Bandara Sultan Iskandara Muda memang tampak cantik. Meskipun baru difungsikan sebagian saja, namun arsitektur bangunan ini jauh lebih besar dari bangunan lama yang memang sudah jauh dari layak sebagai Bandara Internasional. Perjalanan dari Jakarta jika langsung menuju Banda Aceh akan ditempuh dalam waktu 2 jam 50 menit dan jika harus transit dulu di medan akan lebih lama lagi. Tidak ada perbedaan waktu antra Jakarta dan Banda Aceh. Dan lagi banyak hotel bintang 3 keatas yang baru dibangun pasca Tsunami (Hotel Oasis, Hotel Nangro, Hotel Hermes).
Jika kita berangkat dari Jakarta dengan Lion Air yang berangkat sekitar jam 9.00 pagi maka akan tiba di Banda Aceh sekitar jam 12.00 siang. Waktu yang tepat buat cari makan siang. Memang ada beberapa makanan khas dan enak di kota ini. Namun begitu mendarat pikiran saya langsung tertuju pada Sop Sumsum Langsa
Langsa memang masih masuk Nangro Aceh Drussalam dan dahulu merupakan Kabupaten Aceh Timur yang berbatasan dengan Sumatera Utara, namun sekarang telah jadi Kota yang berdiri sendiri
Seperti juga di Medan, pilihan minuman bisa timun serut yang tentu saja menjadi pilihan utama menemani sop siumsum.
Ada banyak pilihan menu selain sop sumsum, tapi semua berbau sop Jadi memang cocok buat makan besar. Pada sore hari mungkin kita bisa pergi ke Ulee Kareng untuk menikmati sodapnya kopi Aceh. Ditempat ini Kopi ditemani berbagai makanan ringan dan yang khas Aceh adalah Martabaknya. Martabak Aceh agak berbeda dengan martabak Bandung. Kalau Martabak Bandung tepung sebagai alas penggorengan kemudian telur dan ramuannya dibungkus tepung tersebut, maka martabak Aceh sebaliknya. Tepung dibungkus telur dadar
Malam harinya kita bisa coba makan Mie Kepiting. Pilihan bisa kepiting atau udang sebagai teman mie rebus atau goreng. Tentu ini baru sebagian saja dari makanan Aceh masih ada gule kambing di depan Kantor Gedung Keuangan Negara serta Ayam Tangkap dan banyak lagi tentunya
Sungguh sangat berbeda jaman saya kecil dengan anak-anak jaman sekarang. Seingat saya waktu kecil sangat mengharapkan diajak jalan-jalan oleh orang tua. Bahkan kalau orang tua pergi tanpa kami ikut, rasanya sungguh sangat pedih
Perasaan ini juga yang membuat saya selaku orang tua selalu ingin menyenangkan hati anak-anak dengan mengajaknya jalan-jalan. Tapi apa lacur, anak sekarang merasa lebih nyaman ditinggal di rumah daripada harus berpergian. Hal ini terjadi mungkin karena terlalu sering diajak jalan-jalan
Padahal kalau dipikir kurang apa mereka ikut jalan-jalan. Sudah pasti naik mobil yang ber AC. Jok bisa di putar berhadapan untuk mengisi aktifitas mereka di perjalanan. Sementara dahulu saya naik kendaraan umumpun jadi. Bahkan suatu ketika saya merengek-rengek ingin ikut jalan-jalan sama tetangga di Surabaya ke Mojokerto yang menggunakan mobil tangki air. Mobil tangki ini, tangkinya dikosongin dan dasarnya diberi alas buat duduk sementara lubang diatas dibuka biar udara mengalir dan ada cahaya Tentu saja dilarang keras oleh orang tua saya.
Liburan kemarin kembali anak dan keponakkan saya ajak makan durian di Pandegelang. Judul yang terpapampang memang cukup besar “Durian Jatuhan Haji Arif (DJHA)”. Tempatnya cukup lumayan yang jelas berbeda dengan cara penyajian durian lain yang banyak kita jumpai disepanjang jalan.
DJHA memberi harga pasti 40 ribu, 50 ribu dan 75 ribu berdasarkan besar durian dan bicara manis. DJHA juga menyediakan tempat duduk lebar untuk leyeh-leyeh serta air mineral gratis. Ditambah lagi wastafel buat cuci tangan. Semua dikelola dengan benar sehingga membuat suasana menjadi nyaman.
Dan yang jelas cukup tiga butir @ 50 ribu sudah lebih dari cukup untuk kami santap ber sepuluh karena memang mantab pisan.
Memang sebelum sampai tempat ini kami sempat makan dulu sop ikannila di RM Alon2 di Serang, meski rumah makan ini pasang tulisan besar-besar Soto Ikan tapi yang enak sup ikan dan juga bebek gorengnya
Pulang dari DJHA kami masih sempatkan diri untuk mampir ke Cilegon sekedar bawa buat makan malam dirumah, Sate Bebek dan sup bebek Cibeber yang ine tempatnya memang agak sulit. Sebelum naik jembatan yang melintang rel Kereta Api dari Tol Cilegon Timur, belok kiri masuk sampai mesjid, kira-kira 800 meter. Nah dikiri ada nih sate bebek yang lumayan juga sih
Gambar-gambar yang saya buat di Museum Tsunami Banda Aceh menggunakan camera Nikon D90, memang camera ini agak lumayan unik. Karena type DSLR namun juga dilengkapi dengan kemampuan video. Banyak komentar seputar kemampuan pembuatan video dari kamera ini, untuk itu saya buatkan sedikit video kemudian meng ‘upload’ nya ke YouTube. Proses upload sangat mudah, tinggal tancapkan saja SD card ke komputer kemudian buka dengan Picasa 3 yang bisa di download dari internet. Ketika gambar berbentuk video maka muncul instruksi untuk upload ke YouTube. Jika punya account ya upload saja dan beres tanpa proses modifikasi jenis file
Berikut adalah sedikit gambaran video yang direkam dengan Nikon D90. Dengan lensa Tamron 18-200 mm memang dengan mudah kita bisa membuat gambar dengan latar belakang yang blur
Selain itu kamera ini juga dilengkapi GPS yang tentunya akan memudahkan geotag, cuma yang ini belum saya coba. Harga Body Only di Jakarta Rp. 11.600.000.- Sementara ini barang agak sulit di peroleh di Jakarta kelihatannya agen resmi belum memasukkan barang ini.
Museum yang di design oleh Arsitek muda Ridwan Kamil ini memang luar biasa. Memang gedung ini belum diresmikan. Namun kami sebagai konsultan manajemen konstruksi memiliki kesempatan untuk sedikit membocorkan keindahan gedung ini.
Sudah ada dua karya Ridwan Kamil dimana kami berposisi sebagai manajer konstruksi. Yang pertama adalah gedung Bakrie Tower yang setiap lantainya diputar setengah derajat, kemudian Museum Tsunami ini yang lagi-lagi akan hadir sebagai karya seni yang cukup indah dan menawan.
Tentu saja generasi tua ini sangat berharap bahwa akan muncul generasi-generasi baru yang mampu menghadirkan karya indah sebagai aksesoris negeri yang indah ini
Sebetulnya saya senang saja ketika anak pertama saya ingin masuk IPS. Ini karena saya yakin bahwa Indonesia ini butuh keahlian disegala disiplin. Generasi berikutnya tidak boleh menganak emaskan satu jurusan saja, karena pada hakekatnya kesejahteraan justru bisa diperoleh pada saat seluruh kebutuhan sosial kita terpenuhi dari orang-orang yang memang mempunyai minat, mempunyai talenta, mempunyai pendidikan dan pengalaman pada bidang-bidang yang memang dicintainya dan kita butuhkan bersama untuk mencapai suatu tingkat kesejahteraan.
Maka ketika dia mau kenaikan ke kelas dua SMA dan penjurusan, ibunya memohon dia masuk IPA dengan catatan kamu boleh masuk Jurusan Sosial, nanti setelah lulus SMA. Tapi si anak protes, untuk apa belajar pelajaran yang nantinya tidak diperlukan. Maka kemudian munculah bahwa ini ‘instruksi’ yang harus dipatuhi dari si Ibu,
Saya sendiri sebenarnya tidak suka jika bapaknya presiden anaknya juga mau jadi presiden. Jika bapaknya raja anaknya juga jadi raja, rasanya jaman itu sudah harus kita tinggalkan oleh karenanya saya biarkan saja apa maunya.
Herannya saat milih perguruan tinggi, tiba-tiba saya disodori pilihan ’sipil’. Kontan saja saya bertanya untuk apa kamu masuk sipil ? Eyangmu Sipil, Bapakmu Sipil, Ibumu Sipil masak kamu mau sipil lagi. Akhirnya dia benar-benar masuk Fakultas Sipil
Maka ketika saya buka-buka file foto lama, saya jumpai banyak kecendrungannya untuk mengikuti lagak dan gaya saya seperti pada foto diatas. Foto ini diambil istri saya saat dia lihat anaknya mengikuti gaya saya. Setelah saya dalami lagi, hobinya, minatnya ternyata juga mirip-mirip dengan saya. Padahal ibunya sudah marah-marah ketika anak itu tidak terlihat minatnya. Ia ingin anaknya ikut les musik atau kegiatan lainnya. namun tidak sedikitpun berminat.
Jadi kelihatannya tanpa disuruhpun anak akan mengikuti jejak orang tuanya. Jadi hati-hatilah mungkin sebagian besar kelakuan kita yang tidak kita sadari akan ditiru habis oleh anak-anak kita baik yang positif maupun yang negative
Kali ini seorang CEO dengan wajah selalu tersenyum mendekati saya. ‘Pak Rachmad, bagus gak mall kita, saya pingin membuat semua pihak baik itu shareholder, pengunjung, tenant, konsultan, kontraktor, pengelola semua tersenyum’
Semua Pihak Tersenyum
Inilah kira-kira motivasi pelayanan yang banyak tertanam dibenak teman-teman keturunan cina. Kita yang mengaku pribumi ini kadang merasa sangat tidak nyaman bekerja dengan mereka karena entah mengapa dan mungkin karena kita bekerja untuk ‘uang’ bukan untuk mengabdikan diri kita pada bidang profesi kita. Kepuasanan kita umumnya mendapatkan ‘uang’ entah itu receh atau dalam komitmen jumlah besar bukan pada hasil kerja, atau kalau perlu tanpa kerja tapi dapat ‘uang’ dan ini memang gejala umum yang membelenggu kita.
Terhitung mulai habis lebaran, tanggal 13 Oktober 2008 tepatnya, saya harus turun langsung memimpin rapat penyelesaian proyek untuk bisa dibuka pada tanggal 5 Desember 2008. Semua pihak tidak yakin bahwa proyek bisa selesai melihat kondisi proyek serta lahan-lahan kerja yang terbatas serta sampah yang masih menggunung, Namun target itu seperti harga mati. Diawali dengan marah-marah nya petinggi APG terhadap Project Director mereka. “Tidak ada prajurit yang bodoh, yang ada adalah Jendral yang tolol” …. “Seorang prajurit diterima melalui proses seleksi yang bodoh tidak diterima, adalah tugas Jendral untuk mendidiknya, memberinya tambahan ilmu, kalau masih bodoh juga pecat” … “Jadi nggak ada itu prajurit yang bodoh kecuali jendralnya dongok”.
Menghadapi suasana demikian tentu tidak nyaman bagi semua pihak. Banyak yang kebakaran jenggot, namun saya berusaha tenang saja. Setiap hari saya keliling proyek, mengambil gambar proyek dan membahasnya dari jam 6.30 sampai jam 9.00 malam. Dan itu saya lakukan setiap hari. Saya buat presentasi yang sangat mudah dicerna semua pihak sehingga mudah ditindak lanjuti, Mulai dari jumlah tenaga kerja masing-masing kontraktor, ketersediaan material, ketersediaan peralatan. Target sistem beroperasi, target perijinan semua saya kemas dengan mudah dan bisa jadi pegangan semua pihak. Selain Adhi Karya maka kontraktor spesialis kebanyakkan PM atau Pemiliknya langsung adalah keturunan cina. Mereka inilah yang sangat menjaga harga diri serta memegang komitmen yang luar biasa. Sering terjadi masih dalam pembahasan, instruksi melalui HP untuk di eksekusi sudah meluncur dan hal ini untungnya bisa diimbangi bahkan cendrung menjadi motor penggeraknya adalah Adhi Karya.
Dalam perjalanan sampai tanggal 13 Oktober, PM dari kami sudah diganti, kemudian disusul PM dari Adhi Karya kemudian disusul lagi PM dari Owner. Semua ini akibat kebimbangan bahwa proyek dapat berjalan dengan baik dan friksi-friksi setiap pihak karena memang belum padunya tujuan.
Baru ketika proyek sudah terlihat bentuknya baru keluar kata-kata saya ingin ‘semua pihak tersenyum‘ dan hal ini benar terjadi saat peresmian mall dibuka untuk umum. Semua pihak puas. Kita memang harus banyak belajar bagaimana kita bisa melayani dengan sepenuh hati berdasarkan profesi kita untuk mencapai kepuasan pengguna profesi kita dan uang hanyalah alat untuk bertransaksi barang dan jasa yang mana masing-masing barang atau jasa akan maksimal mutu dan mafaatnya jika dikerjakan oleh setiap pihak yang ahli dalam bidangnya dengan sungguh-sungguh. Saya memang banyak belajar dari mereka yang keturunan ini disini Mereka memang luar biasa.
Siang tadi saya ke Cilegon tepatnya ke Bakrie Fabricator yang berada di Bojonegara, Banten. Dalam perjalanan saya lihat berbagai keindahan disana. Ada perahu nelayan dengan berbagai bendera partai.
Namun ada juga pemandangan laut biru serta daerah pegunungan yang tampak asri. Mungkin kalau hanya dibandingkan dengan daerah Dover, England, pada musim penghujan seperti ini bukit-bukit didaerah ini jauh lebih bagus. Tinggal ditambah peternakan sapi saja sudah deh, cakep banget :
Sayangnya kalau lensa kita geser sedikit ke kiri maka akan tampak kegiatan penambangan batu guna mengisi kebutuhan pembangunan pelabuhan Bojonegara. Mungkin bukit yang indah ini akan segera lenyap, begitu juga para penggarap tanah seperti persawahan ini juga akan segera hilang sejalan dengan berfungsinya pelabuhan tersebut.
Saat pesawat mulai mengurangi kecepatan dari 850 km/jam menjadi sekitar 250 km/jam dan mengurangi ketinggian dari 11.500 m menjadi sekitar 3.000 m, pesawat bersiap mendarat di bandara Juanda. Saya lihat keluar jendela dan terlihat Lapindo yang cukup menyita perhatian kita semua.
Sebenarnya kalau dilihat dari atas, area itu tidaklah luas, kira-kira sekitar 2 km x 2 km saja. Namun demikian keberadaan proyek ini telah mengorbankan Jalan tol yang sedianya keluar di Gempol beralih menjadi keluar di Porong dan tentunya juga pemukiman penduduk yang ada di area tersebut.
Memang sepintas Lapindo ini meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat, mulai dari yang memanfaatkannya sebagai obyek wisata dengan membuat tangga seperti gambar diatas dan mengutip bayaran perorang Rp. 3.000,- untuk bisa melongok lumpur.
Lahan parkir, penyewaan payung baik saat terik maupun saat hujan. Ojek menuju titik bencana dan banyak lagi kegiatan ekonomi yang ada diseputar bencana ini.
Namun pernahkah terpikir bahwa kegiatan ekonomi ini hanyalah tukar-menukar barang dan jasa secara internal. Ada kerugian besar dibalik peristiwa ini yakni terhambatnya skala ekonomi yang lebih besar yakni beban berat terhadap barang-barang eksport serta pemborosan BBM akibat kemacetan lalu lintas yang sebenarnya semuanya adalah devisa dan merupakan kekayaan bangsa ini yang dihamburkan percuma.
Dengan menata kawasan ini secara lebih apik dan menyiapkan area 2 km x 2 km sebagai awal penataan yang merupakan relokasi serta melengkapi infrastrukturnya dengan sangat baik, nantinya semua bisa jadi lebih tertata dengan baik dan tentunya membiarkan luapan lumpur ini menjadi hutan kota sebagai kelengkapan Kota Porong Baru nantinya.
Sudah cukup lama juga saya tidak berinteraksi secara langsung dengan masyarakat Surabaya. Padahal pergaulan hidup saya sejak anak-anak hingga lulus SD banyak dipengaruhi sikap Suroboyoan. Ketika tahun baruan di Surabaya saya baru tersadar lagi, bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak dimiliki kota lain yakni berani menyampaikan sesuatu pada orang lain, jika ada hal yang dianggap tidak berkenan di hatinya secara langsung dan apa adanya.
‘Mokong’ adalah ungkapan yang disampaikan diantara kawan-kawan untuk menilai seseorang yang dinilai kurang lazim kelakuannya. Nah mereka yang berkelakuan kurang lazim ini dinilai ‘nakal’ sehingga seseorang yang kita sebut ‘nakal’ layak diberi ‘pelajaran’. Pelajaran bisa mulai dari di ’siwak’ (tidak diajak ngomong), ’siwak jenggekan’ (tidak diajak ngomong dan salah satu tangan harus harus disilangkan 90 derajat di punggung, jika tidak sah hukumnya untuk di totok dari belakang) atau di tawur (keroyok ramai-ramai).
Saya baru tersadar saat lagi ambil foto di sebuah resto yang tiba-tiba ditegur seseorang :’Lha opo moto-moto’ (Ngapain ambil foto?). Dibanyak tempat jarang saya dapat teguran keras seperti ini. Dan spontan saya jawab: “opo-o, gak oleh tah…. sambil saya tatap matanya
Adu nyali seperti ini memang hal yang biasa dulu saat saya masih di Surabaya Dan kejadian ini langsung saya diskusikan dengan salah seorang anggota rombongan yang kebetulan SMA nya di Surabaya. Entah karena terpengaruh oleh kejadian ini maka kamipun menjadi lebih waspada dan mencoba untuk lebih luwes mengingat bawa rombongan besar
Sampai di Nguling, Probolinggo kamipun makan siang ditempat ini. Suasana sangat ramai dan meja-meja di luar ruang ber ac jarang yang berjumlah kursi banyak, sementara di ruang ber ac masih berantakkan. Maka sementara kami duduk diluar sambil nunggu ruang ber ac di bereskan dulu. Sampai lima pelayan kami minta membereskan tapi mereka seperti robot, tidak ada yang bergerak kedalam ruang tersebut. Kamipun mulai merasa cemas jangan-jangan kedatangan kami memang tidak diharapkan.
Rupanya rasa cemas kami harus kami buang jauh-jauh saat kami mulai di layani, mereka sangat komunikatif dan serba cepat. Sebelum dilayani jangan minta dilayani dulu, ini mungkin cara mereka
Pada saat pindah-pindah itulah sebuah communicatot rekan saya tertinggal, kami sibuk mengurut dan mencarinya. Dari mobil sampai wc diurut hasilnya nihil. Saya langsung telpon nomer tersebut dan rupanya ada yang ngangkat. Kami sedikit berdiskusi, rupanya dia ingin meyakinkan bahwa saya benar pemilik HP tersebut. Akhirnya kami temukan HP itu di tangan anak mantu pemilik Rawon Nguling. Rupanya tertinggal saat pindah tempat tadi
Maka kamipun jadi tak heran jika di restoran kepiting cak Gundul Pandaan bahkan sampai cabangnya di Kelapa Gading ada pesan : “PELAYAN TIDAK SOPAN ATAU KURANG MEMUASKAN SEGERA HUBUNGI CAK GUNDUL ” dan “MASALAH BELUM BERES JANGAN TINGGALKAN TEMPAT”
Tulisan tersebut diatas ada di kaos sablonan yang mirip dagadu Jogja atau yang di awalnya dulu di Bali yang dijual di restoran Inggil di belakang Kantor Wali Kota Malang. Malang memang kota penuh kenangan bagi saya , terlebih Perusahaan saya juga menangani pembangunan Hotel Santika Malang. Maka semakin komplitlah bahwa kota dimana saya pernah bermukim selalu tak lepas dari layanan jasa yang saya berikan. Sejak lulus saya langsung ke Medan karena di kota ini juga saya pernah bermukim saat SMP. Saya nangani PMC Zone I Sumatera Area sementara istri saya nangani pembangunan kampus USU. Kalau gak salah Fakultas Ekonomi dan Auditoriom (Rektorat) diantara seluruh paket yang Ciriajasa tangani sekitar 24 paket pembngunan sekitar tahun 1987 an
Jika ingin lihat lebih banyak foto, klik foto duakali
Jelas bahwa setiap kali ke Malang maka hotel inilah yang menjadi tujuan saya. Dari segi tempat sebenarnya lokasinya nggak terlalu bagus karena berada sedikit keluar kota yakni di daerah Blimbing, namun kota Malang bukanlah kota yang besar, sehingga untuk ke Kayu Tangan (Basuki Rachmat) cuma perlu sekli naik angkot yang paling makan waktu 10 menit saja:-)
Sama juga dengan Bandung yang berada di lingkung gunung, maka malang juga merupakan dataran tinggi yang berada di lingkung gunung. Di sebelah barat terdapat Gunung Kawi, di sebelah timur Gunung Semeru, di sebelah barat daya Gunung Arjuna, serta Sungai Brantas membelah kota.
Entah mengapa sejak kecil jika sya lihat gunung Kawi iniseperti melihat orang terbujur dengan kaki di sisi utaranya.
Arjuno Barat Daya, Semeru dan Bromo disisi Timur
Jelaslah bahwa sungguh Malang bagi orang malang yang tidak pernah ke malang. Karena pada dasarnya Malang memang kota yang sangat indah dan dibangun dengan sungguh-sungguh, maka sangat sayang jika dalam perkembangannya bangsa ini justru mengacak-ngacak apa yang sudah dirintis sejak awal yakni memberikan daerah terbuka agar gunung-gunung itu tetap dapat dinikmati dari kota. Pun demikian konsensi diseputaran stadiun Gajayana yang kemudian dananya mungkin buat bangun Stadiun sementara developer boleh bangun Mall yang tinggi besar mungkin juga perlu jadi pertimbangan estetika kota ke depan