Angan-angan koe
untuk negeriku yang sangat kucinta
Archive for Mei, 2008
Mei 30, 2008 at 21:53 · Filed under sosial
Jika kita bandingkan dengan Singapore, sebuah negara dengan penduduk sekitar 4 juta orang dan memiliki jaringan perkereta apian yang disebut SMRT yang hanya 89 km panjangnya mampu mengakomodasi 1,1 juta perjalanan perhari, maka apa yang salah dengan Jakarta yang memiliki penduduk sekitar 12 juta dan panjang rel mencapai 200 km hanya mampu mengakomadsi sekitar 300 ribu dari sekitar 30 juta perjalanan perhari ?
Sebagian besar jaringan KRL Jabodetabek adalah KRL (Kereta Rel Listrik) yang jaringannya merupakan tinggalan jaman Belanda. Dan dalam perhitungan kasar saya jika saja mampu mengkomodasikan sekitar 3.000.000 perjalanan perhari akan mampu menarik uang masyarakat dengan tarif murah 2.500 rupiah saja akan terkumpul dana 7,5 milyar sehari. Maka dalam setahun yang 365 dan hanya kita ambil 300 hari kerja telah terkumpul 2,25 Trilyun Rupiah, ini adalah jumlah yang sangat besar jika dibandingkan pendapatan perkereta apian jabodetabek saat ini.
Untuk mencapai hal ini sebenarnya sederhana saja yang harus dilakukan bangsa ini. Pertama seluruh perjalanan dari luar kota cukup berhenti sampai Bekasi atau Serpong. Dan seluruh perjalanan dalam kota hanya dilayani oleh KRL yang ber AC dan dapat deberangkatkan setiap 5 menit pada jam biasa dan 3 menit pada jam sibuk Seluruh penumpang dikenakan biaya sebelum masuk setasiun seperti halnya busway, dan penumpang bebas berpindah kereta pada persimpangan jalur KRL. Misal ada jalur dari Bekasi ke Tanah Abang. Di Manggarai berpotongan dengan jalur dari Kota ke Bogor dan di Jatinegara berpotongan dengan jalur dari Kota-Senen-Jatinegara dan di Tanah Abang bisa berpindah ke Jurusan Tanggerang atau Serpong.
Langkah yang juga perlu dilakukan adalah menata kembali lokasi-lokasi setasiun berdasarkan perkembangan kota. Hal ini ditujukan untuk kemudahan berpindah moda seperti ke Busway atau ke Rumah Susun, Perkantoran atau Mall yang bisa jadi pusat pertumbuhan baru.
Menjalin kerjasama Perusahaan-perusahaan yang ada dinegeri ini seperti PT. Inka, PT Krakatau Steel, PT. Inti, Bank Mandiri seperti halnya dalam tajuk ‘uang’ uantuk bisa saling mencatat hasil kerja dan kinerjanya sehingga bagian yang dimport menjadi sangat minim.
(Bersambung)
Mei 30, 2008 at 21:50 · Filed under sosial
Kereta api di Indonesia ditandai dengan pengayunan cangkul pertama oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele di desa Kemijen Jum’at tanggal 17 Juni 1864 yang diprakasai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indishe Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM). Perusahaan swasta NV. NISM menbangun jalan kereta api antara Kemijen – Tanggung dan pada tanggal 10 Febuari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang – Surakarta (110 Km). selain di Jawa, pembangunan jalan kereta api juga dilakukan di Sumatera Selatan (1914), Sumatera Barat (1891), Sumatera Utara(1886), Aceh (1874), bahkan pada tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan kereta api sepanjang 47 KM antara Makasar – Takalar. http://www.infoka.kereta-api.com/profil/?id_con=4&subcat=sejarah
Bisa kita bayangkan bahwa tekonologi mesin uap yang baru berkembang di dataran Eropa, pada tahun 1864 kita sudah bangun jalur kareta api. Ini benar-benar luar biasa mengingat bentuk kereta uap pada saat itu yang belum sempurna.
Gambar dibawah adalah kereta uap yang diproduksi pada tahun 1848 (pertama dikenal kereta uap secara komersial) dan generasi berikutnya pada tahun 1864. Hanya dibutuhkan waktu 16 tahun dari produksi kereta api saat itu kita sudah bangun jalur di Indonesia. Dapat kita bayangkan apa yang seharusnya kita miliki saat ini, jika negeri ini dikelola dengan benar.
Berikut adalah rangkaian generesai Kereta api yang sebagian bisa dilihat di Museum Ambarawa
1831

1863

1876

1893

1905

1911

1912

Sebetulnya cukup mengharankan juga bahwa Rel Kereta tidak dibangun dari Batavia tapi justru dari Semarang-Solo mengingat bawa lokomotf pada saat itu juga bukan barang gampang. Kapal uap juga barang baru
Sebagai gambaran perkembangan mesin Uap
Mei 29, 2008 at 16:36 · Filed under sosial
Indonesia sebuah negara yang dilimpahi berbagai macam bentuk energi. Mulai dari Minyak, batu bara, gas alam. panas bumi, air, surya, kompos, bio disel apapun ada. Minyak bakar hanyalah salah satu saja dari sekian banyak energi yang tersedia. Inipun Hingga kini Indonesia secara resmi disebut masih mempunyai cadangan minyak sebesar 9 miliar barrel.
Di Jaman Orde Baru ketika harga minyak sangat rendah, pemerintah berkeluh kesah. Seolah jalannya pemerintahan menjadi lesu darah. Saat ini ketika orde reformasi dan harga minyak demikian tinggi, pemerintahpun panik seakan kita akan segera bangkrut. Seolah net importer menjadi masalah paling utama. Padahal berapa persen sih sebenarnya yang harus kita import ? Atau sudahkah kita bersungguh-sungguh mengoptimalkan lifting yang 9 milyar barel tersebut ?
Harga minyak yang meroket, tentu juga akan diikuti teman-temannya di bidang energi alternatif seperti gas dan batu bara atau biodisel. Permintaan akan energi sepanjang bisa digantikan dengan beberapa sumber energi tersebut tentu akan diupayakan negara lain yang sama sekali nggak punya energi minyak bumi untuk pindah ke energi alternatif dan otomatis juga harga akan ikut terangkat.
Jadi apa sebenarnya masalah kita sehingga rakyat yang harus diberi beban tambahan dipundaknya ? Apakah telah terjadi perunbahan bentuk dan hakekat-hakekat bernegara dari Orde Baru ke Orde Reformasi ?
Mei 26, 2008 at 07:57 · Filed under sosial
Kita ambil positifnya aja toh harga bbm sudah dinaikkan. Sebetulnya memang bukan ’subsidi’ istilahnya tapi ‘Expected Opportunity Loss’ ini mungkin lebih tepat.Masyarakat kita memang dalam tahap transisi antara bertransaksi dengan simbol-simbol (belas kasihan, penghormatan, kebersamaan, gotong royong, upeti dlsb) dan bertransaksi dengan ‘uang’.Memang jika kita hanya menggunakan simbol-simbol bisa juga hidup di Indonesia ini, sebab alamnya begitu ramah untuk menyediakan segala hal yang diperlukan bahkan cendrung berlebih. Hanya saja bertransaksi dengan simbol-simbol ini mempunyai konsekwensi menjadi terdiskriminasi untuk bertransaksi dengan masyarakat yang menggunakan tanda ‘uang’. Misal untuk parkir di pasar di desa tentu sehari semalam nggak perlu bayar nah begitu masuk Jakarta se jam bisa 2.000 perak. Ini tentu menyulitkan untuk penduduk pedesaan.Gejala ini juga yang mengakibatkan banyak penduduk desa bermigrasi/urbanisasi kekota besar guna mendapatkan jasanya dengan tanda ‘uang’Hal yang sama juga terjadi ketika kita dibayar dengan upah yang sebetulnya hanya skala lokalan saja sehingga banyak juga yang keluar negeri guna mendapatkan standard upah yang global.
Upah skala lokalan ini dengan produk skala global memang tidak adil apa lagi kalau beban2 pengeluaran juga dipaksakan dengan standard global, padahal kalau mau ada cara lain yakni dengan memperkuat nilai rupiah yang otomatis akhirnya akan sampai pada skala global juga.
Tinggal dihitung saja kalau premium harganya 4.500 rupiah sama dengan 0,5 US $ dimana 1 US $ = 9.000 rupiah maka kalau premium global 9.000 seliter atau 1 US$ ya bikin saja 1 US $ = 4.500 rupiah .
Pembodohan yang luar biasa jika ada anggapan bahwa rupiah yang dikumpulkan oleh pemerintah melalui menaikkan harga BBM bisa ditukarkan mata uang asing untuk beli BBM, BBM import (jika ada) hanya bisa dibeli melalui peningkatan eksport. Menaikkan BBM hanyalah meningkatkan pendapatan pemerintah dari sektor bukan pajak…. alias pajak juga jadinya hanya istilahnya saja yang berbeda
Kesalahan kelola seperti inilah yang membuat rakyat akan tetap miskin di negara yang sebenarnya kaya raya
Mei 22, 2008 at 08:21 · Filed under sosial

Hari-hari ini merupakan hari yang sulit bagi SBY untuk mengambil keputusan naik atau tidaknya harga BBM. Banyak pompa bensin di Jakarta sudah membatasi pembelian premiun untuk kendaraan pribadi maksimun 75.000 rupiah dengan harga 4.500 rupiah seliternya. Memang masih diperbolehkan membeli dari beberapa pompa bensin sehingga dicapai jumlah yang diinginkan
Disisi lain BBM yang konon ‘tanpa subsidi’ sudah mulai terlihat lesu darah. Pembeli hanya satu dua mengingat perbedaan harga yang begitu menyolok. Pertamax seharga 9.250 rupiah seliter sementara premium hanya 4.500 rupiah seliter. Kalaupun naik jadi 6.000 rupiah seliter juga masih terdapat perbedaan harga yang jauh dan ini akan sulit bagi produk-produk sejenis pertamax yang dipasarkan Shell, Petronas, Gulf..
Disisi lain Wiranto sudah pasang iklan sebagai upaya menarik simpati pendukungnya menjadi RI 1 2009-2014 dengan pasang iklan :
‘Semoga SBY Tepat janji Tak Menaikkan Harga BBM. Karena penduduk miskin akan bertambah, karena keresahan sosial akan meluas, karena masih ada solusi lain. Kami mengimbau pemerintah pertimbangkan kembali rencana kenaikan harga BBM, apalagi SBY pernah berjanji tak menaikkan BBM kembali. Jika pemimpin berjanji, selayaknya janji itu ditepati.‘
Memang bukan suatu keputusan yang mudah untuk mengambil keputusan yang tidak populer
Mei 21, 2008 at 06:20 · Filed under sosial
Karena data komentar yang ada di blog ini masih ngacak maka saya jawab disini saja
Komentar :
“Seandainya Indonesia bukan penghasil Crude oil harganya Rp.8.703 perliter ini tentu mutunya sama dengan pertamax yang sekarang di jual 9.250 perliter. Rakyat Indonesia kelebihan bayar disini”
Fakta yang Bapak abaikan: Indonesia itu ngga invest sendiri untuk mengeksplorasi, mengeksploitasi, dan mengilang minyak. Ada saham swasta, sehingga RI menerima bagian kira2 60% saja. Jadi tidak bisa diklaim bahwa semua yang dihasilkan itu 100% punya kita.
Jawab :
Saya pikir semua negara juga nggak ada yang invest sendiri (100%). Harga yang terbentuk dipasaran internasional bukan harga didasarkan biaya produksi dan keuntungan produksi normal, namun harga yang dibentuk para spekulan. APBN kita memisahkan antara penerimaan migas dan pengeluaran migas dan ini selisihnya masih terus positif. Bahan bakunya milik bangsa ini harga tetap kok harga jualnya bisa naik, apanya yang menyebabkan naik ? Ya para spekulan itu.
Eksport migas Feb 2 381,1 Maret 2 759,5 dalam juta US $ 2008
Import migas Feb 2 504,8 Maret 2 408,6 dalam juta US $ 2008
Bila dibandingkan dengan Maret 2007, nilai ekspor Maret 2008 mengalami peningkatan 31,24 persen, yang disumbang oleh naiknya ekspor migas sebesar 75,27 persen dan ekspor nonmigas sebesar 21,99 persen.
Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama Januari-Maret 2008 mencapai US$ 33 621,1 juta atau meningkat 31,43 persen dibanding periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 26 236,3 juta atau meningkat 24,83 persen.
Dari data BPS Berita Resmi Statistik No. 22/05/Th. XI, 2 Mei 2008
Komentar :
“Seandainya Indonesia menghasilkan Crude Oil 2 kali kebutuhannya harganya anatar 0 sampai 8.703. Rakyat bisa dapat uang bulanan dari pemerintah tanpa kerja”
Masa sih Pak? Malaysia itu produksinya sedikit di bawah RI, penduduknya sepersepuluh RI, jadi perkapita minyaknya 6-7x perkapita minyak RI. Itu aja ngga dapet duit gratis dan BBM gratis. Lagipula negara macam apa yang mendidik rakyatnya untuk tidak bekerja? Apakah minyak itu tidak akan pernah habis dan selalu mempunyai nilai ekonomi? Bahaya pak.
Jawab :
Duit Gratis maksud saya bisa diberikan dalam bentuk lainnya, bisa dalam bentuk jamainan sosial nasional, sekolah gratis atau bisa juga datang ke taman-taman nasional gratis, bisa juga dibiarkan saja menjadi cadangan devisa, karena ini jadi kekayaan bersama sebagai keluarga besar yang bernama Indonesia.
Komentar :
“Pertanyaan kita sekarang ? Seandainya beras dijual dengan harga 5.000
perkilo, apakah rakyat petani tidak memberikan subsidi terhadap beras
yang berharga hampir 10.000 perkilo dipasar internasional ?”
Ini rancu sekali. Gampangnya saja Pak, kalau petani kita bisa menjual dg harga rp10 ribu/kg ya silahkan. Asal ada yang mau beli. Itu kan hukum pasar. Tidak ada cerita subsidi dari petani. Ada permintaan dan penawaran sampai terjadi keseimbangan. Pemerintah kan tidak menetapkan harga beras RI harus dibawah Rp 10 rb kan Pak? Justru pas harga beras naik, semua orang teriak2 minta turunkan.. hahahaha…
Lagian harga beras luar sampe semahal itu kan karena kualitasnya juga beda Pak. Buktinya beras Vietnam lebih murah tuh..
Jawab :
Harga Minyak yang nentukan Pemerintah, harga beras yang nentukan juga pemerintah. Investor minyak mungkin orang asing sehingga anda beranggapan layak dihargai global, investor beras rakyat biasa mungkin anda beranggapan layak diperlakukan lokalan. Harga beras yang nentukan juga pemerintah melalui BULOG. Jika harga naik mereka siap melakukan operasi pasar. Kalau mereka (petani) punya beban Internasional ya biarkan saja dapat pendapatan internasional juga. Atau cuma dalam kasus ini uang jatuh ketangan rakyat bukan ke tangan pemerintah
Komentar
Insinyur yang mau digaji 2 juta juga ya berarti itulah kualitas dia. Kalau dia bisa, silahkan pindah ke negara/perusahaan yang mau menggajinya $4 ribu sebulan…. KALAU ADA YANG MAU…
ada harga ada rupa… ngga ada pemerintah larang2 insinyur digaji lebih tinggi, kan labor market itu bebas Pak. Jadi ngga ada urusan sama istilah subsidi, kecuali kalau sudah ada yang mau gaji dia $4 ribu trus dilarang pemerintah dan cuma boleh dikasih 2 juta, nah baru bener ada subsidi terpaksa
Jawab :
Harga billing rate insinyur Indonesia juga ditentukan pemerintah melalui Keppres dan juga Surat Edaran Bappenas. Swasta Indonesia juga ikut-ikutan mengacu pada patokan ini. Besaran fee konsultan juga dibatasi, apakah karya kita berupa Hotel, Mall. Perkantoran lebih buruk dari yang Internasional ?
Kalau mau serba Internasional ya lepaskan saja semua harga Internasional. Biar korupsi juga ngilang
Korupsi akan semakin menggila karena beban Internasional gaji lokal
Terima kasih akan komentarnya.
Mei 20, 2008 at 18:09 · Filed under sosial
Omong kosong pemerintah menanggung biaya subsidi. Tanggungan itu
nggak pernah ada, itu cuma suatu angan-angan seandainya BBM nggak dipakai sendiri dan bisa(laku) dijual keluar

. Angan-angan sih boleh aja seperti nama blog ini ….
Seandainya Indonesia bukan penghasil Crude oil
harganya Rp.8.703 perliter ini tentu mutunya sama dengan pertamax yang sekarang di jual 9.250 perliter.
Rakyat Indonesia kelebihan bayar disini
Seandainya Indonesia menghasilkan Crude oil sama dengan konsumsinya harganya antara Rp.1.115 sampai Rp.8.703 perliter. Kalau jual 4.500 namanya sudah untung besar, lebih dari 400 % nya
Seandainya Indonesia menghasilkan Crude Oil 2 kali kebutuhannya harganya anatar 0 sampai 8.703. Rakyat bisa dapat
uang bulanan dari pemerintah tanpa kerja
Indonesia melakukan subsidi seandainya BBM dijual dibawah 1.115 rupiah perliter
Pertanyaan kita sekarang ? Seandainya beras dijual dengan harga 5.000 perkilo, apakah rakyat petani tidak memberikan subsidi terhadap beras yang berharga hampir 10.000 perkilo dipasar internasional ?
Seandainya seorang insinyur lulusan ITB hanya dibayar 2.000.000 sebulan, apakah itu bukan berarti dia memberikan subsidi juga dibanding harga lulusan ITB juga yang laku di pasar perminyakkan ?
Mei 19, 2008 at 23:11 · Filed under sosial
Pak Johand dan Rekan ysh,
Perhitungan yang disampaikan pak Johand Dimalouw sangat bagus, lebih
bagus daripada iklan-iklan Wiranto atau iklan orang yang dipecat
Wiranto karena kasus penculikan Aktifis (Prabowo) ataupun iklan orang
yang pernah digosipkan mengencani istri Gusti Randa (Sutrisno Bachir)
http://www.kapanlagi.com/h/0000117404.html
Meskipun pada akhirnya mungkin pemerintah tetap menerapkan kenaikan
harga BBM dengan dukungan rakyat yang tak mengerti dan dicekoki
dengan slogan ‘Buat Apa Mensubsidi Orang Kaya’ yang ini sebenarnya
kurang tepat karena orang kaya yang berproduksi dengan mudah
memindahkan bebannya pada konsumen dan akhrinya beban itu ada di
pundak masyarakat yang tak berdaya atau yang punya margin tipis
terhadap keuntungan suatu usaha, hitungan ini layak tetap diterapkan.
Memang pertimbangan naiknya haraga BBM tidak semata karena cairan itu
milik negeri ini yang banyak dikelola asing, namun juga banyak faktor yang melatar belakangi
antara lain Obligasi Pemerintah (SUN) yang mungkin juga banyak
dimiliki orang asing yang akan melihat kinerja pemerintah dari sudut
APBN yang mencerminkan kemampuan pemerintah memperbaiki infrastruktur
negeri ini. Padahal secara makro Indonesia sebenarnya tidak punya
masalah dengan naiknya harga BBM. Malah positif sebagai berikut :
Eksport migas Feb 2 381,1 Maret 2 759,5 dalam juta US $ 2008
Import migas Feb 2 504,8 Maret 2 408,6 dalam juta US $ 2008
Bila dibandingkan dengan Maret 2007, nilai ekspor Maret 2008
mengalami peningkatan 31,24 persen, yang disumbang oleh naiknya
ekspor migas sebesar 75,27 persen dan ekspor nonmigas sebesar 21,99
persen.
Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama Januari-Maret 2008
mencapai US$ 33 621,1 juta atau meningkat 31,43 persen dibanding
periode yang sama tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai US$
26 236,3 juta atau meningkat 24,83 persen.
Dari data BPS Berita Resmi Statistik No. 22/05/Th. XI, 2 Mei 2008
Pun demikian, upaya terus meningkatkan eksport migas dan non migas
seperti yang disampaikan pak Johand perlu mendapat acungan jempol,
meskipun ada juga politisi yang bilang jangan kuras kekayaan alam
kita, itu untuk anak cucu, padahal pada jamannya nanti cairan itu
nggak lagi ada gunanya karena teknologinya sudah berbeda
Salam
RM
Mei 16, 2008 at 21:14 · Filed under sosial
Pada dasarnya saya setuju BBM dinaikkan dan menggunakan harga pasar yang sebenarnya. Hal ini untuk mendapatkan nilai yang sama bagi seluruh anak bangsa terhadap anak bangsa lainnya dalam hak dan kewajiban. Mendapat upah dan perlakuan yang sama serta mendapatkan haknya yang sama juga terhadap bangsa lain.
Namun demikian, hal ini harus dilakukan secara hati-hati dan gradual. Ketika pemerintahan Megawati menaikkan harga BBM, saya sangat setuju hal itu dilakukan dengan harapan perbaikan terhadap penggajian PNS Sipil dan ABRI segera dilakukan. Namun kondisinya tidak juga demikian sehingga yang terjadi sekarang justru korupsi terjadi hampir diseluruh lini.
Bangsa kita bukan bangsa pencuri, tapi sistem yang membuat sebagian masyarakat kita menjadi pencuri. Baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun yang berdalih.
Korupsi dilakukan mulai dari mengambil pekerjaan orang lain dari yang memang bidangnya sampai yang bukan bidangnya dengan dalih mencari obyekan buat tambahan dapur sampai dengan pemerasan terhadap pengguna jasa. Ini benar-benar keterlaluan.
Pun demikian ini sulit dihindari mengingat hampir semua pihak kehilangan kepercayaan bahwa bertambahnya pengalaman, bertambahnya jabatan, bertambahnya pendidikan akan membuat seseorang mencapai suatu tingkat kesejahteraan yang seharusnya dia peroleh.
Hal ini diakibatkan oleh kesalahan kelola terhadap rupiah yang kita pegang. Gejolak terhadap rupiah seolah tidak ada hentinya dari tahun ke tahun.
Saya kuatir dampak dari kenaikan harga BBM kali ini akan membuat banyak proyek yang berjalan tersendat atau terhenti dan ini juga berarti saya harus merasionalisasikan lagi personel-personel saya.
Sebagai pengusaha seolah saya tidak pernah dibiarkan mendidik, membekali, mensejahterakan karyawan. Semua dalam kondisi terancam PHK dan ini benar-benar bukan situasi yang kita harapkan bersama
Salam Kemelut
RM
Mei 16, 2008 at 13:35 · Filed under sosial
Ini cuplikan chating yang baru saja saya lakukan
Mr. X : Bisa anda jelaskan Apa itu Subsidi BBM?
RM`: harga BBM berdasarkan patokkan yang dibuat, masalah patokannya apa wong harga BBM di Singapore juga lebih mahal sementara di Malaysia lebih murah dari di Amerika. Jadi patokan itu yang penting
RM : Kalau harganmya lebih mahal dari yang dipatok maka pemerintah harus nambah dan ini disebut subsidi, tapi ditambah kemana seperti yang di tulis KKG
Mr. X : Harga Patokan di APBN US$60/BBL dan ada angka Subsidi 55,6T Gimana tuh?
RM : Mungkin harga dipasar waktu APBN itu disetujui sudah diatas 70 $ atau rakyat dianggap nggak mampu beli dengan harga diatas 70 $ , jadi pemerintah harus mengambil devisa 55,6 Trilyun rupiah untuk nombokin kekurangannya. Kespakatan untuk ngambil devisa ini yang nggak bisa terus diambil dari rupiah ditangan rakyat tapi harus dengan meningkatkan eksport. Sementara naiknya harga BBM akan membuat harga barang eksport kita meningkat….. ini kesalahan pak
RM : Atau kalau mukim nelayan tempo hari jadi, mendatangkan devisa, tapi dengan naiknya harga BBM nelayannya jadi nggak melaut dan devisa malah gagal diperoleh
RM : Kelihatannya ini urusan depkeu dengan BI karena mereka terpisah kewajiban dan tanggung jawabnya.
Next entries »