nerell
April 12, 2009 at 12:05 · Filed under sosial

Setibanya di Sentral Kuala Lumpur jam 5.20 pagi, suasana masih terlihat gelap. Maklumlah jam di KL lebih maju 1 jam dari di Jakarta. Sentral Kuala Lumpur adalah pusat berbagai moda transportasi masa yang ada di Kuala Lumpur mulai dari Kereta antar Negara, Kereta Antara Kota, Monorail, KLIA Transit, KLIA Express, Bus, taxi etc.
Sejenak saya duduk diruang tunggu yang tampak modern. Terlihat mesin ATM dan saya sadar bahwa saya sudah nggak pegang uang lagi mengingat di Medan kemarin hanya sedikit yang sempat saya tukarkan. Ternyata mesin itu tercantum antara lain ATM bersama serta logo-logo lainnya seperti yang banyak terdapat di ATM Indonesia seperti Maestro, Cirrus, Visa Electron etc. Maka saya coba ATM BCA saya dan ambil uang seperlunya. Ternyata tidak masalah


Akhirnya saya putuskan untuk menyimpan koper di locker yang tersedia di Sentral Kuala Lumpur. Dengan Locker paling besar untuk menyimpan koper dan ransel seharga 10 ringgit atau sekitar 30 ribu rupiah, kami bisa melenggang karena nanti siang saya sangat ingin ke Bandara untuk terbang ke Singgapore dengan menumpang KLIA Express seharga 35 Ringgit, meskipun tersedia Bus yang hanya seharga 8 ringgit namun saya ingin coba KLIA Ekspress yang konon merupakan kereta modern.
Rupanya Monorail belum benar-benar tergabung dengan Sentral KL sehingga kita harus berjalan dulu keluar setasiun dan menjumpai tulisan “Harap Maaf Kesulitan Amat Dikesali” dan “Pembinaan Sedang Dijalankan Untuk Kemudahan Anda Di Masa Depan”.
Pagi itu banyak orang jual jajanan pagi untuk nyarap orang kerja. Saya ambil monorail ke arah Bukit Bintang dengan tiket seharga 1,60 ringgit. Sesampai di Bukit Bintang, di suasana pagi itu juga terlihat banyak orang berjualan makanan dan kue-kue sebagai teman sarapan pagi.
Jam 10.00 kami kembali ke Sentral KL, ambil koper dan beli tiket KLIA Express. Dan ternyata ini memang kereta bagus sekali, saya jadi ingat ketika di Jerman Barat menggunakan Pendolino yang sangat mirip dengan kereta ini, hanya saja pendolino (Pendulum) digerakkan oleh disel, sedang ini digerakkan oleh listrik. Kabin yang nyaman serta WC yang luas dan bersih melengkapi suasana kereta ini.



Dan setibanya di KLIA kami harus naik Bus lagi ke LCCT yakni Low Cost Terminal yang sepertinya dikususkan untuk Air Asia dan dalam renovasi besar-besaran mengingat Air Asia tumbuh dengan sangat pesat sehingga mungkin akan lebih banyak calon penumpang di LCCT dibanding di KLIA
Cindai – Siti Nurhaliza
April 12, 2009 at 09:17 · Filed under sosial
| Description: |
STUPID Kereta Api Tanah Melayu has never ever came or left on time.
Comes and goes irregularly. The time estimation of arriving and leaving is very bad. I repeat, Very bad.
I have no idea wth the train drivers are doing most of the time. Why? bad weather cannot drive a stupid train that has one way. Either move forward or backward, like that also so hard to come on time ah? WTH!!!!! GRRR!
|

Penasaran juga baca beberapa artikel baik di facebook maupun di blog seputar Kereta Api Tanah Melayu. Ada yang bilang KTM NOT (Never On Time) ada juga yang bilang Kereta Tak tahu Masa. Hal ini muncul akibat seringnya KTM tak tepat waktu atau terlambat.
Maka saya putuskan untuk mencoba sendiri naik KTM, Saya pesan melalui internet dan sayangnya yang siang sudah penuh semua jadi naik yang malam. Berangkat dari Butterworth jam sembilan malam dan akan tiba di Sentral Kuala Lumpur jam 5.20 keesokannya. Segala perlengkappan untuk mencatat perjalanan ini telah saya persiapkan terutama Holux sebagai GPS Trackker yang akan mampu melihat kecepatan kereta serta route yang ditempuh.



Kereta ini mungkin seangkatan dengan kereta BIMA (Biru Malam), di kabin kelas satu tersedia dua tempat tidur yang mana tempat tidur diatas dapat dilipat jika kita ingin duduk-duduk saja.
Sebenarnya Holux saya mencatat tanpa henti perjalanan ini, hanya saja filenya jadi sekitar 6 Mega dan ini menyulitkan GPS Visualizer yang mengijinkan maksimum 3 MB. Maka file tersebut saya bagi dalam 3 segment dan perlu dicatat bahwa kereta ini benar-benar on time.
Jika saya perhatikan dari Track berikut memang terlihat bahwa kereta jarang di geber, bahkan kecepatan rata-rata hanya sekitar 40 km/jam. Kalaupun di genjot cepat juga percuma tiba di Kuala Lumpur terlalu pagi. Jadi tampaknya memang di set sedemikian rupa sehingga kereta memang berjalan lambat asal tepat waktu. Selain itu memang jalur ini tidak tampak sibuk seperti jalur kereta di jawa yang dijejali begitu banyak perjalanan.
Widget powered by EveryTrail: GPS Geotagging
Widget powered by EveryTrail: GPS Geotagging
Widget powered by EveryTrail: GPS Geotagging
Semalam Di Malaysia – DLLOYD
April 12, 2009 at 07:35 · Filed under sosial
Setelah puas keliling tempat ini, kami sekedar cari toilet dan minum di sudut taman kota. dan saya jumpai pembagian tempat makan seperti terlihat dalam foto berikut :

Rupanya makanan dibagi menjadi makanan orang Islam dan makanan orang Cina. Akhirnya guna menghemat waktu maka kami putuskan untuk sewa taxi saja. Hal ini memang mahal, tapi apa boleh buat. Si sopir taxi yang orang cina berbahasa melayu menwarkan 200 ringgit (600.000 rupiah) keliling pulau Penang. Akhirnya tawar menawar dan saya sampaikan saya nggak berminat keliling pulau Penang. Saya mau sampai ke Butterfly Farm. Kembali cari makan sian nasi Kandar dan di drop di Mall Gurney saja dan disepakati 120 ringgit. Nanti sore jam 20.00 kamu jemput saya di hotel dan antar saya ke stasiun kereta api di Butterworth. Sama seperti supir taxi dari bandara kemarin yang bilang 70 ringgit tapi saya beri syarat saya mau lewat jembatan bukan naik Ferry. You tambah 10 ringgitlah lebih jauh belum lagi macet bubaran kantor kilahnya. Maka kami sepakatilah 200 ringgit juga jadinya.
Rupanya supir taxi ini sangat profesional dan banyak cerita. Pertama kami langsung diajak untuk lihat Reclining Buddha, Kemudian beberapa tempat wisata juga disodorkan tanpa minta tambahan biaya. Kami malah repot meilih karena waktu yang terbatas.


Dan setelah puas lihat-lihat daerah ini, kami kembali meluncur dan tanpa diminta mobil di hentikan di toko kopi putih. You boleh coba, gratis lho.



Setelah puas mencicipi berbagai cita rasa kopi putih, sopir taxi mau ngajak lagi ke Toy Museum dan kami tolak. Memang agak lucu juga supir taxi ini, dia jadi yang mengatur seluruh perjalanan saya termasuk pilihan makan. Rencana saya makan nasi Kandar dia bilang you sore saya jemput jam 5.00 kita punya waktu makan nasi Kandar, sekarang you musti coba makanan melayu famous punya. Oe nggak bohong, orang jauh-jauh kemari cuma buat nakan inilah, kalau nggak famous punya untuk apalah dagang ditempat tersembunyi begitu.
Dan memang hanya dengan 15 ringgit atau 45 ribu rupiah kami sudah makan terlalu kenyang bertiga di tempat ini
Dan herannya bendera Malaysia banyak dijadikan hiasan diberbagai tempat yang menandakan kecintaan pada negaranya



Tentu saja acara kami jadi berantakan semua, yang tadinya pingin nasi Kandar jadi nggak mungkin lagi karena makan ditempat ini saja sudah sangat kenyang
April 12, 2009 at 06:36 · Filed under sosial

Gak sabar, rasanya ingin segera pagi agar bisa melihat-lihat pulau Penang yang sangat digemari orang Indonesia sebagai tempat mengecheck kesehatannya dan juga berobat. Begitu matahari terbit saya langsung turun sekedar berkeliling hotel. Melihat-lihat pantai serta rumah-rumah penduduk disekitar hotel. Suasana sunyi tidak tampak banyak anak bermain atau orang berjualan keliling kampung seperti di Indonesia.
Tak lama kemudian sebuah Bus Sekolah melintas, memutar tepat didepan hotel dan menjemput anak srkolah. Tidak terlihat banyak orang lalu lalang sibuk antar anak sekolah seperti di Jakarta


Setelah Bus Sekolah berlalu kondisi kembali sunyi. Mungkin ini salah satu contoh juga bagaimana seharusnya kita mengelola anak-anak sekolah agar tertib, rapi, disiplin dan yang jelas tidak menghamburkan kekayaan negara berupa pemborosan BBM yang seringkali justru sekolah adalah biang kemacetan lalu lintas di Jakarta ini.

Meskipun sebenarnya disisi kanan hotel ada akses jalan umum ke pantai namun hotel juga menyediakan Naza walk yang memungkinkanorang lewat menuju pantai untuk jogging atau kegiatan lainnya tanpa harus bayar. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan kondisi kita umumnya dimana garis pantai dikuasai oleh hotel dan jika ada sedikit ruang maka dimanfaatkan secara komersial oleh penduduk setempat.

Seperti gambar diatas tampak akses yang diberikan untuk masyarakat umum mengakses pantai. Setelah puas keliling-liling hotel saya kembali bergegas ke kamar hotel buat mandi dan sarapan. Saya cuma punya hari ini saja di Penang sebab nanti jam 9.00 malam saya harus berangkat lagi ke Kuala Lumpur pakai KTM (Kereta Tanah Melayu).
Selesai sarapan, kami segera bergegas ke halte bus terdekat yang mungkin hanya berjarak sekitar 75 meter dari hotel. Kebetulan jalan ini adalah jalan arteri yang tengahnya disekat sehingga orang tidak bisa nyebrang sembanrangan. Jalan terlihat lenggang dan kami tunggu Bus yang membawa kami ke George Town untuk melihat heritage building.

Ada juga bus yang tidak ber AC, atau kendaraan sedan tua yang diomprengkan untuk ngangkut penumpang, tapi saya pilih bus ber AC yang kelihatan cantik dari luar dan dalamnya dengan tarif jauh dekat 1.50 ringgit atau sekitar 5.500 rupiah

Akhirnya kami nggak sabaran juga didalam bus, ingin segera jalan-jalan di kota tua dan turun ketika bus berhenti di halte. Tanpa peta memang sulit juga cari Gedung dimaksud meskipun sudah bawa GPS. Hanya saja GPS bukan ditujukan untuk orang jalan kaki tapi untuk orang naik mobil yang ada jalan searah segala
Akhirnya kami putuskan untuk naik Taxi dan gedung-gedung peninggalan kolonial Inggris itu ternyata terletak di tepi pantai yang tertata dengan apik. Banyak burung gagak hitam dengan suaranya yang keras menemani pengunjung di tempat ini.

April 11, 2009 at 18:58 · Filed under sosial
Minggu pagi itu saya belum pegang mata uang Malaysia ataupun asing, saya hanya pegang mata uang rupiah yang jumlahnya juga nggak seberapa mengingat segala macam tetek bengek perjalanan sudah kami beli melalui internet. Pagi itu dengan becak mesin saya sempatkan jalan-jalan ke istana Maimun. Setelah puas keliling istana, kami naik becak lagi ke Kampung Keling. Setelah keliling kampung keling dan sempat ke Tahiti yang dulu ada tempat makannya sekarang tinggal toko kue saja. Sudah sepuluh tahun pak, kami tak ada tempat makan disini, demikian tutur pelayan.
Maka kami bergegas ke Sun Plaza yang seingat saya dibawah tangga masuk ada tempat penukaran uang. Ternyata masih tutup karena hari minggu dan biasanya baru buka jam 11 sampai jam 12 demikian kata satpam yang bertugas disana. Jelas kami tidak mungkin menunggu, maka kami jalan ke arah kampung keling. Disana ada tempat penukaran valuta asing, hanya saja tutup. Dan didepan toko yang tutup ada meja bertuliskan menerima penukaran mata uang asing yang ternyata dijaga oleh juru parkir disana.
Mau jual berapa dolar pak ? tanyanya pada saya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mendapat wewenang mengelola valuta asing. Wah saya butuh ringgit bukan mau jual ringgit atau dolar….. dan langsung dijawab wah kalau ity saya nggak punya, tapi kalau mau jual mata uang asing saya akan beli. Aneh juga ini dalam batin saya dan kebetulan ada abang becak mesin yang bilang saya antar pak, mungkin disana dah buka. Maka segera kami bergegas ketempat dimaksud dan membeli beberapa ringgit untuk sekedar makan dan taxi di Penang.

Rasa lega setelah mendapatkan mata uang ringgit, apalagi di Bandara Polonia tempat penukaran uang ternyata juga pada tutup.

Sampai di penang Bandara tampak bersih dan modern. Rasa lelah menanti penerbanganpun hilang dan rasa segar kembali merasuki badan ini. Petugas imigrasipun berlaku sopan dan tanggap. Meski pasport kami katanya punya masalah tapi setelah dipastikan bahwa kami punya tiket pulang dan juga penginapan maka dengan cepat juga disetujui saja. Saya dan istri tidak ambil petugas imigrasi berurutan tapi lain counter karena memang tidak ada antrian meskipun penerbangan tadi sebenarnya pesawat penuh
Dari bandara kami bergegas ke hotel Naza yang terletak di tepi pantai dan kami pesan melalui internet. Tidak seperti hotel di Indonesia yang sangat mengandalkan padat karya, maka hotel ini hanya dilayani oleh petugas front office saja. Ketika saya bilang mau extend sampai jam 6 sore karena kereta berangkat jam 9 malam dari Buttreworth menuju Kuala Lumpur, petugas malah menyarankan titp saja barang disini, anda boleh pergi-pergi dulu. Tap[i sudah kebayang besok kami perlu mandi dulu, karena sampai di KL rencananya juga langsung terbang ke Singapore jadi akan nggak mandi lama benar.
Lift lampunya padam saat tidak digunakan, baru ketika kita mau masuk baru lampu menyala tanda penghematan listrik yang kental. Barang-barangpun kami bawa sendiri tanpa ada bell boy. Kamar tampak bersih meski kamar mandi tanpak model tahun 70 an tapi sangat bersih. Berjalan kaki kedepan hotel ini ada tempat makan berupa food court. Dan makan malam kami berdua ternyata hanya habis sekitar 10 ringgit atau sekitar 30.000 rupiah.


Dari kamar hotel kami bisa saksikan keindahan pulau Penang dan kelihatannya juga banyak bangunan-bangunan besar sedang dibangun.


Next entries »