inicio mail me! sindicaci;ón

Angan-angan koe

untuk negeriku yang sangat kucinta

Archive for November, 2008

Keturunan

Keturunan

Memang akan sulit jika kita bicara ‘keturunan’ (pribumi/non pribumi), pertama tuduhan langsung pada SARA (Suku Ras Agama dan Antar Golongan). Ini jadi seperti sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Padahal realitasnya ya memang kita ini Bhineka Tunggal Ika, bermacam-macam tapi satu juga.

Lagi pula kalau kita lihat manusia purba dan sejarahnya “Mereka hidup di Afrika Timur, dan sejumlah kerabatnya hidup di Afrika Selatan dan Asia Tenggara“, yang berarti juga bahwa manusia modern itu menyebar dari Selatan menuju Utara baik itu di Afrika maupun di Asia yang berarti juga justru orang-orang yang berada di Utara kita itu asalnya dari selatan dan kebetulan yang paling selatan pulau yang agak besar adalah Jawa dan juga ditemukan tulang belulang manusia purba di Trinil, Solo jawa Tengah sana :-)

Jadi kalau berjuta tahun lalu manusia modern bermigrasi ke Utara ke dataran China sana kemudian balik lagi keselatan sebetulnya ya biasa saja, toh alam yang mengaturnya demikian. Kemudian mengapa orang yang bermigrasi biasanya lebih ulet dibanding orang yang relative tidak berpindah, hal ini dengan mudah kita lihat di Jakarta ini dimana Betawi sebagai suku asli dikota ini keberadaanya seperti makin termarginalkan diserbu berbagai macam pendatang. Diantara berbagai pendatang itu yang paling dominan di bidang ekonomi adalah keturunan China, pertanyaan jadi kenapa demikian ?

Ekonomi sendiri pada dasarnya adalah kemampuan saling tukar menukar barang dan jasa. Pendatang-pendatang tidak mungkin bertahan hidup hanya mengandalkan kekerabatan belaka, mau tidak mau harus ada barang atau jasa yang selalu di putar guna menyambung hidup.

Faktor lainnya adalah tempaan untuk hidup dengan prihatin, ini yang rata-rata mereka miliki sehingga lebih mengutamakan kerja dibanding menikmati hasil kerjanya. Terkadang sulit bisa saya bayangkan bagaimana dari pagi hingga malam mereka terkungkung di bilik sempit tokonya di daerah pecinan sana, makan dari jajanan yang dipesan dan demikian terus menerus demi melayani setiap pembeli yang sangat membutuhkan barang atau jasa yang mereka berikan. hanya saja pada saat liburan entah itu Sabtu/Minggu atau hari besar mereka memanfaatkan waktunya untuk pesiar :-)

Ketika saya berkunjung ke Natuna dan menginap di hotel Natuna saya juga menjumpai pemiliknya adalah keturunan Tionghoa dari Tj. Pinang. Bisakah anda bayangkan bagaimana ia rela rumahnya buat nginep tamu dengan berbagai macam tingkah dan lakunya, mulai dari yang baik-baik sampai yang punya niat tertentu seperti bawa perempuan. Dan bagaimana ia mengendalikan para pembantunya untuk terus bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi para tamunya dan seringkali terlihat tidak sabaran dan turun tangan sendiri :-)

Belum lagi hal-hal yang terorganisasi untuk bersama-sama menyiasati hidup. Hal seperti ini yang juga seringkali mereka lakukan. Coba saja datang ke toko HP dan cari model tertentu, meskipun disana tidak ada, mereka dengan mudah kontak rekannya untuk dikirim segera dan anda dengan tenang nunggu di tokonya ditemani segelas aqua :-)

Model seperti ini terjadi mulai dari yang sangat kecil sampai  yang berskala besar. Dan semua ini dibangun berdasarkan trust, tanpa trust dengan mudah seseorang dicampakkan dan diumumkan di harian umum tidak diakui sebagai keluarga dan hidupnya akan terlunta-lunta karena terlanjur hidup sebagai orang yang tidak dapat dipercaya.

 

 

 

Ketimpangan Sosial

Ketimpangan Sosial

Sudah hampir dua bulan ini waktu saya habis dari pagi hingga larut malam di Proyek. Konsekwensi berorganisasi memang demikian, ketika jajaran dibawahnya ‘dipandang’  kurang kapasitas terpaksa jajaran di atasnya  harus terjun langsung mengatasi setiap permasalahan yang timbul :-)

Hal ini timbul karena keinginan untuk segera menyelesaikan proyek yang sudah di canangkan buka tanggal 5 Desember. Disaat proyek lain macet, ini justru di geber habis-habisan untuk bisa diselesaikan. Masalahnya tenant sudah komit diatas 80 %, kalau dibiarkan slow down dampaknya malah akan kemana-mana. Padahal proyek di bawah 50 %, bukan hanya slow down namun berhenti total :-(

Dengan kondisi demikian maka memang waktu saya banyak habis di proyek. Saya hanya dapat informasi proyek ini macet, proyek itu berhenti dan saya kalkulasi maka akan ada lebih dari 100 orang ter PHK. Dalam hati saya, jangankan cari proyek baru seperti yang selama ini saya lakukan, lha proyek yang sudah ditangan saja berhenti maka munculah keprihatinan saya yang juga saya tulis di blog ini.

Namun, tadi malam saya menyempatkan diri jalan-jalan cari angin bersama anak istri ke Grand Indonesia. Saya bergitu heran melihat tempat makan yang bukan ‘food court’ begitu ramainya. Apa lagi food courtnya tentunya. Jalan sudah terasa macet sejak keluar rumah di Cipete dan semakin tersendat di Sudirman. Sampai di GI jam menunjukkan angka 20.30, antrian parkirpun masih terasa menyesakkan. Hal ini juga terjadi di resto-resto yang ada banyak di GI. Satu-satu kami coba cari yang agak sedikit antriannya, wong sudah terlalu malam buat makan malam, namun sia-sia … semua antri. ‘Tunggu 15 menit pak’, demikian pelayan menyarankan saya menunggu antrian.

Kemudian kamipun makan malam, ketika bill di sodorkan terlihat angka 350 ribu rupiah untuk santap malam kami bertiga dan buru-buru karena antrian juga masih terlihat diluar :-)

Sambil baca email di Blackberry rekan Wahyu Setiawan menulis email di milis IA-ITB “Siapa bilang Gawat Mad ? “  hal ini langsung menyadarkan saya untuk melihat-lihat lebih jauh lagi kondisi GI. Langsung saya jawab email tersebut. Saya buat beberapa foto dengan HP saya. Saya coba masuk ke Alun-Alun Indonesia dan betapa terkejutnya melihat antrian yang begitu panjang di counter. Jam menunjukkan angka 22.30 atau jam setengah sebelas malam, orang seperti kesetanan belanja… gejala apa ini ? Tak salah kalau saya baca email tersebut lebih lanjut  ‘Tapi,`Tak sangka orang Indonesia memang aneh,’ … ya orang Indonesia memang sangat aneh.

Diam-diam saya berkaca diri, banyak anak buah yang begitu rajinnya menyelesaikan proyek harus ter PHK, sementara anak bangsa lainnya seperti tidak merasakan adanya krisis. Bagaimana ini bisa terjadi. Saya kembali bercermin bawa saya sedang menunggu pencairan tagihan saya sebesar 500 juta rupiah yang dibayar dengan Yen. Saya coba kalkulasi lagi 135/76 x 500 juta = 900 juta :-)   Dari kurs yang tadinya 76 jadi 135 rupiah per yen. Ya hanya dengan menunggu saja ternyata uang 500 juta saya sudah jadi 900 juta :-)

Dan  mungkin harusnya saya jadi spekulan saja, wong kondisi ini juga sudah saya tulis bulan September dengan judul Rupiah Letoy.

Zamane – Koes Plus

Holobis … kuntul Baris

Holobis ... kuntul Baris

Ketika harga minyak naik, banyak orang membuat kalkulasi. Ada yang pro terhadap kenaikan harga BBM ada juga yang kontra. Kenaikan harga BBM tentunya juga diikuti kenaikan harga sektor energi lainnya sebagai pengganti BBM seperti Gas, Batubara, CPO sebagai bahan baku Biodisel. Namun sangat sedikit yang memperhatikan hal ini. Kita lebih fokus pada BBM karena memang lebih langsung kita konsumsi :-)

Sebenarnya kenaikan harga BBM mengikuti harga pasar internasional juga bagus. Coba saja kita bayangkan seandainya negeri ini hanya dibangun dengan rasa gotong royong, saling tolong menolong maka segala sesuatu transaksi barang dan jasa tidaklah diukur dengan uang. maka ketika kita butuh uang untuk membeli barang yang harus diadakan dari luar kelompok rakyat Indonesia yang ber’gotong royong’ maka kita akan kesulitan.

Hal yang sama juga terjadi ketika nilai uang yang kita transaksikan sebagai tanda pertukaran barang dan jasa ternyata lebih kecil dari harga internasional, maka kita juga akan kesulitan mengakses barang dan jasa yang diadakan dari luar kelompok yang bernama bangsa Indonesia ini.

Bangsa ini sedang belajar mengukur dan berhitung dengan uang terhadap setiap transaksi barang dan jasa yang dilakukan padahal ketika uang belum kita kenal, nenek moyang kita membuat bangunan monumental seukuran Borobudur mungkin hanya dengan rasa ‘gotong royong’ saja. Hal ini bisa terjadi karena seluruh material yang diperlukan untuk membangun itu memang tersedia di lingkungannya dan sampai saat inipun tetap tersedia.

Beberapa dekade yang lalu masih kita jumpai masyarakat suatu daerah bergotong royong membangun rumah rekannya.  Di Jogjakarta hal ini dilakukan dengan cara yang lebih unik lagi. Selain mereka bahu membahu membangun rumah secara ‘gotong royong’ seluruh warga yang terlibat dalam proses pembangunan juga memainkan peran-peran tokoh dalam perwayangan. Mereka sahut menyahut memainkan lakon yang sudah disepakati jalan ceritanya yang mereka pilih :-) Ngelaras memang sambil ditemani kopi dan jajan pasar tentunya . Dan Di jawa timur kita kenal dengan teriakan holobis kuntul baris, ketika kita bergotong royong :-)

Ketika saat ini kita belajar dan belajar menggunakan uang kita seperti berhenti menganalisa ketika harga minyak turun.  Tidak ada lagi hitung-hitungan yang harus dianalisa. Kita semakin sibuk dengan kekalutan kita dan pemerintahpun tidak dengan cepat menurunkan harga BBM. Semua dibiarkan berjalan as usual dan ini sangatlah berbahaya.

Kita harus bisa lebih Cerdas, Cermat dan Cepat dalam merespon setiap perubahan yang terjadi didunia ini karena kita sudah sepakat untuk jadi warga dunia yang tak lagi ter’diskriminasi’ karena tak berhitung dengan uang untuk setiap barang dan jasa yang ditransaksikan. Termasuk barang-barang ilegal/bajakkan tentunya :-)

 

 

 

 

Pencuri Negeri Sendiri

Mungkin kita terlalu lama dijajah Belanda yang konon ada dua periode, periode pertama adalah diduduki oleh VOC yang notabene adalah perusahaan swasta dan ketika VOC bangkrut karena dikelola dengan sangat korup, kemudian kita diduduki oleh pemerintah kerajaan Belanda. Kondisi mungkin menjadi lebih baik pada periode kedua ini, namun hingga saat ini banyak sekali aturan dan peraturan yang masih memperlihatkan suatu sikap yang memandang rakyat sebagai rakyat yang terpisah dari Pemerintah sebagai sebuah kekuasaan mutlak yang mengatur seluruh kekayaan negara untuk kepentingannya dan bukan untuk kepentingan rakyat.

Padahal orang-orang pemerintahan itu hakekatnya ya rakyat juga. Mereka hanyalah mengelola kebutuhan-kebutuhan sosial masyarakat negeri ini, sementara kebutuhan-kebutuhan yang bersifat komersial bisa diadakan sendiri oleh masyarakat untuk saling mengisi. Dari kegiatan komersial inilah sebagian disisihkan untuk pemenuhan kebutuhan sosial yang dikelola melalui mekanisme pajak.

Ketika pemahaman dasar hidup bernegara ini bias, maka konsekwensinya rakyat seperti berhadapan dengan negara. Rakyat akan selalu berupaya merebut yang bukan haknya untuk sekedar makan, berteduh bahkan untuk memperkaya diri. Pertempuran antara rakyat dan pemerintah terjadi hampir disemua lini. Mulai dari hutan-hutan hingga ditengah kota-kota besar.  Menjadi lebih parah lagi ketika Pemerintah memberikan hak-hak pengelolaan kekayaan negara yang seharusnya menjadi milik rakyat pada pengusaha-pengusaha multinasional. Rakyat benar-benar dipandang sebelah mata sebagai suatu potensi yang sebenarnya merupakan kekayaan negeri ini.

Dalam pandangan yang lebih ekstrim lagi Pemerintah mendudukkan dirinya sebagai ningrat yang selalu haus untuk dilayani oleh para jongos yang harus diberi upah rendah agar para ningrat tersebut dapat selalu terlayani. Jangan sampai para jongos tersebut menjadi sejahtera karena akan meninggalkan posisinya sebagai ‘jongos’. Pandangan ini saya peroleh dari tanggapan terhadap sepenggal pandangan saya di sebuah milis.

Rasanya memang seperti itu, sehingga posisi pemerintah yang seharusnya memenuhi layanan publik yang bersifat sosial malah terabaikan. Aparat-aparat pemerintah malah minta dilayani hampir disetiap jenjang dan lebih celaka lagi mereka mengutipi pungli hampir disemua lini dan sektor. Hal ini mencerminkan jauhnya  fungsi pemerintah yang ‘ideal’.

Mereka tidak lagi berpikir perlunya mendapatkan devisa dengan berbagai upaya yang positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, namun justru berpikir bagaimana bisa hutang untuk memudahkan merealisasikan apa yang ada didalam benak si ‘ningrat’.

Bahwa ini memiliki konsekwensi biaya uang yang sangat besar sehingga mengakibatkan terdevaluasinya rupiah terus menerus tidak lagi jadi masalahnya. Mereka hanya memandang bahwa pelemahan rupiah adalah peningkatan daya saing di pasar global… padahal ini jelas pemutar balikkan fakta, bahwa pelemahan nilai rupiah adalah pemiskinan terhadap anak bangsa sehingga dari hari ke hari rakyat semakin menghalalkan segala cara untuk menyambung hidupnya.

Bahwa pelemahan rupiah mengakibatkan anak bangsa rela menjadi ’jongos’ di negeri orang dan karena pemerintah yang memiliki jiwa ‘ningrat’ yang haus untuk dilayani maka hal ini dianggap saja sebagai hal yang positif.

Dan para ‘jongos’ siap mencuri barang milik negara jika sang majikan sedikit lengah :-) Ditepian jalan kereta api, dikolong-kolong jembatan dan jalan tol, dibantaran sungai, diatas trotoar, di terminal bayangan hampir disetiap fasilitas publik yang yang bisa mereka duduki akan di jadikan tempat usaha dan berteduh

 

 

 

Subsidi Untuk Rakyat

Di bak sebuah truck pengangkut Tabung Elpiji ukuran kecil tertulis “Subsidi Untuk Rakyat Barang Milik Pemerintah”. Dalam hati saya berpikir ’subsidi untuk rakyat ?’ Siapa Rakyat dan Siapa yang nggak mendapat subsidi, pastinya bukan rakyat. Terus mereka apa jika bukan rakyat, apakah mereka pemerintah ?. Wah, pemerintah kan rakyat juga :-)

 

Seandainya ada ‘bukan rakyat’, katakanlah ia seorang pendatang dari negeri antah berantah yang tentunya bukan rakyat Indonesia dimaksud. Terus orang tersebut jajan pisang goreng seperti pada gambar tersebut diatas. Terlihat tabung elpiji ukuran kecil yang konon barang pemerintah dan subsidi untuk rakyat, maka otomatislah orang dari negeri antah berantah tersebut mendapatkan juga manfaat dari subsidi. Mungkin kalau harga normal sebuah pisang goreng harganya 2.500, namun karena gas nya di subsidi maka harganya cukup 1.000 perak saja.

Ini terjadi untuk semua slogan yang berlabel subsidi, seperti pupuk bersubsidi, lha yang makan berasnya kan orang kota. Jadi sebaiknya memang bukan sistem subsidi yang diterapkan. Namun terapkanlah Jaminan Sosial Nasional, peliharalah orang-orang jompo, orang-orang secara fisik terkendala, secara mental terkendala oleh negara. Manfaatkan tenaga-tenaga produktif sepenuhnya untuk kemajuan bangsa. Untuk itu memang dibutuhkan pemerintah yang Cerdas

Kota Jawa

Harian Kompas hari ini mengangkat berita utama yang kira-kira mengkhawatirkan bila jalan tol Jakarta Surabaya terbangun akan muncul sebuah kota yang ukurannya sangat besar yakni kota Jawa :-) Bukan hanya itu, jawa yang terkenal sebagai lumbung padi yang menyediakan 53 % kebutuhan beras Indonesiapun akan hilang perannya sejalan dengan tanah yang termakan oleh pembangunan tersebut. Benarkah demikian ?

Berikut adalah perjalanan Jakarata Bandung yang karena jalan tolnya macet maka saya ambil jalan Pantura dari Kerawang Barat menuju Cikampek. Dulu kalau ke Surabaya, saya selalu lewat jalan ini, karena ini jalan negara dan juga jalan tol belum tersedia. Banyak perlintasan kereta api di jalan ini dan juga banyak rumah makan sebagai tempat istirahat para pengemudi jarak jauh :-) . Namun dengan dibangunnya jalan tol maka rumah makan itu sudah jauh berkurang.

Sebetulnya, kalau kita lihat dikanan kiri jalan tol, persawahan tidak terganggu, juga pemukiman yang mendekat jalan tol kebanyakan hanya sisa-sisa masa lalu dimana ada perkampungan yang terbelah oleh kehadiran jalan tol. Hanya saja yang mencemaskan, dalam banyak kasus tanah ini jadi mahal harganya dan sertifikatnya sudah dikuasai oleh banyak orang-orang berduit sebagai jaminan ke Bank untuk mengucurkan perkreditan :-(

 

Ini berbeda dengan jalan Negara, dimana masyarakat cenderung mengambil posisi tepat di pinggir jalan untuk buka berbagai jenis usaha. Dengan cara demikian maka memang akan terasa bahwa kota dengan kota berikutnya menyambung seperti gambar diatas.

 

Yang juga tak kalah hebohnya adalah ini jalan Negara yang tentunya berbeda dengan Jalan Tol yang dikelola Swasta.  Jalan ini terus saja ditingkatkan, dibangun dan dibangun. Dan tentu saja akan diikuti dengan pertumbuhan rumah-rumah yang berada disekitar jalan negara tersebut.

 

 

 

Mie Baso

Antara Bandung dan Jakarta memang ada sedikit perbedaan dalam hal mie baso. Kalau di Jakarta kita pesan Mie Baso seperti di Gajah Mada, Gang Kelinci, Gondangdia dsbnya maka biasanya disajikan dalam bentuk kuah dan mie terpisah. Mie dalam kondisi nyemek tinggal mau ditambah kuah atau tidak :-)

Sementara jika di Bandung kita minta mie baso, maka akan keluar mie  dan kuah jadi satu. Jika ingin kuah dipisah maka ada istilah Yamien. Nah Yamien ini dibagi dua kategori, satu yamien asin dan satu lagi yamien manis, yang masing-masing dibedakan dari kecap asin atau manis :-)

Di Bandung sendiri ada banyak tempat yang cukup favorit bagi saya. Di Hasanudin ada Rumah makan Yo kemudian di Jl. Kejaksaan juga ada dan rumah makan ini terbilang sangat tua, karena rasanya sejak saya bisa ingat ada mie baso rumah makan ini sudah ada :-)

Yang tidak kalah tuanya ada juga di Jalan Balong Gede No. 1 Bandung, sebelah Bioskop Dian. Rumah makan ini bernama Linggar Jati. Mungkin dulu sambil nunggu jam tayang makan mie baso dulu disini.  Rumah makan ini memang mengkhususkan diri Mie Baso dan Es Alpokat yang dari hari ke hari alpokatnya sepertinya selalu dengan tingkat kematangan yang selalu sama. Suasananya pun tetap tak berubah … tempo dulu.

Jaman sebelum tahun 80 an memang bioskop belum dimonopoli studio 21. Ada banyak tempat tontonan yang bersaing menyajikan film yang berbeda-beda. Ada yang mengkhususkan film China, Film India, Film koboi dsbnya. Beberapa gedung bioskop yang ada dikota Bandung kala itu adalah Panti Karya, Vanda, Braga dan Dian di alun-alun yang kemudian dengan dibangunnya pertokoan Palaguna ada saingan berat yakni Nusantara Theater. Namun tetap yang paling nyaman nonton di Paramounth Jl. Sudirman. Meski agak jauh, tapi rasanya puas kalau nonton disini :-) Entah cara mana yang bagus apakah cara monopoli seperti konglomerasi perfileman seperti saat ini atau cara seperti jaman dulu :-( dimana banyak pengusaha bisa tumbuh dan ikut hidup yang salah satu teman sekolah di SMAK Dago, orang tuanya si Lola :-)

 

Sambal Hejo

 

Penat bekerja sepanjang beberapa minggu ini, kali ini  hari sabtu dan minggu sengaja saya nggak mau datang ke proyek :-) Hari ini saya gunakan untuk jalan-jalan saja ke Bandung. Rupanya jalan-jalan ke Bandung juga bukan menghilangkan stress malah jadi lebih stress lagi :-)

Keluar dari Jakarta kondisi hujan lebat, mobilpun tak bisa dipacu kencang. Yang biasayanya dalam waktu  kurang dari 2 jam sudah sampai di Bandung dari jam yang ada di gambar diatas, 3 jam baru sampai Ciganea, Purwakarta. Memang menghadapi jalan yang sangat macet saya sengaja keluar ke Kerawang kota kemudian menyusuri Pantura menuju Cikampek, Sebelum sampai Cikampek masuk tol lagi dari pintu Dawuan.

Sambil bernostalgia jalan Pantura lama dan cari makan sekalian ternyata nggak saya jumpai tempat makan yang rada pas di hati. Terpaksa saya masuk tol lagi dan keluar di tol Jati Luhur. Pas pertigaan dengan jalan lama ada rumah makan Sari Rasa “Sambal Hejo”. Tadinya maksud hati ingin makan Ayam Goren Saljona dekat tikungan ke Jati Luhur, namun begitu lihat dirumah makan ini juga tersedia ayam goreng yang ternyata di goreng dengan cara yang sama maka ini adalah berkah di kala perut sudah mulai keroncongan.

 

 

Rumah makan ini tertata apik dan terlihat interior dengan hiasan barang-barang yang agak berbau tempo dulu. Dan ternyata tanpa pesan langsung disajikan berbagai makanan seperti ayam goreng panas, tahu dan tempe goreng, sambal hejo, lalapan, pepes dan juga gepuk serta tentunya nasi putih hangat.

 

Memang sangat menggoda selera, kami tak sadar apakah ini seekor ayam kampung goreng kencur atau hanya sekedar potongan ayam saja yang jelas seluruh ayam itu habis kami santap bertiga.

Kami baru sadar ketika tagihan dihitung, ternyata 15 potong ayam @ 4.500 perak kami santab… memang rasanya sangat mantabs abiz…. sambil diiringi lagu-lagu jaman tahun 80 an.

Takut Macet

 

Benarkah Jakarta membangun dengan kekuatannya sendiri ? Seperti berulang saya sampaikan, bahwa bagaimanapun kita terikat dalam suatu negara kesatuan yang bernama Indonesia. Negara ini ibarat suatu keluarga saja. Seperti halnya yang terjadi dalam suatu keluarga, maka tak mungkinlah satu orang anak saja yang ingin hidup berlebih dari yang lain. Anggota keluarga yang lain harus berkorban untuk kenikmatan anak yang lainnya :-)

Berikut adalah dialog saya dengan pak Henky Sugana yang lulusan Ekonomi Unpad dan sepertinya bergerak di pendanaan pembangunan.

Henky Sugana wrote at 7:37am
Sekarang tinggal dan berkarir dimana pak Rachmad

Rachmad Mekaniawan wrote at 7:40am
Saya tinggal di Jl. MPR Cilandak, belakangnya Abuba Steak Cipete. Sementara kerjanya masih jadi tukang bangunan di konsultan nangani beberapa proyek yang ukurannya gila-gilaan besarnya seperti Epicentrum, Emporium, Kota Kasablanka.Blok M Square. Sayangnya pada kena krisis Ekonomi jadi ratusan anak buah saya yang rada mengkhatirkan nasibnya :-(

Henky Sugana wrote at 7:45am
Wah…..kok bisa begitu ya…..saya tinggal di belakang rumah sakit Fatmawati, Jl Wijayakusuma II, saya kerja lembaga keuangan, yang sementara ini tidak memberikan pembiayaan……takut pada macet..hahahaha

Ya inilah sekelumit dialog saya dengan teman yang ternyata sesama lulusan SMAK Dago. Sepandai-pandainya anak ITB, Sehebat-hebatnya developer sekelas Agung Podomoro, Pakuwon Jati, Bakrie Land akhirnya ya harus harus berhenti karena ekonomnya takut macet :-(

 

 

FB menghubungkan tali silahturahmi

FB menghubungkan tali silahturahmi

Facebook founded 4 Feb 2004 merupakan utilitas sosial yang menghubungkan orang dengan teman dan orang lain yang bekerja, belajar dan bermukim di sekitar mereka. Orang menggunakan Facebook untuk bersilahturahmi dengan teman-temannya.

“Millions of people use Facebook everyday to keep up with friends, upload an unlimited number of photos, share links and videos, and learn more about the people they meet”

Ya demikianlah kiranya yang dijanjikan Facebook. Orang memang bisa terkoneksi dengan teman dan juga bisa mengetahui teman dari teman-teman kita. Bahkan teman yang sudah terlupakan karena waktu dan jarakpun bisa dibangun kembali dengan Facebook. Selain foto, posting mulai yang sederhana sampai yang rumit dan  juga chating dapat dilakukan antar anggota facebook.

Bahkan dalam kasus istri saya, dia memang belum pernah upload selembar fotopun kedalam facabook, namun karena banyaknya anggota yang share foto dan terdapat fotonya, maka ketika foto tersebut dindentifikasikan oleh teman-temannya dan di tag pada foto istri saya, maka otomatis foto tersebut terkumpul dalam albumnya :-)

Dimilis kuya sipil saya sering baca posting Rubi Sugana. Tentunya beliau ini anak sipil ITB dan sepertinya adik kelas saya. Sementara itu di Facebook saya jumpa teman SMA yang langsung saya add sebagai teman saya. Ketika saya lihat teman-teman Wulan Kaligis ini ternyata ada nama Hengky Sugana. Maka ketika ada request ya saya iakan saja sebagai teman dan saya tahu itu teman Wulan.

Maka melalui fasititas wall to wall saya tanyakan pada Wulan siapa sih Hengky Sugana, rupanya beliau langsung merespon dan urut punya urut ternyata memang abangnya Rubi Sugana dan juga teman sekolah di SMAK Dago dan lulus pada tahun yang sama. Kemudian ambil Ekonomi di Unpad.

Next entries »