Angan-angan koe
untuk negeriku yang sangat kucintaArchive for Maret, 2009
Dengan Hati bukan Uang
Hal ini justru yang sering menjadi perdebatan perlu nggak segala sesuatu dihitung dengan rupiah yang nota bene akan kita samakan dengan dolar sabagai alat tukar terhadap barang dan jasa.
Atau kita akan ambil langkah tradisional, bahwa barang dan jasa tidak diukur dengan ‘uang’ tapi dengan simbol-simbol seperti dituakan didalam masyarakat mungkin bahasa jawanya ‘diajenii’ artinya apapun yang diinginkan, masyarakat sekitarnya siap membantu secara gotong royong.
Sebagian besar rakyat kita masih tukar menukar barang dan jasa dengan hati bukan uang, karena begitu bicara uang kita bisa dicap mata duitan atau mengkomersialisasikan lingkungan kita. Mancing dapat ikan, ya dibagi saja dengan para tetangga misalnya. Panen hasilnya di bagi pada yang ikut panen, semua memang bisa dilakukan dengan cara gotong royong saja.
Karena pada hakekatnya si A pegang rupiah 100 juta, minta pada si B bikin kursi bambu yang sangat baik dengan seluruh bahan bisa didapat di hutan, uang di tranfer ke B 100 juta. Bukankah poemerintah tidak kehilangan apa-apa disini ?
Pemerintah justru mendapat tambahan satu buah kursi bambu yang sangat baik. Demikian juga seandainya si B beli perkutut pada si C dengan nilai 100 juta kemudian seminggu berikutnya perkutut tewas. Pemerintah juga tidak rugi 100 juta bukan ?
Jadi rupiah atau kupon atau kesepakatan inilah yang sebenarnya berlaku dalam masyarakat suatu negara.
Sama halnya seperti dalam keluarga, kalau nggak mau nyuci sendiri ya bawa ke binatu…. bayar, kalau nggak mau masak sendiri ya datang ke restoran ….. bayar, kalau nggak mau bersih-bersih rumah sendiri ya cari pembantu… bayar yang semua ini kalau dikerjakan anggota keluarga ya nggak bayar.
Siapa yang harus pegang uang, mau masing-masing anggota keluarga atau mau orang tua ya boleh saja selama kebutuhan yang harus didapat dari luar keluarga dapat dipenuhi
Uang Parkir di Luar Negeri
Seperti apa yang saya tuliskan terdahulu bahwa mengelola keuangan keluarga juga banyak ragamnya. Ada keluarga yang sederhana hanya mengandalkan gaji bulanan, ada juga keluarga yang tidak lagi bekerja untuk uang tapi bagaimana uang bekerja untuk dirinya.
Pun demikian semua tidak bisa menghilangkan sifat dasar dari pengelolaan uang itu sendiri yakni harus ada income untuk keluarga dan ini sama saja untuk negara…. harus ada income untuk negara sebagai kekayaan kita bersama sebagai anak bangsa.
Jika anggota keluarga giat bertransaksi layanan barang dan jasa secara internal dan kita memberinya tanda engan rupiah atau kupon ini sama saja. Jika kemuadian salah seorang anak (si A) bertransaksi dengan anggota keluarga lain atau dengan negara lain maka anak itu akan mendapatkan uang. Uang ini bisa disimpan kepala keluarga untuk ditukarkan dengan kupon untuk memenuhi kebutuhan si A dalam keluarga. Bisa juga disimpan di bank atas nama anak (si A) itu sendiri.
Ketika ada anak lain (si B) yang mencoba menukarkan kuponnya pada orang tuanya untuk membeli bahan baku yang harus dibeli dari luar dengan ‘uang’, si orang tua tidak tersedia ‘uang’ karena sia A menyimpannya di bank atau diluar keluarga.
Kejadian ini tentunya berbeda kalau si A menyimpannya pada ayah. Ayah tidak perlu berhutang untuk memenuhi kebutuhan si B akan ‘uang’ yang berlaku di luaran. Kupon ini akan digunakan lagi oleh A manakala ia berhasil menjual lagi hasil produknya keluar keluarga. Demikian seterusnya.
Model dasar ini tidak akan berubah, bagaimanapun juga bentuk derivative transaksi yang mungkin bisa direkayasa manusia. Dan ini bisa menjelaskan uang parkir diluar negeri itu masalah bagi bangsa ini.
Logika Eksport
Coba pak dipisahkan antara bagus untuk orang-perorang dengan bagus untuk kita semua sebagai anak bangsa.
Untuk pengusaha eksportir memang menjadi bagus karena tadinya dari jumlah barang yang sama cuma dapat 9 M rupiah, sekarang dengan kurs baru dapat 12 M rupiah.
Tapi perlu diingat bahwa selisih 3 M yang diperoleh pengusaha eksportir bukan diperoleh dari luar karena yang diperoleh dari luar tetap saja 1 juta US $. Dengan kata lain 3 M itu adalah perlemahan daya beli orang-orang yang terlibat dalam proses eksport tersebut karena dengan meningkatnya kurs maka harga barang eksport naik sementara gaji tetapnya jumlahnya nggak berubah sementara kebutuhan barang import harganya naik. Tentu ini tidak akan tahan lama karena tentu mereka juga menuntut penyesuaian yang akhirnya akan berada pada daya beli seperti semula.
Korban disini adalah orang-orang yang bergaji tetap seperti PNS, ABRI dan pensiunan. Mereka tidak mudah mendapatkan perubahan gaji seperti di swsasta. Oleh karenanya kemudia terlalu banyak PNS, ABRI yang ngobyek bahkan korup. Meningkatnya pengalaman, pendidikan, jabatan tidak sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan karena termakan devaluasi dan inflasi yang tinggi.
Logika yang pak Amitz sampaikan “Dengan begitu penjual (yaitu Indonesia) cukup men-quote harga 750 ribu US$ untuk mendapatkan nilai 9 milyar rupiah yang sama, yang artinya Indonesia bisa menjual dengan harga murah (relatif terhadap US$) untuk mendapatkan untung yang sama!” Juga nggak kena. Karena yang dibutuhkan bangsa ini untuk bisa import adalah mata uang asing yang tidak diperlukan atau dissimpen di luar negeri oleh para penguusaha. Pemerintah memerlukan mata uang asing itu ditukar dengan rupiah untuk membiayai produksi dalam negeri dan mepersilahkan untuk digunakan importir untuk mengimport barang yang diperlukan.
Rupiah hanya perantara diantara kita saja pak. Kalau perlu rupiah kita sebut sebagai kupon internal saja, bahkan kalau kita mau gotong royong dengan tanda bukan uang juga bisa selama ada barang yang di jual keluar negara dan bisa dipakai untuk beli sesuatu dari luar negara.
Dari contoh yang anda berikan maka kecendrungan pembeli di luar negara untuk menawar misalkan 850 ribu saja kan sudah tambah keuntungan 100 ribu wong harga pokoknya turun jadi 750 ribu, ini juga besar sehingga ‘pendapatan’ pemerintah dari kebutuhan pengusaha akan rupiah juga berkurang dari 1 juta menjadi 850 ribu US $.
Jadi logika orde baru jelas ngawur….
http://groups.yahoo.com/group/AhliKeuangan-Indonesia/message/35330
Sekali lagi, model keluarga
Sebetulnya kalau kita mau memodelkan Negara mirip dengan bangun sebuah keluarga maka solusinya juga mudah saja.
Prinsip-prinsip dasarnya adalah :
- Anggota keluarga harus berada dalam keadilan tidak boleh ada yang kekanyangan dan ada yang kelaparan.
- Upaya distribusi kerja didalam rumah tangga terdistribusi dengan sebaik-baiknya.
- Jangan biarkan ada yang nganggur/minta-minta dan yang bekerja terlalu keras.
- Memasarkan semua hasil dari keluarga ke luar/tetangga lain untuk mendapatkan uang.
- Membeli barang/jasa yang tidak mampu diadakan keluarga itu sendiri dengan memperhatikan kemampuan (4)
Prinsip hidup berkeluarga tersebut kalau yang baru bisa cari uang kepala keluarga ya biar kepala keluarga, kalau istri bisa bantu boleh juga, kalau anak sudah tambah dewasa bisa bantu juga tambah oke … begitu juga negara.
Sekarang kondisi negara/keluarga kita adalah punya gaji 10 juta pegang kartu kridit 50 juta yang sudah dibelanjakan semua mentok limit. Tiap bulan harus bayar cicilan minimum 10 % atau 5 juta. Jadi dari gaji yang 10 juta cuma bisa belanja 5 juta. http://rachmad.kuyasipil.net/?p=21
Jadi yang perlu kita pertanyakan terhadap keluarga kita ini,
- Perlukah kita menghambat anggota keluarga untuk mendapatkan uang dari luar keluarga ?
- Apakah kita perlu menghambur-hamburkan barang yang ada di rumah padahal di luaran punya harga yang bagus ?
- Kenapa ada anggota keluarga yang nggak lapor kalau dia berhasil menjual sesuatu yang seharusnya mendapatkan uang yang ‘uang’ ini sebenarnya merupakan cadangan devisa karena untuk memenuhi aktifitasnya seperti bayar karyawan dan operasional yang dibutuhkan adalah rupiah. Dolar nya di parkir sebagai kekayaan bersama.
dan seterusnya …..
Masih Ingatkah Kalian … ?
Mari bercermin kembali dalam refleksi jiwa tahun 70 an Dimana diranah ganesha bertabuh genderang-genderang perang Masih ingatkah kalian akan nama seorang Rene Conrad ?Masih ingatkah kalian akan arti sebuah buku putih ?
Bangsa Indonesia sebenarnya bangsa yang begitu mudah melupakan suatu rangkaian cerita/peristiwa maka Opera Ganesha kali ini serasa menggugah ingatan kita akan suatu rangkaian peristiwa yang mau tidak mau semua akan saling berkait. Peristiwa 65, peristiwa 74 atau malari, peristiwa 78, peristiwa reformasi bukanlah suatu episode yang berjalan sendiri-sendiri. Semua merupakan rangkaian peristiwa yang saling berkait. Maka akan kita ingat apa yang pernah di ucapkan Bung Karno : “Jangan Lupakan Sejarah”
Maka kiranya Opera Ganesha dengan thema “Napak Tilas Gajah Kencana Meniti Kala” adalah sesuatu yang sangat tepat. Mudah-mudahan kata kala yang berati waktu ini tidak berkaitan dengan Jusuf Kala yang juga mencalonkan diri sebagai Calon Presiden tahun ini yang beberapa waktu lalu sempat menyentil peran alumni ITB.
Dalam catatan Wapres, di kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini tercatat ada tujuh menteri alumni ITB. Mereka adalah Hatta Radjasa, Purnomo Yusgiantoro, Jusman Safeii Djamal, Aburizal Bakrie, Jero Wacik, Rahmat Witoelar, dan Kusmayanto Kadiman.
“Jadi kalau ada jalanan macet, kecelakaan, dan lainnya ITB harus direformasi. Juga di bidang energi, dipegang oleh alumni ITB. Demikian juga Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Akan tetapi, mengapa minyak kita produksinya terus turun? Dan, mengapa juga listrik kita sering padam?” tanya Wapres.
Pun demikian marilah kita tengok bahwa beberapa mereka yang sekarang menduduki jabatan tersebut, terlebih di level bawahnya sebenarnya adalah generasi tahun 70 an dimana di ranah Ganesha bertabuh Genderang Perang. Ini adalah suatu konsekwensi logis bahwa tahun 1998 terjadi reformasi dimana generasi tersebut terhitung sejak tahun 70 an hingga 90 an adalah jangka waktu dua puluh tahun dimana umumnya generasi tersebut telah menguasai pergaulan politik yang memadai sehingga untuk mematangkan proses reformasi yang motornya adalah mahasiswa yang berjiwa muda dan siap mati juga sangat beralasan.
Generasi berikutnya adalah generasi 80 an yang hidup tenang dibawah naungan NKK/BKK. Beberapa menguasai panggung hiburan Indonesia seperti Purwa Caraka, Toni Sianipar, Ferina. Padahal sebenarnya generasi inilah yang mempunyai kesempatan lebih baik untuk menyiapkan Indonesia kedepan. Beberapa teman di era ini telah menjadi Dosen Senior, beberapa juga telah menduduki jabatan penting di berbagai BUMN dan juga era kedepan terlihat sangat demokratis dan tidak lagi mengandalkan intrik-intrik perjuangan.
Maka, siapkah beban tanggung jawab ini dipikul angkatan 80 an, Jika saja angkatan ini gagal, maka bisa dipastikan bahwa generasi 90 an yakni generasi reformasi akan siap menumbangkan dominasi generasi 80 an karena ketidak sabaran melihat langkah yang tidak segera menampakkan perubahan serta hasil bagi kesehjahteraan rakyat Indonesia.
Gajah Kencana Meniti Kala
Judul diatas diambil dari Opera Ganesha dengan thema “Napak Tilas Gajah Kencana Meniti Kala” yang diadakan di Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) pada tanggal 8 Maret 2009 jam 19.00 – 21.00. Didalam undangan dicantumkan dress code : Hitam/Gelap. Entah kenapa dipilih warna duka, padahal panggung tampak penuh warna perjalanan dari waktu ke waktu Institut Teknologi Bandung.
Setiap kurun waktu 10 tahun sejak peresmian Institut Teknologi Bandung pada tahun 1959 mempunyai warna sendiri-sendiri. 1959-1969 yang pada periode ini diwarnai dengan perpecahan di dalam tubuh mahasiswa akibat adanya berbagai kelompok yang berafiliasi ke partai. Tentu puncaknya adalah peristiwa 1965. Untuk periode ini diambil kata kunci KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)
Periode berikutnya diambil 1969 sampai 1979, pada periode ini ditandai dengan tewasnya Rene Conrad setelah pertandingan sepak bola antara ITB melawan Akabri. Dan juga pada periode ini muncul Buku Putih dari komite Pembelaan mahasiswa. Pada tahun 1978 mahasiswa berjuang habis-habisan melawan Suharto.
Periode berikutnya 1979 sampai 1989 yang ditandai suasana tenang dan suka cita seperti dalam narasi pada video berikut ini. Simphoni lagu dan irama kegiatan mahasiswa penuh irama naik dan turun penuh tawa dan kata NKK/BKK penuh tuah disana
Mungkin karena santainya generasi ini maka lagu yang dipilih untuk menandai opera pada perioda ini adalah naik delman seperti tayangan berikut.
Generasi inilah yang sekarang mulai banyak bermunculan di berbagai jabatan-jabatan strategis di negeri ini. Kita memang berharap banyak untuk segera terjadinya perubahan-perubahan yang mendasar demi terbangunnya suatu negara yang gema ripah, yang akan mampu mengakomodasikan generasi yang akan datang yang setiap periode 10 tahunnya memiliki kata kunci Reformasi, BHMN, BHPT dan tentu saja WCU (World Class University).
Kampus ITB sendiri dengan menggelar acara ini yang produsernya adalah Rudi Hermawan Karsaman (SI-78), rasa-rasanya sih sudah memiliki infrastruktur yang sangat memadai untuk mencapai WCU. Kolaborasi total Unit Kegiatan Mahasiswa yang ditata oleh Purwacaraka (TI-79)sebagai Penata Musik bisa tampil secara bersamaan diatas panggung yang memang sangat memadai dan yang jelas bukan kelas GSG (Gedung Serba Guna) apalagi Lapangan Basket :-)
