Dari beberapa komentar yang saya peroleh, bahwa berlalu lintas hanyalah suatu kebiasaan saja. Bahkan beberapa berpendapat bahwa yang diukur bukan lagi jarak, namun waktu. Namun demikian seharusnya beberapa orang yang memang berkompeten dibidang ini seharusnyalah selalu membuat kondisi normal yang seharusnya dinikmati masyarakat dan inilah yang dijadikan suatu kebiasaan sehingga kalau ada yang nggak beres maka haruslah timbul upaya untuk pembenahan sesegera mungkin.
Berikut saya coba membandingkan menempuh jarak yang sama pada saat pamer (padat merayap) dengan pada kondisi normal. Dari data ini dapat terlihat bahwa kita menggunakan waktu dua kali dari apa yang kita perlukan pada kondisi normal. Dan juga perlu diingat bahwa kebutuhan BBM bukan semata fungsi dari jarak, namun juga fungsi dari lamanya mesin hidup. Energi hasil pembakaran yang tidak digunakan untuk menempuh jarak di buang menjadi energi panas dan semua ini sebenarnya dolar. jadi perlu upaya yang serius untuk mengalihkan puluhan juta pergerakan penduduk Jabodetabek dari suatu titik ketitik lainnya perharinya dengan cara sebaik-baiknya.
Maka kalau pemborosan ini kita perbandingkan dengan hasil turisme di Bali menjadi tidak ada artinya 2 juta wisatawan asing pertahun dibanding puluhan juta perhari di Jakarta hidup dalam pemborosan.
Ini adalah menempuh jarak yang sama dari rumah saya di jalan MPR Cilandak menuju Kantor AT6 Internasional di Jl. Proklamasi jakarta via jalan tol. Pada kondisi Normal hanya dibutuhkan waktu 28 menit 9 detik dengan kecepatan rata-rata 61.5 km/jam kombinasi tol dan non tol dan Pada waktu normalnya Jakarta yakni selalu Padat Merayap maka dibutuhkan waktu 53 menit 33 detik dengan kecepatan rata-rata 32.4 km/jam. Setiap orang berasumsi 1 jam adalah waktu yang normal
Pada saat kantor sudah mulai libur seperti hari ini, jalan di Jakarta juga tampak mulai lenggang. Maka saya berniat untuk mengukur kecepatan rata-rata di Jalan Tol JORR yang saya mulai dari gerbang Bintaro bayar 2.000 rupiah dan keluar di Fatmawati. Ada beberapa tikungan tajam yang membuat kendaraan harus melambat dan juga ada gerbang tol di Veteran yang harus berhenti dulu untuk bayar tol seharga 6.000 rupiah. Pun demikian kecepatan rata-rata masih 89,6 atau hampir 90 km/jam
Sementara itu, dijalan-jalan yang biasanya padat menjadi lenggang. Ini perjalanan dari rumah saya di Cipete kerumah orang tua saya di Bintaro Sektor 3. Karena sebenarnya hari kerja maka dari Pondok Indah ke Veteran harus melingkar dulu. Saya sengaja tidak ambil jalan tikus melalui jalan H. Kafi karena memang lenggang, jadi kendaraan berputar ke Tanah Kusir. Untuk masuk Bintaro juga harus berputar lagi lewat jalan tikus. Pun demikian kecepatan rata-rata masih sangat bagus yakni 31.3 km/jam
Ternyata “Live View Mode” yang ada di camera digital Canon EOS 450D juga mengasyikkan. Dikanan atas ada dua tombol yang tadinya saya nggak tahu buat apa. Ternyata setelah baca-baca, ternyata itu buat mengunci fokus lensa (AF point selection dan FE lock button). Caranya fokus tidak lagi harus berada di tengah layar. Bisa saja agak diatas bahkan diujung. Kotak fokus yang terdapat pada layar TFT Color LCD (230k dot) bisa digeser kemana mau kita fokuskan, sebagai contoh kita ambil tulisan Blackberry, kemudian kotak fokus itu kita perbesar dan tinggal tekan toimbol disebelahnya sampai kotak putih menjadi hijau yang artinya sudah fokus. Tinggal di klik aja.
Demikian juga jika kotak fokus kita geser ke tulisan mobile. dan ini berlaku untuk Program AE,Tv (Shutter-priority AE), Av (Aperture-proiority AE), M (Manual) dan A-DEP ( Automatic depth-of-field). Nggak gampang juga pindah dari Film ke Digital. Tidak berlaku untuk full auto. Memang banyak yang harus dibaca dulu.
Memang agak sulit saat harus ‘pindah agama’, ini istilah yang menurut teman fotografer, merek adalah agamanya Sebetulnya dari harga yang setara adalah Canon 450D atau diluar dikenal dengan nama Rebel XSi dengan Nikon 80D. dari sudut harga di Amazon canon dihargai 659.99 US $ dan hasil jepretannya bisa dilihat disini (klik). Sementara Nikon D80 dihargai 799 US $ dan hasil jepretannya bisa dilihat di (klik) .
Namun demikian akhirnya saya pilih juga Canon 450D yang sebetulnya masuk kategori entry level. Namun Camera ini memang untuk saya berikan anak saya sebagai kado ulang tahunnya . Ya saya dulu sangat ingin masuk unit fotografi, namun dengan berbagai pertimbangan finansial akhirnya ya nggak ikutan . Untuk itu kok rasanya jadi terbayar kalau anak saya bisa nyalurkan minat saya
Memang sangat beda camera digital sekarang sudah demikian majunya. Semua yang dulu harus dikerjakan manual sudah banyak yang di otomatisasikan dan hasilnya juga sangat baik. Tadinya p[ertimbangan saya Canon 450D suda ‘live view’, ternyata setelah coba-coba lagi ternyata tetap lebih asyik membidik lewat cara konvensional
Memang belum banyak saya pelajari namun beberapa hasil sudah terlihat hanya dengan lensa kit dan pilih Av sebagai berikut :
Walaupun liburan lebaran sudah hampir tiba, sekolah SD,SMP dan SMA juga sudah pada libur dan sebagian karyawan juga sudah pada mudik namun banyak jalan di jakarta masih Padat Merayap (Pamer) seperti jalan Kasablanka dari putaran dibelakang Hotel Sahid hingga proyek kota Kasablanka. Kecepatan rata-rata hanya 10,8 km/jam Kejadian ini terekam pada saat hendak menghadiri buka bersama di proyek tersebut tanggal 25 Sepetember 2008
Sebetulnya sangat mudah menganalisa sumber kemacetan pada trip perjalanan tersebut diatas. Letakkan kursor anda pada grafik warna merah terus dilihat di peta itu posisi ada dimana. Ketika terjadi lompatan kecepatan itu tandanya kita sedang terbebas dari sumber kemacetan. Tinggal bagaimana upaya pembenahannya.
Kalau dari grafik terdahulu, jalan kaki terlihat datar karena jelas bisa jalan tanpa hambatan, naik angkot naik turun karena banyak sekali penumpang yang naik dan turun didalam perjalanan, naik busway berhenti hanya lampu merah atau halte jadi grafiknya juga hanya naik mencapai kecepatan maksimum dan turun lagi, ini akan mirip dengan MRT . Yang diperlukan disini bukan kecepatan maksimum namun seberapa besar percepatan untuk mencapai kecepatan optimal dan penumpang masih merasa nyaman. Naik ojek, nah ini dia mau itu tikungan, jalan macet masak bodoh pokoke bablas…..
Hari ini saya kekantor sengaja naik kendaraan umum. Pertama saya harus berjalan kaki dahulu dari rumah menuju jalan BDN untuk mencapai Angkot 01 jurusan PD Labu Blok M. Saya sengaja pilih angkutan ini, karena angkot ini lewat jalan tikus yang relative bebas macet dibanding metro mini dan bis kota di Fatmawati maupun Pangeran Antasari.
Selain itu, angkot juga nggak mungkin berdiri atau bergelantungan seperti di Bis kota atau metromini. Dikenakan biaya 3.000 perak sekali jalan.
Dari terminal Angkot di Blok M, jalan kaki menuju Busway. Sayang sekali meskipun saya sudah pernah dan hanya mengandalkan pengalaman saya, akhirnya saya sampai juga di loket penjualan tiket. Seharusnya untuk kendaraan umum sekelas busway tanda-tanda dari mana penumpang bisa beli tiket sudah harus lengkap diseluruh kawasan Blok M. Tapi kadang kita berpikir, ya begini aja juga sudah penuh sesak kok Dikenakan biaya 3500 jauh dekat
Naik Busway terus turun di Mesjid agung Sisingamangaraja, perjalanan dilanjutkan dengan ojek yang sudah menunggu. Dengan tikar mereka berteduh dibawah rimbunnya pepohonan Dikenakan biaya 15.000, ini nggak nawar lho, itu aja rasanya sudah seperti nggak pakai rem.
Seberapa cepat perjalanan kita di jakarta, kota yang sangat banyak kemacetan ini ? Kali ini saya coba untuk mengambil jalur dari Rumah saya di Jalan MPR menuju Kantor AT6 Internasional di Jalan Proklamasi 42. Jalur yang saya tempuh adalah Fatmawati, Masuk Tol di depan Citos, Keluar Tol Rawamangun dan masuk jalan Pramuka lewat Fly Over langsung ke Proklamasi. Ternyata kecepatan rata-ratanya hanya 32.4 km/jam. Dan distribusi kecepatan bisa dilihat pada gambar perjalanan tersebut diatas.
Seluruh perjalanan saya dalam satu hari, yakni tanggal 23 September 2008 saya catat dengan Holux M241 yang kemudian di upload di Every Trail dan terlihat bahwa diatas adalah kecepatan rata-rata paling tinggi Sendang untuk yang paling parah adalah dari Cikini ke Kerinci hanya 12,3 km/jam. Rasanya Jakarta memang sudah tidak lagi nyaman
Setidaknya 1,5 juta perjalanan terlayani dari hanya 4 juta penduduk Singapore, oleh karenanya saya sangat ingin sekali kita yang punya sekitar 200 KM rel peninggalan Balanda bisa dijadikan JMRT (Jakarta Mass Rapit Transit). Terbayang dengan sedikit saja pengembangan, angka diatas 1,5 juta tersebut akan sangat mudah diraih dengan jumlah penduduk Jabodetabek yang sekitar 15 juta.
Untuk itu mari kita longok bagaimana depot atau tempat pemeliharaan KRL di singapore dibangun ditanah yang begitu sempit. Dengan panjang sekitar 1300 meter dan lebar`sekitar 300 meter semua Kereta tampaknya bisa dipelihara dengan baik. Karena jalur keluar dan masuk ke depot juga sangat simpel, tidak ribet, tidak banyak manuver seperti dipo-dipo kita peninggalan jaman Belanda.
Sebetulnya kita juga sedang bangun Depot baru di Depok, sayangnya kalau dilihat dari Google kok kurang oke baik lebarnya maupun cara kereta keluar-masuk rel jalur utama Bogor-Jakarta
Perhatikan juga dari google earth depot kita seperti Bukit Duri dan Manggarai, dari ukuran dan sabegainya memang ini peninggalan jaman awal kereta api dikenal……
Ternyata masalah permumahan adalah masalah pelik di Indonesia yang maha luas ini. Di Indonesia yang panjangnya dari ujung benua Eropa sampai Iran, yang seluruh material untuk membangunnya berupa batu bata, kayu, genteng, pasir, kapur, batu kali, kaca dan sebagainya sebenarnya sudah tersedia di bumi pertiwi ini. namun begitu hal ini perlu didiskusikan, ternyata kita mengalami kesulitan untuk berdiskusi. Kita terjebak saling tuduh karena sebenarnya kita terlibat langsung pada permasalahan yang ada dihadapan kita. Dan tentu saja hal ini juga akan menyulitkan mencarikan solusi bagi pihak lain yang juga mengalami masalah jika masalah itu sendiri menghantui diri kita, padahal jelas bahwa masalah perumahan adalah masalah kita bersama dan dibutuhkan pemikiran yang serius untuk menyelesaikannya.
Saya mengangkat kasus ini yang bermula dari pandangan saya seputar subyek berjudul “Cukuplah Kampus Mencetak Garong*. Dalam pandangan saya tentunya kita berharap bahwa dosen-dosen yang telah membimbing kita dan kelak juga akan membimbing anak cucu kita sebagai generasi penerus bangsa memperoleh penghargaan yang baik, setidaknya seperti jaman dimana ITB mulai dioperasikan sekitar tahun 1920 an atau kalau bisa lebih baik dari itu karena telah tercetak kader-kader bangsa yang jauh lebih dapat berpikir dengan baik, berdiskusi dengan baik dan menyelesaikan masalahnya dengan baik. Sayangnya sebelum semua tuntas terbahas ada permintaan untuk menyudahi saja solusi ini tanpa solusi. Hal ini karena secara emosional telah menggiring pada pihak-pihak yang berkepentingan secara langsung dan menilai bahwa kesalahan sistem adalah kesalah pribadi dan akan dibiarkan saja dan pihak-pihak yang terlibat secara langsung menjadi pihak yang bersalah. Ini tentu jauh dari harapan penghargaan seperti awalnya bagaimana isue ini saya angkat.
Dalam pandangan saya memang ada perumahan dosen yunior dan senior yang berada dekat dengan kampus, hal ini memang direncanakan demikian untuk memberi kemudahan bagi pihak-pihak yang berkepentingan langsung pada dunia pendidikan khususnya ITB agar bisa dekat bahkan jalan kaki pun sampai ke Kampus untuk berbagai kepentingan mengajar dan mengadakan penelitian.
Yang yunior dengan berjalannya waktu akan menjadi senior juga dan yang senior akan wafat, ini adalah siklus umum kita sebagai manusia yang hidup didunia yang fana ini. Hal ini menjadi pelik ketika kita harus berpikir :
Bagaimana nasib keluarga dosen yang telah mengabdi pada ITB sekian puluh tahun. Hal ini muncul karena anak-anak yang telah dewasa sekalipun tetap menjadi tanggung jawab orang tua sehingga ada keiinginan kuat untuk mewariskan ini sebagai bekal anak-anaknya. Sudah mengajar anak orang, anak sendiri terabaikan tak dapat fasilitas apa-apa pula, tentu ini hal yang sangat ironis. Untuk itu saya usulkan untuk memberikan pesangon dua kali dari harga rumah itu sendiri sehingga kepentingan ini tetap terakomodasi dan ITB juga masih dapat menggunakan aset-asetnya sebagaimana keberadaan rumah-rumah tersebut pada saat perencanaan dulunya.
Bagaimana dengan jumlah dosen yang terus bertambah sejalan dengan kebutuhan rasio dosen dan mahasiswa yang terus berupaya diperbaiki ? Yang dosen-dosen yunior bisa dibuatkan apartemen di aset ITB yang memang diperuntukkan bagi dosen yunior dulunya tanpa harus merusak lingkungan seperti pengembangan perumahan ke daerah pakar dan sebagainya. kalau ada sepuluh rumah berjajar di Sangkurian kita robohkan kita jadikan banguan 10 lantai sudah dapat mengakomodasi sekitar 100 rumah dengan ukuran yang sama atau bahkan lebih karena apartemen tentu tidak perlu seluas rumah biasa.
Bagaimana dengan senior yang jumlah rumahnya juga makin terbatas sebagai aset ITB. Ya bisa juga didisainkan Apartemen yang lebih wah untuk kenyamanan dan kemudahan dosen senior misalnya menggunakan privat lift dan berada di daerah yang wah juga tentunya. Apa sulitnya ?
Solusi-solusi diatas bisa jadi contoh departemen lainnya agar transportasi nggak semakin semrawut, pemborosan BBM semakin besar karena kita tidak mengelola apa yang sebenarnya kita miliki dan kita kuasai. hal-hal seperti ini terjadi karena kita tidak memisahkan mana yang internal dan mana yang eksternal, mana yang hanya diantara kita dan mana yang merupakan kekayaan kita bersama seperti BBM yang terhamburkan dalam kemacetan dan hal-hal yang nggak perlu yang sebenarnya adalah devisa bagi kekayaan kita bersama.
Dana ? Sebenarnya pertumbuhan ekonomi yang ada di Indonesia dengan jumlah gedung dan apartemen dan mobil-mobil yang berseliweran itu dananya ya itu-itu juga. Hanya cara sampainya ketangan-tangan penggunanya yang melalui jalur yang aneh. Karena kita lupa menatanya. Sing Eling ra keduman….
Mengharapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan : mengharapkan keuntungan yang besar yang belum pasti, yang sudah dimiliki dibuang-buang / disia-siakan, sehingga akhirnya tidak punya apa-apa. Ini mungkin komentar saya melihat perjuangan ‘Babakan Siliwangi’ sementara perumahan dosen telah beralih tangan entah jadi milik siapa sekarang. Yang jelas dibelakang Gedung Sate saya lihat saat ini sudah jadi FO, jelas itu dulu rumah dosen yang saya kenal :-(
Ditengah menulis jawaban di milis IA-ITB seputar masalah Jangan Beri Anak Jalanan di Jalan saya baca detik prihal seorang Aktifis dan Alumni ITB yang tertangkap tangan di Hotel Aryaduta. Ini adalah dua kondisi yang kontradiktif. Disatu pihak ada juga rekan yang bilang bahwa memberikan empati pada kemiskinan terhadap anak jalanan adalah sah-sah saja dilain pihak kita melihat siapa sebenarnya yang membuat kemiskinan itu terjadi
Bagaimana korupsi bisa memiskinkan kita ? Bukankah uang hanya berpindah tangan saja dari satu tangan ketangan yang lain dengan menghasilkan suatu barang atau jasa ?
Dari kedua kasus yang saya sampaikan, yang satu adalah suatu proses meminta-minta dipinggir jalan adalah suatu proses berpindah tangannya uang yang tanpa diikuti oleh pertambahan barang atau jasa. Dan yang satu lagi proses korupsi juga sama, berpindah nya uang dari satu tangan ke tangan yang lain tanpa diikuti pertambahan barang atau jasa. Kalaupun ada jasa atau barang tentu itu barang yang sebenarnya dilarang oleh hukum, karena dilarang maka ada upaya melanggarnya melalui jalan belakang.
Tentu banyaknya kasus seperti inilah yang membuat banyak layanan yang tidak optimal diantara kita padahal kesejahteraan adalah kemampuan setiap anak bangsa memperoleh akses layanan disegala hal sesuai dengan apa yang diperlukannya. Dan orang yang tidak sejahtera adalah orang yang kesulitan mengakses layanan yang tersedia.
Dan siapa yang melayani jika ternyata uang bisa ditransaksikan tanpa diimbangi barang atau jasa bahkan sebenarnya mengurangi dari apa yang seharusnya diperoleh oleh para pengguna jasa atau pengguna jasa membayar lebih terhadap barang yang harusnya harganya bisa jauh lebih murah dan uangnya bisa buat menggunakan barang atau jasa lainnya.
Dengan jabatan, pendidikan, prestasi yang demikian seharusnya memang sudah tenang-tenang saja tinggal di kawasan Dago sekitar Pager Gunung, Kiai Gede dan sekitarnya. Menjadi pertanyaan siapa penghuni daerah-daerah elit ini jika ternyata elitnya juga kere ? Dan inilah yang sering saya tulis ada yang salah dibumi pertiwi ini, bahwa kita kehilangan pengharapan bahwa bertambahnya pendidikan, bertambahnya pengalaman, bertambahnya jabatan akan sampai pada suatu tingkat kesejahteraan yang seharusnya kita peroleh secara normal saja, ternyata tidak karena termakan devaluasi dan inflasi dan penyebabnya adalah korupsi dan sikap menghadapi anak bangsa sendiri seperti Penjajah menyikapi kaum pribumi pada saat penjajahan.