inicio mail me! sindicaci;ón

Angan-angan koe

untuk negeriku yang sangat kucinta

Archive for Desember, 2008

Parkir di RUKO

Agak terkejut juga saya ketika pagi tadi mampir di ATM BCA di Jalan Fatmawati dekat  Pasar Mede. Ada bangunan baru yang setelah saya amati ternyata merupakan sarana parkir bertingkat. Bangunan biru/kuning ini berada dihalaman parkir ruko ini kelihatannya cocok untuk ruko yang biasanya kesulitan parkir.

Kalau lihat dari penomorannya seperti hanya sampai angka lima sementara secara visual kelihatannya bisa sembilan mobil dengan catatan satu harus digeser dulu kalau mau keluar yang diatas.

Pada bagian paling bawah seperti pada gambar diatas jelas hanya bisa untuk dua mobil karena hanya ada dua tempat parkir yang bisa digeser arah horisontal diatas rel dan tidak dikaitkan dengan katrol arah vertikal :-)

Entahlah dia bisa untuk 9 mobil, 8 mobil atau memang maksimum cuma lima ? nanti kalau sudah nggak liburan bisa ditanyakan lebih detail termasuk harga dan lamanya instalasi :-)

Ora Nyekrus

Tentu masih ingat olok-olok cerita dari Jawa yang ketika menyuruh PRT beli ‘Orange Crush’ yakni limun jeruk yang sangat bersoda sehingga rasanya sodanya dalam bahasa jawa disebut nyekrus, maka setibanya di toko sang pembantu meminta Orange Crush yang dibahasa haluskan menjadi ‘Tumbas limun sing mboten nyekrus’… (beli limun yang tidak nyekrus) … padahal semua limun pasti rasanya nyekrus.

Saya jadi teringat cerita ini lagi ketika tadi pagi sempat jalan kaki di Kebun Binatang. Setelah satu jam keliling kebun binatang akhirnya didekat pintu keluar saya sempatkan beli minuman. Seperti kita pahami bersama bahwa membuat poster dalam bentuk digital printing sekarang ini terbilang murah dan cepat . Banyak banner yang warna-warni dan menarik perhatian kita. Tapi mungkin kalau kita lihat sepintas memang tidak ada yang janggal. Tapi kalau diperhatikan dengan seksama maka bisa terlihat seperti gambar dibawah ini :

Mungkin karena  binatang yang ada dikebun binatang sentimen pada pengunjung maka ada menu yang bernama “ORANG JUICE” (jus orang). Tapi kesalahan ini sepertinya berusaha diperbaiki dan di bagian paket hemat kita jumpai lagi “Ayam + Nasi + Orage Juice

Pada pagi hari suasana masih sepi pengunjung memang enak
buat jalan atau bersepeda

Tempat penyewaan sepeda

Jalan Pagi di TMII

Jalan pagi merupakan salah satu kegiatan rutin yang saya lakukan. Olah gerak ini memang relatif murah, karena nggak perlu apa-apa dan cukup jalan saja. Hanya saja kalau lagi bosan memang cari tempat yang lumayan buat jalan saja :-) . Beberapa tempat yang agak enak buat jalan pagi bisa disekitar rumah,  Kebon Binatang Ragunan, Kebon Raya Bogor, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) atau di Ancol (Taman Impian Jaya Ancol).

Tadi pagi saya coba jalan di Hutan Kota Bumi Serpong Damai, tapi mungkin karena ini hari Minggu dan juga hari libur panjang jadi suasananya terlalu ramai buat jalan kaki.

Nah kali ini saya jalan kaki di TMII, sebelum jalan makan dulu di pecel Madiun, ya sekedar makan Rawon dan telur Asin. Selesai jalan sambil ambil beberapa foto.

Jalan pertama  didekat pecel Madiun tentu saja kita berada daerah Kalimantan terus jalan ke pintu luar sampailah kita di paviliun Sumatera Utara.

Tentu saja jalan sambil buat foto tidak membuat istri saya nyaman, maka saya biarkan saja kami berjalan sendiri-sendiri. Ternyata memang sudah agak lama juga saya nggak kunjungi TMII ini. Ada beberapa bangunan baru sejalan dengan bertambahnya propinsi di Indonesia. Paviliun Kepulauan Riau dan juga paviliun Bangka Belitung dan mungkin juga masih banyak lagi. Hanya saja yang terlihat oleh saya dua propinsi ini.

Yang juga membuat saya agak heran ternyata Mantan Penguasa Republik ini yang dinyatakan dalam kondisi sakit, ternyata juga masih sempat meresmikan Taman Budaya Tionghoa pada tanggal 8 Nov 2006 :-)

Indonesia dan Masa Depannya

Ada seorang warga negara asing yang berkunjung ke Indonesia dan terheran-heran, bagaimana bisa membuat Indonesia menjadi negara yang miskin ? Tentu membuat Indonesia di kategorikan negara miskin bukanlah hal yang mudah mengingat alamnya menyediakan apapun yang dibutuhkan oleh warganya. Jadi untuk membuat Indonesia menjadi negara miskin memang diperlukan strategi yang jitu.

Awalnya saya mengira bahwa Indonesia alamnya demikian bagus hanya ada di Jawa Dwipa (Jawa) dan Swarna Dwipa (Sumatera), karena memang baru kedua pulau ini yang sudah saya singgahi. Namun sejalan dengan bertambahnya umur, hampir seluruh pelosok negeri telah saya kunjungi dan hampir seluruh alam di Indonesia sebenarnya seragam yang umumnya berupa hutan tropis. Memang ada beberpa kombinasi seperti padang rumput bahkan gunung ber salju abadi, namun keberadaanya hanyalah menambah kekayaan keaneka ragaman alam Indonesia. Dengan kata lain memang agak sulit jika kita harus menjadi negara yang miskin :-)

Menjadikan Indonesia negara miskin perlu effort yang luar biasa besar terutama harus membuat rakyatnya sangat bodoh sehingga tidak paham apa arti kesejahteraan dan yang kedua menjuali seluruh kekayaan alam Indonesia dan menyimpan uangnya di luar negeri. Dengan cara ini maka secara sistematis rakyat menderita dua hal, pertama inflasi yang tinggi dan devaluasi mata uang rupiah yang juga luar biasa besarnya. Hanya saja masih perlu kita pikirkan bagaimana ini terjadi toh batu bara, ikan laut, karet, teh, gas, minyak bumi, kayu juga luar biasa besar jumlahnya. Jadi memang harus ada usaha sistematis membuat negara ini menjadi miskin dan kelihatannya memang perlu kita gali hal ini karena Indonesia pada dasarnya bukanlah golongan negara-negara miskin di Afrika.  Ada ratusan pabrik gula yang tidak ditangani dengan baik dan lebih mengutamakan import gula. Ada banyak sumber minyak dan gas yang tidak dikelola sendiri tapi lebih mengandalkan modal asing. Ada ribuan kilometer rel kereta api yang dimatikan fungsinya.

Ambisi Mataram ke Tiga

  • Mataram I atau Mataram Lama, nama sebuah kerajaan di Jawa Tengah pada abad ke-9 sampai ke-10 Masehi
  • Mataram II atau Mataram Baru, nama sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang didirikan pada abad ke-16 Masehi dan sekarang terpecah menjadi empat kerajaan kecil; Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman

Nampaknya Suharto memang punya ambisi untuk melanjutkan tradisi Mataram dan menjadikan dirinya Raja Mataram III yang juga perlu dimakamkan di Astana Giri Bangun yang dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Mangadeg Surakarta, dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan sisa jenazah Soemaharjomo (ayahanda Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.

Ini sebenarnya hanya mencontoh saja Sultan Agung. Menjelang tahun 1645 Sultan Agung merasa ajalnya sudah dekat. Ia pun membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram mulai dari dirinya. Ia juga menuliskan serat Sastra Gending sebagai tuntunan hidup trah Mataram.

Maka tak dapat di pungkiri bahwa dalam menjalankan kekuasaannya Suharto memang menggunakan cara yang feodal. Cara ini terbawa-bawa merasuk sampai hampir diseluruh sendi kehidupan bermasyarakat. Dimulai dari militer yang sangat mengabdi pada atasannya sampai juga terbawa di kampus dimana senioritas menjadi suatu harga mati yang harus dipatuhi.

Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan di mana seorang pemimpin, yang biasanya seorang bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan juga tetapi lebih rendah dan biasa disebut vazal. Para vazal ini wajib membayar upeti kepada tuan mereka. Sedangkan para vazal pada gilirannya ini juga mempunyai anak buah dan abdi-abdi mereka sendiri yang memberi mereka upeti. Dengan begitu muncul struktur hirarkis berbentuk piramida.

Dari pendefinisian yang saya ambil dari wikipedia tersebut diatas, maka dengan mudah kita bisa melihat bahwa apa yang dilakukan Suharto tak lebih dan tak kurang adalah mengimplementasikan hal tersebut diatas. Setiap kementerian memiliki dana non budgeter yang dikumpulkan dari upeti yang dikoordinasikan oleh para pinpro dan pinpro atas nama atasannya mengolek dana dari orang-orang yang mendapatkan kerja dari pemerintah.

‘Mendapat kerja’ dari pemerintah inilah yang jenisnya sangat banyak dan luas, bisa berupa konsensi, bisa berupa tata niaga dan bisa juga berupa proyek. Dan semua ini hanya di kerjakan oleh kalangan tertentu yang dianggap loyal saja.

Tentu saja pengelolaan negara model begini menyalahi prinsip hidup berbangsa negara. Apa lagi banyak peraturan yang memang di rencanakan untuk memudahkan pengamanan-pengamanan hasil upeti dan memungkinkan untuk disimpan di luar negeri, maka jelaslah sudah bahwa rakyat menderita inflasi dan devaluasi yang terus menerus. Dan cara ini sangatlah efektif untuk membuat banyak rakyat menderita kemiskinan dan sedikit saja yang kaya berlebihan dan punya tabungan di berbagai bank di manca negara serta property diberbagai negara.

Melemahkan Fungsi Pemerintah

Untuk mengatasi ini maka kita perlu juga secara sistematis melemahkan fungsi pemerintah yakni dengan tidak mengisi jabatan-jabatan yang ada di pemerintahan oleh orang-orang yang pintar dan terdidik. Pemerintah cukup diisi oleh orang-orang yang bekerja di berbagai pekerjaan yang bersifat sosial. Dengan cara demikian maka biaya rutin pemerintah menjadi kecil dan setiap pekerjaan yang dinilai sulit akan dilakukan secara outsourcing. Untuk itu memang diperlukan swsata yang tangguh, yang siap memberikan yang terbaik secara profesional dan bertanggung jawab. Sehingga makin jelas bahwa budaya feodal tidak lagi dapat diterapkan.  Pemerintah membutuhkan swasta bukan sebaliknya sehingga tidak perlu ada upeti bagi pihak yang dibutuhkan :-)

Sop Jeruk Purut (SJP)

Yang dimaksud dengan sop jeruk purut atau SJP ini sebenarnya lokasinya tidak berdekatan dengan kuburan jeruk purut. Memang jika disisi barat kuburan itu jalan kita ikuti terus maka akan sampai juga di jalan TB Simatupang tepatnya di seputaran gedung Ratu Prabu I.

Klik foto ini untuk lihat peta lokasi

Dan di samping gedung Ratu Prabu inilah lokasi RM Berkah yang sangat khas dengan sop dagingnya. Biasanya Sop Daging ditemani oleh Tempe Goreng, Tahu Goreng dan juga Perkedel. Tambahan ini gak mutlak karena dengan sop dan nasi aja sebetulnya lebih dari cukup.

Harga satu porsi besar saat ini 30.000 rupiah dan porsi kecilnya 25.000 rupiah. Cara jualannya juga khas rumah makan yang biasa banyak penggemarnya, pengunjung disilahkan duduk, pesan, makan kenyang kemudian datang sendiri ke Kasir dan ngaku apa saja tadi yang dimakan. Di jumlah dan bayar. Biasanya pada jam kerja RM ini penuh sesak tapi saat ini kelihatannya sudah di perluas.. Pada bulan puasa libur total 40 hari.

Profesi

Kembali lagi ke prinsip utamanya, bahwa kerja atau menyalurkan bakat atau kemampuan diri adalah suatu kebahagiaan. Sehingga bidang apapun yang digeluti selama itu sesuai dengan minat dan bakat yang melakoni akan menghasilkan kebahagiaan.

Dan tentunya seluruh kemampuan itu bisa diukur dengan uang juga akan lebih memberikan rasa kepercayaan diri. Caranya adalah menopang kaum miskin dengan jaminan sosial agar mampu menggunakan barang dan jasa yang dihasilkan orang lain dengan alat tukar bernama uang.

Dengan demikian jelas bahwa orang lebih memilih kerja dengan gaji 2000 $ dengan tanggungan sak abrek dibanding Jaminan Sosial 1800 $ (standard Amerika) tapi nggak bisa menyalurkan minat dan bakatnya.

Tapi kalau budaya kerja adalah beban, dan nganggur adalah kenikmatan (terbebas dari beban kerja) seperti di Indonesia yang disebabkan tujuan kerja adalah ‘uang’ walau bidang nggak sesuai sama bakat, minat, pendidikan yang penting dapat ‘uang’ … maka rasanya budaya ini yang perlu di ubah dulu :-)

Empur (foto diatas) adalah salah seorang sahabat saya yang berprofesi sebagai tukang loak. Awalnya saya mengira bahwa tukang loak dan tukang pulung sama saja. Mereka sama-sama bawa gerobak dan pada saat lebaran menunggu di sepanjang jalan Pondok Indah sambil bawa keluarganya menanti belas kasihan yang lewat.

Setelah banyak berbicara dengan Empur, ternyata berbeda. Tukang loak membeli barang dengan ‘uang’ sementara pemulung hanya mengambil saja apa yang dilihat tak berguna bagi orang lain, kemungkinan masih punya nilai jual. Dengan kata lain Tukang Loak punya modal di sakunya untuk membeli dan menaksir suatu barang yang diperkirakan masih punya nilai jual lebih tinggi sehingga tidak mau disamakan dengan pemulung :-)

Suatu ketika si Empur ini mengundang saya ke kampungnya di Rangkasdengklok untuk pernikahan anaknya. Dan kami datang beramai-ramai dengan adik dan keponakkan. Betapa bahagia terpancar dari raut wajahnya. Sebetulnya si Empur ini punya sawah yang cukup lebar di kampungnya, namun memang dia perlu putaran uang dengan cara melakoni profesinya sebagai tukang loak. Dan dia tampak senang dengan profesi itu.

Dia juga sering bawa beras yang baru dipanen yang masih harum dan enak sekali rasanya.

AURA IMAGING

Ini hanya kebetulan saja ketika adik saya yang bertugas di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Jawa Timur mengadakan pameran di parkir Timur Senayan. Dan saya kunjungi stand nya.

‘Udah, coba foto aura dulu nanti biar di jelaskan sama Dr. Bas’ dan sayapun ikut saja :-) Rasa ingin tahu saya mendorong saya untuk melakukannya. Telapak tangan diletakkan disuatu alat dan menghadap kamera yang tidak kelihatan sebagai kamera. Maka hasilnya bisa terlihat seperti gambar diatas.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari dikenal istilah AURA, tetapi maknanya dapat bermacam-macam, bagi kebanyakan orang , aura hanyalah sebagai pancaran cahaya dari manusia. Bagi para ilmuwan, aura merupakan medan energi yang nyata yang menyelubungi makhluk hidup. Aura dibentuk oleh pancaran warna yang halus yang mengitari tubuh manusia. Pancaran ini dapat di presepsi oleh seorang psikik/mentalis. Setiap warna mengeluarkan vibrasi yang khas dengan makna yang berbeda.

Aura yang berhubungan dengan aktivitas cakra ( bahasa sansekerta : Roda Energi) menggambarkan tingkat kesadaran seseorang. Dengan demikian warna aura dapat mengungkapkan kwalitas kesadaran, kondisi emosi, pikiran, kemampuan dan energi vital seseorang. COLOR

Setidaknya demikian yang tercantum dalam brosur RSJ Dr Radjiman Wediodioningrat yang diambil dari nama seorang putera Makasar yang lahir di desa Melati, Sleman Jogjakarta 20 April 1879.

Istri saya yang lebih dulu baca brosur, dia bilang bahwa warna putih hanya ada untuk anak-anak. “White: spiritually motivated, the ability to be open and receptive to the divine, or spiritual world. Can merge with ALL THAT IS. Probably unconcerned with worldly matters or ambition. Inner illumination, cosmic wisdom characterise the white energy. Young children, energy workers, and people who meditate intensely often will show bright white in their auras. Generally, white does not often appear in the auras of adults. “

Tapi tampak jelas bahwa aura saya justru banyak di dominasi warna putih dan ada birunya disebelah kanan. Dan ternyata dari hasil printnya terlihat demikian :

  • CROWN (Cosmic Connection) : Blue White
  • THIRD EYE (Experience) : White
  • RIGHT SIDE (Expression) : Light Blue
  • LEFT SIDE (Future) : White
  • THROAT (Communication) :Violet
  • HEART (Empathy) : Light Blue
  • SOLAR PLEXUS (Power) : Blue White
  • SEX (Creativity) : Blue White
  • ROOT (Grounding) : Light Blue

Penjelasan dari masing-masing tersebut diatas adalah sebagai berikut :

Blue White CROWN

Blue is the color of peace, meditation, intuition and tranquility. White is the color of spirituality and change. Therefore, this combination shows that you are entering a time in your life of intense beauty. A beautiful healing time is coming to you and those around you. You will be able to act as a clear conduit for spiritual healing energy to flow through you to heal yourself and others. You will be working on developing a close connection with the Creator which will create an inner peace and a oneness with the divine.

White THIRD EYE

You are a natural, clear conduit for spiritual healing energy. In your present state you channel pure, divine, white light and heal others with your presence . You have a need for quite, harmony, and peace in your life. You must allow plenty of time for rest, reflection and mediation. Your primary focus in live at this point is spiritual. Everyday matters hold little importance compare with your spiritual and meditative activities.

White LEFT

A Supercharged time of miraculous spiritual healing is ahead of you. You will have a healing effect on all those around you. White is mixture of all the colors, therefore , it is the most powerful . Although white tends to be unstable like supernova, it indicates an intense healing experience

Light Blue RIGHT

You glow with mysterious inner light. People respond to your powerful healing presence. Others know you are tapped into something profound and divine. The world sees you as calm and peaceful. You have a generally quite and contemplative nature which has a pacifying effect on others. Unification and a sense of belonging is important to you. You have the ability to communicate on a deep and meaningful level.

Violet Throath

You speak of miracle, magic and pots of gold at the end of rainbow. You would rather discuss the ethereal, the sublime and methaphysical rather then anything ordinary and mundane. The perfect world of your imagination is where you feel most at home.

Light Blue Heart

You are deeply spiritual  and peaceful person desiring harmony and quite. You need time to be alone in other to rest, meditate or simply daydream. This is time when you wish to recoup and gather your energies.  Your whole being is hungry for a vacation, relaxation or deep mediation. The light blue of your heart chakra reveals that inner peace is your goal at this point in time. You expend a great deal of energy healing and inspiring others which can be draining and depleting . Quite time spent alone to nature yourself is essential to your well being and ability to continue healing other.

Blue-White Solar Plexus

Blue is the color of peace, meditation and tranquility and white is the color of spirituality. This mixture of blue and white indicates that yow now creating experiences of intense beauty, harmony, inner peace and oneness with the divine. A beautiful healing energy spirals from your center to those around you. You may be able to act as clear conduit for spiritual healing vibrations to flow through you to heal yourself and others. You are probably working on developing a close connection with the Creator through some kind of spiritual practice or artistic pursuit.

Blue-White Sex

“Peace Loving” and “Healing” best describe how you relate to others at this point of your life. You are a natural , clear conduit for spiritual healing energy. This light colored blue indicates you are in a regenerative, restful phase, and may be taking “time out” from sexual and romantic liaisons. If you are in relationship, this is probably a time you are both focusing on friendship, companionship, and spiritual growth. In the blue white chakra we see that you may find yourself gently encouraging and nurturing other. Presently, your higest goals are to achive complete inner peace and to develope harmonious communication with other. You are definitely a ‘giver’.

Light Blue Root

People respond to your powerful healing presence. Others know you are tapped into something profound and divine. The world sees you are serene, calm and peaceful. You have generally quite and contemplative nature which have pacifying effect on others. You move with ease and great patience. This color energy in your root chakra allows you to create calmness and tranquility wherever you go. Event the angriest, most irrational and irate people act like gentle puppy dogs when they are around you.

Begitu seterusnya dan Color Interpretation bisa dilihat di COLOR

Mengatasi Krisis Global

 

Tenaga kerja produktif yang akan kehilangan lapangan pekerjaan

Tampaknya pemerintah Indonesia sangat kebingungan menghadapi terjadinya krisis global. Ada lima kebijakkan yang dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya depresi yang berbuntut pemutusan hubungan kerja (PHK). Salah satu diantaranya adalah menurunkan upah buruh dan mengkonversikan penurunannya kedalam bentuk saham. Dengan cara ini diharapkan keuangan perusahaan dapat diselamatkan.

Namun demikian, kalangan Serikat Pekerja/Buruh dan Pengusaha di Jakarta (Rabu 10/12/08) menolak strategi tersebut sebagai aturan yang sangat tidak realistis.

Seandainya model ‘keluarga’  yang kita terapkan dalam mengelola negeri ini, maka krisis sebenarnya bukanlah masalah bagi negeri yang sangat kaya ini. Seperti halnya keluarga yang mapan, maka gejolak yang terjadi diluar rumahnya bukanlah masalah sepanjang ketersediaan pangan, papan dan kesehatan dapat terus dijaga. Keluarga tersebut baru perlu berproduksi lagi menjual layanan barang dan jasa ketika situasi di luar rumahnya sudah memungkinkan untuk itu.

Dan sementara menunggu situasi baik, seluruh anggota keluarga bisa didaya gunakan untuk berbenah rumah dan halamannya sendiri agar tampak bersih dan sehat :-)

Permasalahan memang menjadi pelik ketika kita sangat mengandalkan eksport dan import dengan melupakan kemandirian bangsa. Banyak lahan pertanian produktif kita hancurkan demi pembangunan pabrik-pabrik guna melakukan eksport sementara kebutuhan beras, kedelai dan daging kita mengandalkan import. Ini memang bagian dari strategi globalisasi sehingga pemerataan kesejahteraan penduduk dunia dapat segera mencapai suatu standard tertentu.

Hanya saja ketika kita berhadapan dengan masalah ‘alat tukar’ global, maka seluruh teransaksi inipun ikut bermasalah. Pabrik-pabrik global yang sudah merusak ladang-ladang kemandirian panganpun yang diharapkan dapat menampung jutaan pekerjapun ikut bermasalah dan tak lagi menemukan pasar-pasar globalnya. Sedangkan jika barang tersebut dilempar kepasar lokal maka Indonesia juga akan berhadapan dengan masalah tidak setimbangnya antara apa yang di import sebagai raw materials dan biaya uang dengan berkurangnya eksport karena di konsumsi sendiri. Maka merosotnya nilai rupiahlah yang akan dihadapi bangsa ini.

Proyek Yang Lenggang

Bagian paling mengenaskan dalam kondisi seperti ini adalah kemampuan import ‘pangan’ yang berkurang karena kemampuan eksport yang merosot tajam mengakibatkan dua masalah yang akan dihadapi yakni tidak tersedianya pangan akibat hilangnya kemandirian pangan dan pengangguran.

Beberapa hari ini Pemerintah sudah mengambil langkah yang tepat yakni dengan menurunkan harga BBM, hanya saja yang diturunkan kok bukan yang memiliki nilai niaga tapi malah yang punya nilai konsumtif seperti premium. Dalam pandangan saya sebaiknya solarlah yang diturunkan yang kemudian akan diikuti turunnya harga jual barang akibat turunnya biaya transportasi.  Memang sudah ada kesadaran bahwa angkotpun mulai hari ini sudah menurunkan ongkosnya sekitar 4 %, ini adalah awal bagaimana Pemerintah dan Rakyat sama-sama mulai ikut berhitung.

Jika ini yang dilakukan maka kita tak perlu gundah karena secara internal kita bisa berbenah seraya menanti membaiknya kondisi perdagangan dunia. Yang jadi masalah justru banyak pembangunan swasta yang sangat menagandalkan pinjaman luar negeri. Dan seyogyanyalah pemerintah juga membuat kebijakkan agar pendanaan pembangunan dalam negeri menggunakan dana dari dalam. Artinya bahwa bank-bank nasional seharusnya didorong untuk menyalurkan dananya untuk memenuhi kebutuhan kerja jutaan buruh bangunan yang pada hakekatnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan perut yang seharusnyalah juga diperoleh dari kemandirian pangan.

Selain di Konsultan, tenaga kerja di pihak Owner,
kontraktor, suplier pun akan kehilangan pekerjaan. 

Memang ada beberpa komponen bangunan yang harus di import, namun sepanjang jumlah import untuk pembangunan masih setimbang dengan eksport komoditas kita ini tidak akan membahayakan nilai rupiah kita..

Solo-Jogja

Kali ini perjalanan kami tempuh dengan mobil Inova sewaan. Sedianya saya mau sewa dari hotel, berhubung hotel hanya punya dua mobil dan semua terpakai maka kami diberi nomer HP, dengan catatan semua urusan diluar tanggung jawab hotel.

Setelah kontak dan disepakati tarif 600.000 untuk 10 jam dan 650.000 untuk 12 jam dan boleh keluar kota, maka saya setuju dengan mobil ini dan perjalanan dimulai sekitar jam 9 pagi. Kendaraan langsung menuju Solo. Dalam perjalanan ini pak sopir banyak bercerita menggunakan bahasa jawa halus diselingi bahasa Indonesia kalau saya nggak ngerti :-)

 

 

‘Jalannya mulus dan lebar pak’ saya mulai pembicaraan. ‘Ia, sekarang enak, jalan dibagi dua bahkan dibeberapa tempat dibagi empat yang dua lajur buat motor’ Jawabnya dengan mengendarai mobil dengan cepat di jalur motor.

‘Lho kok sampeyan ambil jalur motor, ini kan khusus buat motor, emang motor boleh ambil jalur tengah ?” saya coba menimpali.’Ingjih, tapi dijalur cepat tadi saya lihat ada bis dan truck yang jalan pelan, jadi kita lewat sini saja bisa cepat’ jawabnya lagi.

RM : ‘Pak seingat saya dulu dijalan ini banyak pohon besar-besar ?’

PK : ” Waktu bu Mega kalah dari SBY, pohonnya di tebang pakai mesin gergaji untuk mencegah masa dari solo masuk Jogja”

RM : ‘Ini daerah Delanggu ya pak, daerah penghasil beras’

PK : “Ia daerah ini memang terkenal dengan berasnya pak, tapi itu dulu…. semenjak dibangun pabrik Aqua, petani kesulitan mengairi sawahnya dan mereka harus pakai mesin pompa’

 Dibeberapa tempat saya memang melihat daerah persawahan yang makin tergusur oleh pembangunan perumahan. Ini memang sangat disayangkan. Padahal ada cara lain yang lebih bagus untuk mengatasi hal-hal semacam ini. Seharusnya ketahanan pangan menjadi prioritas utama kita. Tapi ya beginilah potret Jawa Dwipa saat ini.

Saya minta diantar ke restoran Kusuma Sari untuk makan Selat Solo. Ketika saya buka menu tidak ada hidangan selat solo, mungkin sama seperti sate Padang yang di Padang tentu bukan sate padang namanya :-) Saya langsung tanya pada pelayan :’Apa namanya selat solo pak ?’  Oh itu selat segar pak :-)

Setelah puas USDEK ditambah Selat Solo saya kembali ke Jogja. Sesampai di Klaten saya telpon Boss saya pak Aman Santoso (AR 72). “Mad beli kripik paru di Klaten, tempatnya nggak tahu, Setyoto biasanya bawa oleh-oleh dari Klaten”.

Saya langsung telpon pak Setyoto minta kejelasan alamatnya, “wah itu warung kecil sesudah stadion… ada sungai kecil dan tepat dipinggir sungai, jadi harus balik dulu arah Solo, bukan dijalan besar lho”

 

Saya beli ukuran kaleng besar biar mudah bawanya. Ini juga karena niru tamu sebelum saya yang juga bawa buat oleh-oleh. Harga satu kaleng besar Rp 220.000,- Dan dikemas sangat rapih

‘USDEK’ yang bukan Manipol

Lain ladang lain ilalangnya, demikian juga Indonesia yang sangat beragam adat istiadatnya ini. Kemarin hari minggu saya berkesempatan mengahadiri pernikahan yang diadakan di Solo. Kalau diperhatikan tata caranya memang agak janggal untuk kita yang sudah terbiasa di Jakarta.

Memasuki ruangan terlihat tempat duduk berjajar rapi saling menghadap antara pintu masuk dan kursi pelaminan. Diantara jajaran kursi itu terdapat meja untuk menghidangkan Minuman (Unjukan). Menghadapi situasi yang agak tidak terbiasa ini otak saya langsung berpikir keras, apa kira-kira adat yang ada di kota ini. Baru pikiran agak nyantol ketika saya SMS rekan saya dan di jelaskan itu ‘USDEK’

USDEK adalah singkatan dari Unjukan (Minuman), Sop, Dahar (Makan), Es dan Kondur (Pulang), maka benar saja upacaranya memang demikian. Setelah para tetamu duduk sambil minum teh seperti pada gambar diatas, baru pengantin memasuki ruangan dan disaksikan oleh para tetamu. Pengantin selalu sibuk dengan upacaranya sendiri dan para tetamu kemudian disuguhi Sop. Pengantin juga masih sibuk dengan pidato dan doa serta upacara lainnya dan para tamu disuguhi Dahar (Makan Nasi Komplit). Para tamu selesai makan juga disibukkan dengan Es yang kali ini adalah es Cream.

Selama USDEK ini memang para tetamu di hibur dengan beberapa penyanyi bersuara merdu dan dalam hati saya ini acara berikutnya adalah kondur (pulang). Maka seperti mendapat aba-aba seluruh hadirin berdiri dan menuju pintu keluar. Jadi para tamu ini tidak bersalaman dengan mempelai dan tampak di gambar atas bahwa posisi pengantin justru berada di belakang para tamu. Karena saya tidak terbiasa jadi tertinggal di dalam dan di pintu keluar kami baru bersalaman. Kemudian balik lagi keatas panggung untuk foto bersama :-)

Next entries »