Pencuri Negeri Sendiri

Posted in sosial on November 20th, 2008 by RM

Mungkin kita terlalu lama dijajah Belanda yang konon ada dua periode, periode pertama adalah diduduki oleh VOC yang notabene adalah perusahaan swasta dan ketika VOC bangkrut karena dikelola dengan sangat korup, kemudian kita diduduki oleh pemerintah kerajaan Belanda. Kondisi mungkin menjadi lebih baik pada periode kedua ini, namun hingga saat ini banyak sekali aturan dan peraturan yang masih memperlihatkan suatu sikap yang memandang rakyat sebagai rakyat yang terpisah dari Pemerintah sebagai sebuah kekuasaan mutlak yang mengatur seluruh kekayaan negara untuk kepentingannya dan bukan untuk kepentingan rakyat.

Padahal orang-orang pemerintahan itu hakekatnya ya rakyat juga. Mereka hanyalah mengelola kebutuhan-kebutuhan sosial masyarakat negeri ini, sementara kebutuhan-kebutuhan yang bersifat komersial bisa diadakan sendiri oleh masyarakat untuk saling mengisi. Dari kegiatan komersial inilah sebagian disisihkan untuk pemenuhan kebutuhan sosial yang dikelola melalui mekanisme pajak.

Ketika pemahaman dasar hidup bernegara ini bias, maka konsekwensinya rakyat seperti berhadapan dengan negara. Rakyat akan selalu berupaya merebut yang bukan haknya untuk sekedar makan, berteduh bahkan untuk memperkaya diri. Pertempuran antara rakyat dan pemerintah terjadi hampir disemua lini. Mulai dari hutan-hutan hingga ditengah kota-kota besar.  Menjadi lebih parah lagi ketika Pemerintah memberikan hak-hak pengelolaan kekayaan negara yang seharusnya menjadi milik rakyat pada pengusaha-pengusaha multinasional. Rakyat benar-benar dipandang sebelah mata sebagai suatu potensi yang sebenarnya merupakan kekayaan negeri ini.

Dalam pandangan yang lebih ekstrim lagi Pemerintah mendudukkan dirinya sebagai ningrat yang selalu haus untuk dilayani oleh para jongos yang harus diberi upah rendah agar para ningrat tersebut dapat selalu terlayani. Jangan sampai para jongos tersebut menjadi sejahtera karena akan meninggalkan posisinya sebagai ‘jongos’. Pandangan ini saya peroleh dari tanggapan terhadap sepenggal pandangan saya di sebuah milis.

Rasanya memang seperti itu, sehingga posisi pemerintah yang seharusnya memenuhi layanan publik yang bersifat sosial malah terabaikan. Aparat-aparat pemerintah malah minta dilayani hampir disetiap jenjang dan lebih celaka lagi mereka mengutipi pungli hampir disemua lini dan sektor. Hal ini mencerminkan jauhnya  fungsi pemerintah yang ‘ideal’.

Mereka tidak lagi berpikir perlunya mendapatkan devisa dengan berbagai upaya yang positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, namun justru berpikir bagaimana bisa hutang untuk memudahkan merealisasikan apa yang ada didalam benak si ‘ningrat’.

Bahwa ini memiliki konsekwensi biaya uang yang sangat besar sehingga mengakibatkan terdevaluasinya rupiah terus menerus tidak lagi jadi masalahnya. Mereka hanya memandang bahwa pelemahan rupiah adalah peningkatan daya saing di pasar global… padahal ini jelas pemutar balikkan fakta, bahwa pelemahan nilai rupiah adalah pemiskinan terhadap anak bangsa sehingga dari hari ke hari rakyat semakin menghalalkan segala cara untuk menyambung hidupnya.

Bahwa pelemahan rupiah mengakibatkan anak bangsa rela menjadi ’jongos’ di negeri orang dan karena pemerintah yang memiliki jiwa ‘ningrat’ yang haus untuk dilayani maka hal ini dianggap saja sebagai hal yang positif.

Dan para ‘jongos’ siap mencuri barang milik negara jika sang majikan sedikit lengah :-) Ditepian jalan kereta api, dikolong-kolong jembatan dan jalan tol, dibantaran sungai, diatas trotoar, di terminal bayangan hampir disetiap fasilitas publik yang yang bisa mereka duduki akan di jadikan tempat usaha dan berteduh

 

 

 

Subsidi Untuk Rakyat

Posted in sosial on November 17th, 2008 by RM

Di bak sebuah truck pengangkut Tabung Elpiji ukuran kecil tertulis “Subsidi Untuk Rakyat Barang Milik Pemerintah”. Dalam hati saya berpikir ’subsidi untuk rakyat ?’ Siapa Rakyat dan Siapa yang nggak mendapat subsidi, pastinya bukan rakyat. Terus mereka apa jika bukan rakyat, apakah mereka pemerintah ?. Wah, pemerintah kan rakyat juga :-)

 

Seandainya ada ‘bukan rakyat’, katakanlah ia seorang pendatang dari negeri antah berantah yang tentunya bukan rakyat Indonesia dimaksud. Terus orang tersebut jajan pisang goreng seperti pada gambar tersebut diatas. Terlihat tabung elpiji ukuran kecil yang konon barang pemerintah dan subsidi untuk rakyat, maka otomatislah orang dari negeri antah berantah tersebut mendapatkan juga manfaat dari subsidi. Mungkin kalau harga normal sebuah pisang goreng harganya 2.500, namun karena gas nya di subsidi maka harganya cukup 1.000 perak saja.

Ini terjadi untuk semua slogan yang berlabel subsidi, seperti pupuk bersubsidi, lha yang makan berasnya kan orang kota. Jadi sebaiknya memang bukan sistem subsidi yang diterapkan. Namun terapkanlah Jaminan Sosial Nasional, peliharalah orang-orang jompo, orang-orang secara fisik terkendala, secara mental terkendala oleh negara. Manfaatkan tenaga-tenaga produktif sepenuhnya untuk kemajuan bangsa. Untuk itu memang dibutuhkan pemerintah yang Cerdas

Kota Jawa

Posted in sosial on November 17th, 2008 by RM

Harian Kompas hari ini mengangkat berita utama yang kira-kira mengkhawatirkan bila jalan tol Jakarta Surabaya terbangun akan muncul sebuah kota yang ukurannya sangat besar yakni kota Jawa :-) Bukan hanya itu, jawa yang terkenal sebagai lumbung padi yang menyediakan 53 % kebutuhan beras Indonesiapun akan hilang perannya sejalan dengan tanah yang termakan oleh pembangunan tersebut. Benarkah demikian ?

Berikut adalah perjalanan Jakarata Bandung yang karena jalan tolnya macet maka saya ambil jalan Pantura dari Kerawang Barat menuju Cikampek. Dulu kalau ke Surabaya, saya selalu lewat jalan ini, karena ini jalan negara dan juga jalan tol belum tersedia. Banyak perlintasan kereta api di jalan ini dan juga banyak rumah makan sebagai tempat istirahat para pengemudi jarak jauh :-). Namun dengan dibangunnya jalan tol maka rumah makan itu sudah jauh berkurang.

Sebetulnya, kalau kita lihat dikanan kiri jalan tol, persawahan tidak terganggu, juga pemukiman yang mendekat jalan tol kebanyakan hanya sisa-sisa masa lalu dimana ada perkampungan yang terbelah oleh kehadiran jalan tol. Hanya saja yang mencemaskan, dalam banyak kasus tanah ini jadi mahal harganya dan sertifikatnya sudah dikuasai oleh banyak orang-orang berduit sebagai jaminan ke Bank untuk mengucurkan perkreditan :-(

 

Ini berbeda dengan jalan Negara, dimana masyarakat cenderung mengambil posisi tepat di pinggir jalan untuk buka berbagai jenis usaha. Dengan cara demikian maka memang akan terasa bahwa kota dengan kota berikutnya menyambung seperti gambar diatas.

 

Yang juga tak kalah hebohnya adalah ini jalan Negara yang tentunya berbeda dengan Jalan Tol yang dikelola Swasta.  Jalan ini terus saja ditingkatkan, dibangun dan dibangun. Dan tentu saja akan diikuti dengan pertumbuhan rumah-rumah yang berada disekitar jalan negara tersebut.

 

 

 

Mie Baso

Posted in sosial on November 17th, 2008 by RM

Antara Bandung dan Jakarta memang ada sedikit perbedaan dalam hal mie baso. Kalau di Jakarta kita pesan Mie Baso seperti di Gajah Mada, Gang Kelinci, Gondangdia dsbnya maka biasanya disajikan dalam bentuk kuah dan mie terpisah. Mie dalam kondisi nyemek tinggal mau ditambah kuah atau tidak :-)

Sementara jika di Bandung kita minta mie baso, maka akan keluar mie  dan kuah jadi satu. Jika ingin kuah dipisah maka ada istilah Yamien. Nah Yamien ini dibagi dua kategori, satu yamien asin dan satu lagi yamien manis, yang masing-masing dibedakan dari kecap asin atau manis :-)

Di Bandung sendiri ada banyak tempat yang cukup favorit bagi saya. Di Hasanudin ada Rumah makan Yo kemudian di Jl. Kejaksaan juga ada dan rumah makan ini terbilang sangat tua, karena rasanya sejak saya bisa ingat ada mie baso rumah makan ini sudah ada :-)

Yang tidak kalah tuanya ada juga di Jalan Balong Gede No. 1 Bandung, sebelah Bioskop Dian. Rumah makan ini bernama Linggar Jati. Mungkin dulu sambil nunggu jam tayang makan mie baso dulu disini.  Rumah makan ini memang mengkhususkan diri Mie Baso dan Es Alpokat yang dari hari ke hari alpokatnya sepertinya selalu dengan tingkat kematangan yang selalu sama. Suasananya pun tetap tak berubah … tempo dulu.

Jaman sebelum tahun 80 an memang bioskop belum dimonopoli studio 21. Ada banyak tempat tontonan yang bersaing menyajikan film yang berbeda-beda. Ada yang mengkhususkan film China, Film India, Film koboi dsbnya. Beberapa gedung bioskop yang ada dikota Bandung kala itu adalah Panti Karya, Vanda, Braga dan Dian di alun-alun yang kemudian dengan dibangunnya pertokoan Palaguna ada saingan berat yakni Nusantara Theater. Namun tetap yang paling nyaman nonton di Paramounth Jl. Sudirman. Meski agak jauh, tapi rasanya puas kalau nonton disini :-) Entah cara mana yang bagus apakah cara monopoli seperti konglomerasi perfileman seperti saat ini atau cara seperti jaman dulu :-( dimana banyak pengusaha bisa tumbuh dan ikut hidup yang salah satu teman sekolah di SMAK Dago, orang tuanya si Lola :-)

 

Sambal Hejo

Posted in sosial on November 15th, 2008 by RM

 

Penat bekerja sepanjang beberapa minggu ini, kali ini  hari sabtu dan minggu sengaja saya nggak mau datang ke proyek :-) Hari ini saya gunakan untuk jalan-jalan saja ke Bandung. Rupanya jalan-jalan ke Bandung juga bukan menghilangkan stress malah jadi lebih stress lagi :-)

Keluar dari Jakarta kondisi hujan lebat, mobilpun tak bisa dipacu kencang. Yang biasayanya dalam waktu  kurang dari 2 jam sudah sampai di Bandung dari jam yang ada di gambar diatas, 3 jam baru sampai Ciganea, Purwakarta. Memang menghadapi jalan yang sangat macet saya sengaja keluar ke Kerawang kota kemudian menyusuri Pantura menuju Cikampek, Sebelum sampai Cikampek masuk tol lagi dari pintu Dawuan.

Sambil bernostalgia jalan Pantura lama dan cari makan sekalian ternyata nggak saya jumpai tempat makan yang rada pas di hati. Terpaksa saya masuk tol lagi dan keluar di tol Jati Luhur. Pas pertigaan dengan jalan lama ada rumah makan Sari Rasa “Sambal Hejo”. Tadinya maksud hati ingin makan Ayam Goren Saljona dekat tikungan ke Jati Luhur, namun begitu lihat dirumah makan ini juga tersedia ayam goreng yang ternyata di goreng dengan cara yang sama maka ini adalah berkah di kala perut sudah mulai keroncongan.

 

 

Rumah makan ini tertata apik dan terlihat interior dengan hiasan barang-barang yang agak berbau tempo dulu. Dan ternyata tanpa pesan langsung disajikan berbagai makanan seperti ayam goreng panas, tahu dan tempe goreng, sambal hejo, lalapan, pepes dan juga gepuk serta tentunya nasi putih hangat.

 

Memang sangat menggoda selera, kami tak sadar apakah ini seekor ayam kampung goreng kencur atau hanya sekedar potongan ayam saja yang jelas seluruh ayam itu habis kami santap bertiga.

Kami baru sadar ketika tagihan dihitung, ternyata 15 potong ayam @ 4.500 perak kami santab… memang rasanya sangat mantabs abiz…. sambil diiringi lagu-lagu jaman tahun 80 an.

Takut Macet

Posted in sosial on November 13th, 2008 by RM

 

Benarkah Jakarta membangun dengan kekuatannya sendiri ? Seperti berulang saya sampaikan, bahwa bagaimanapun kita terikat dalam suatu negara kesatuan yang bernama Indonesia. Negara ini ibarat suatu keluarga saja. Seperti halnya yang terjadi dalam suatu keluarga, maka tak mungkinlah satu orang anak saja yang ingin hidup berlebih dari yang lain. Anggota keluarga yang lain harus berkorban untuk kenikmatan anak yang lainnya :-)

Berikut adalah dialog saya dengan pak Henky Sugana yang lulusan Ekonomi Unpad dan sepertinya bergerak di pendanaan pembangunan.

Henky Sugana wrote at 7:37am
Sekarang tinggal dan berkarir dimana pak Rachmad

Rachmad Mekaniawan wrote at 7:40am
Saya tinggal di Jl. MPR Cilandak, belakangnya Abuba Steak Cipete. Sementara kerjanya masih jadi tukang bangunan di konsultan nangani beberapa proyek yang ukurannya gila-gilaan besarnya seperti Epicentrum, Emporium, Kota Kasablanka.Blok M Square. Sayangnya pada kena krisis Ekonomi jadi ratusan anak buah saya yang rada mengkhatirkan nasibnya :-(

Henky Sugana wrote at 7:45am
Wah…..kok bisa begitu ya…..saya tinggal di belakang rumah sakit Fatmawati, Jl Wijayakusuma II, saya kerja lembaga keuangan, yang sementara ini tidak memberikan pembiayaan……takut pada macet..hahahaha

Ya inilah sekelumit dialog saya dengan teman yang ternyata sesama lulusan SMAK Dago. Sepandai-pandainya anak ITB, Sehebat-hebatnya developer sekelas Agung Podomoro, Pakuwon Jati, Bakrie Land akhirnya ya harus harus berhenti karena ekonomnya takut macet :-(

 

 

FB menghubungkan tali silahturahmi

Posted in sosial on November 13th, 2008 by RM
FB menghubungkan tali silahturahmi

Facebook founded 4 Feb 2004 merupakan utilitas sosial yang menghubungkan orang dengan teman dan orang lain yang bekerja, belajar dan bermukim di sekitar mereka. Orang menggunakan Facebook untuk bersilahturahmi dengan teman-temannya.

“Millions of people use Facebook everyday to keep up with friends, upload an unlimited number of photos, share links and videos, and learn more about the people they meet”

Ya demikianlah kiranya yang dijanjikan Facebook. Orang memang bisa terkoneksi dengan teman dan juga bisa mengetahui teman dari teman-teman kita. Bahkan teman yang sudah terlupakan karena waktu dan jarakpun bisa dibangun kembali dengan Facebook. Selain foto, posting mulai yang sederhana sampai yang rumit dan  juga chating dapat dilakukan antar anggota facebook.

Bahkan dalam kasus istri saya, dia memang belum pernah upload selembar fotopun kedalam facabook, namun karena banyaknya anggota yang share foto dan terdapat fotonya, maka ketika foto tersebut dindentifikasikan oleh teman-temannya dan di tag pada foto istri saya, maka otomatis foto tersebut terkumpul dalam albumnya :-)

Dimilis kuya sipil saya sering baca posting Rubi Sugana. Tentunya beliau ini anak sipil ITB dan sepertinya adik kelas saya. Sementara itu di Facebook saya jumpa teman SMA yang langsung saya add sebagai teman saya. Ketika saya lihat teman-teman Wulan Kaligis ini ternyata ada nama Hengky Sugana. Maka ketika ada request ya saya iakan saja sebagai teman dan saya tahu itu teman Wulan.

Maka melalui fasititas wall to wall saya tanyakan pada Wulan siapa sih Hengky Sugana, rupanya beliau langsung merespon dan urut punya urut ternyata memang abangnya Rubi Sugana dan juga teman sekolah di SMAK Dago dan lulus pada tahun yang sama. Kemudian ambil Ekonomi di Unpad.

Fenomena Para Pendatang

Posted in sosial on November 6th, 2008 by RM

Penduduk Asli Amerika

Jika kita bicara pendatang tentu kita juga akan bicara penduduk asli. Penduduk asli suatu daerah kita sebut putra daerah, sedang dalam negara kita sebut sebagai Pribumi. Ada banyak upaya untuk melindungi putra daerah atau pribumi. Mulai dari kuota sekolah sampai hal-hal lainnya yang lebih sistemik. Memisahkan antara WNI, WNI keturunan dan WNA adalah upaya kearah yang lebih sistemik. Memang kehadiran pendatang ini luar biasa dampaknya. Seorang pendatang akan mampu bersaing dari  minus hingga menjadi positif. Sementara putra daerah hanya bertahan dan mengarah pada minus.

Barack Obama adalah generasi lanjutan dari pendatang yang ikut pendatang. Sebagaimana kita ketahui  Amerika sebenarnya adalah koloni Inggris yang memerdekakan diri pada tanggal 4 Juli 1776.

Awal 1600 terlihat sebagai awal musim imigrasi dari Eropa ke Amerika Utara. Dalam rentang waktu tiga abad, beberapa ratus penjajah berbahasa Inggris hadir diantara jutaan pendatang baru. Mereka datang dengan beragam corak dan memiliki motivasi kuat, mereka membangun peradaban baru di bagian utara benua Amerika.

Kebanyakan  imigran negara  kiri asal Eropa   berupaya keluar dari penindasan politik, untuk mencari kebebasan untuk mempraktekkan agama mereka, atau untuk mencari kesempatan yang tidak di dapat dinegerinya.  Antara 1620 dan 1635, Inggris mengalami kesulitan ekonomi . Banyak orang tidak dapat memperoleh  pekerjaan. Oleh karenanya banyak yang mengungsi. Membawa budak-budak atau pembantu asal Afrika untuk membantu mereka di dunia baru. Perjuangan demi perjuangan menghadapi suku asli terus saja terjadi.

Dan kini ketika anak cucu para budak itu telah mampu menjadi pucuk pimpinan di negeri yang menerapkan demokrasi tersebut, memang menjadi nyata bahwa demokrasi memihak pada siapapun yang siap memimpin. bahkan jika orang tersebut ternyata keturunan Yahudi ataupun Indian -)

Sedikit harus saya koreksi karena ayah Obama warga negara Kenya yang kuliah di Amerika jadi memang Obama bukan keturunan budak sebagaimana banyak negro di Amerika. Pun demikian ini mencerminkan bahwa tidak menutup peluang siapapun untuk tampil jadi pucuk pimpinan :-)

Bagaimana dengan negeri kita ? Siapkah kita dipimpin keturunan China, Arab, India, Tamil atau lainnya yang memang mereka bekerja jauh lebih keras dari para pribumi umumnya. Mereka yang selalu mendapat tantangan untuk hidup dari hari kehari dengan berbagai ketidak berpihakkan peraturan dan tumbuh menjadi tegar, sementara kita sebagai pribumi yang selalu merasa dilindungi, dimanjakan justru menjadi anak boros yang pongah.

 

 

Megaship (Malacamax)

Posted in sosial on November 1st, 2008 by RM


“Dephub berencana mengembangkan empat pelabuhan di luar Jawa, yakni Sabang atau Medan, Bitung, Sorong dan Kupang menjadi pelabuhan pengumpul internasional (International Hub Port).”

Sebetulnya saya agak-agak heran juga kalau Sabang yang dipilih sebagai Internasional Hub Port. Memang dengan kedalaman laut serta posisinya yang di ujung Barat Indonesia , ini menjadi tempat yang ideal sebelum masuk selat malaka dan bablas ke Samudra Hindia menuju Australia. Hanya saja apakah sudah dipikirkan bahwa pulau kecil ini akan mampu mengisi jumlah tenaga kerja turutannya nantinya di era Mega Ships ? Dan yang kedua apakan juga akan mudah membuat jembatan penghubung pulau ini ke daratan Sumatera ? Jika Medan yang dipilih, jelas ini bukanlah tempat yang ideal nantinya terlalu masuk ke Selat malaka serta dangkal untuk ukuran Megaships.

Pertumbuhan besar kapal selama ini dibatasi oleh dalamnya draft kapal. Hal ini disebabkan kapal antar benua harus melewati dua kanal yakni terusan Panama dan Terusan Sues. Sedangkan kedua terusan ini dengan mudah terus diperdalam karena memang buatan manusia dan juga alat-alat beratnya memadai untuk itu. Sedang mendalamkan selat malaka akan sangat sulit karena ini buatan alam. Malah lebih mudah memotong pinggang Malaysia menjadi kanal juga :-)

 Nah dalam perkembangannya :

  • Panamax to Post Panamax
  • Post Panamax to Super Post Panamax
  • Super Post Panamax to Malacamax

Jadi memang sebaiknya penentuan Hub Port ini mempertimbangkan hadir Malacamax, karena keuntungan pengoperasian Megaship hanya bisa diperoleh jika kapal ini ber route sangat panjang dan sesedikit mungkin berhenti. Artinya ketika dia membongkar muatannya akan banyak sekali barang yang harus dikelola :-)

Panamax sendiri awalnya hanya berkapasitas 4.500 TEU panjang 295 meter dan lebar 32,5 meter dan kedalaman draft kapal 12 meter dan ketika diperbesar menjadi New Panamax. Sebagai gambaran adalah sebagai berikut :

Tampak bahwa kapal produksi tahun 2006 saja sudah sedikit berbahaya melalui selat malaka apalagi jika tahun 2015 draft lebih besar dari 20 meter.

Bangsa Indonesia harusnya juga mempertimbangkan bahwa makin besarnya volume perdagangan dunia, kapalpun makin bertambah besar. Dan ketika kapal tidak lagi mampu masuk selat malaka maka harus ada suatu titik pengumpul entah itu dimana (?) yang tentunya akan menggantikan fungsi Singapore yang selama ini dominan di bidang distribusi barang dan jasa :-)

 

Pemindahan Ibu Kota

Posted in sosial on November 1st, 2008 by RM

Memang agak aneh kalau ibu kota Indonesia yang berada di jakarta kemudian di pindahkan ke Jonggol. Ini bukan pemindahan namun hanya penggeseran saja. Tentunya yang saya maksudkan dengan pemindahan ibu kota adalah memisahkan antara fungsi kota sebagai suatu kota administrasi negara dengan kota sebagai kota perniagaan.

Kondisinya pada saat ini Jakarta telah tumbuh sebagai kota pusat administrasi negara yang juga merangkap sebagai kota pusat perniagaan. Ada banyak dugaan bahwa tumbuhnya Jakarta diakibatkan karena Jakarta sebagai Pusat Pemerintahan. dan sebenarnya pandangan ini tidaklah salah jika kita kaitkan dengan jaman orde baru dimana pusat kekuasaan merupakan pusat dari putaran uang. hal ini lebih diperparah lagi kondisi bisnis-bisnis utama seperti tata niaga berbagai komoditas yang dikuasai keluarga  Cendana. Maka bayang-bayang masa lalu ini memang makin menjadi alasan mengapa Ibu Kota perlu dipindahkan oleh beberapa pihak :-)

Sebenarnya Ibukota Indonesia itu juga pernah berada di Jogjakarta. Pada tanggal 6 Januari 1946, Ibukota Republik Indonesia secara resmi dinyatakan dan diumumkan oleh para pemimpin Republik Indonesia berkedudukan di Gedung Agung, Yogyakarta. Bahkan pada agresi II, 19 Desember 1948 pasukan Koninklijke Leger (militer Belanda) menyerang Yogyakarta, hingga para pimpinan Republik Indonesia ditangkap oleh tentara Belanda yang dipimpin Kolonel Van Langen. lalu para pimpinan Republik diasingkan ke Pulau Bangka. menurut “Perintah Siasat X” maka Divisi Siliwangi dan Divisi Brawijaya harus meninggalkan Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk bergerilya ke Jawa Barat dan Jawa Timur. sementara hanya Divisi Diponegoro dan pasukan yang dipimpin langsung oleh Jenderal Soedirman lah yang ditugaskan bergerilya di Jawa Tengah, dan akan ditugaskan untuk menyerang kedudukan Belanda di Yogyakarta pada waktunya nanti.

Dengan pendudukan oleh Belanda di Yogyakarta, maka pusat pemerintahan Republik Indonesia terpaksa mengungsi ke Bukittinggi, Sumatra, lalu dibentuklah PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang berkedudukan di Gedung Triarga di kota Bukittinggi. pasca Serangan Umum 1 Maret 1949 Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengultimatum kepada Belanda agar mengembalikan Yogyakarta kepada para pimpinan Republik Indonesia. Amerika Serikat pun mengancam akan membatalkan Marshall Plan pada Belanda apabila Belanda tidak angkat kaki dari Indonesia. maka antara Republik Indonesia dengan Belanda ditandatangani Perjanjian Mochamad Roem-Van Royen yang isinya adalah mengembalikan Yogyakarta kepada para pimpinan Republik Indonesia.

Maka dengan ini Pemerintahan Republik Indonesia telah kembali ke Yogyakarta.namun kemudian Belanda justru hanya bersedia menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat yang konsepnya dibuat oleh Dr. Van Mook. dalam konsep yang dibuat oleh Van Mook, maka Republik Indonesia menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). dan RIS ini beribukota Batavia (Jakarta) dengan Istana Rijswijk sebagai kantor pemerintahannya. para pimpinan Republik Indonesia setuju atas parjanjian ini, dengan menandatangani Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949 di Den Haag, Belanda. lalu Soekarno diangkat menjadi Presiden RIS, dan Hatta diangkat. (cuplikan dari : Ibu kota indonesia?jakarta or jogjakarta )

Dari sejarah yang demikian maka bukanlah hal yang tabu untuk memindahkan Ibu Kota Indonesia ini. Toh hal ini juga sudah pernah dilakukan. Memang menjadi pertanyaan kenapa harus kembali ke Jakarta setelah di Jogja atau Bukit Tinggi.

Secara umum Jakarta memang kota multi kultur terbesar di Indonesia dan hal ini bisa menghilangkan pandangan bahwa Ibu Kota RI berada atau di kuasai sebuah suku jawa misalnya, toh Jakarta sendiri tanahnya Bang jampang dan Si Pitung jawara Betawi dengan bahasa yang berbeda dengan Sunda dan Jawa, dan dulu rasanya kalau sudah bisa bilang lu dan gue rasanya sudah jadi orang Jakarta :-) Coba seandainya berada di Jogjakarta atau Bukit Tinggi, apakah mungkin kedua kota ini rela kehilangan jati dirinya yang diserbu habis-habisan oleh para pendatang. Apakah tidak akan muncul semacam FPI, Forum Betawi Rempug (FBR) yang sebenarnya ini organisasi yang sudah telat didirikan karena segala macam bentuk perubahan sudah terjadi dengan cepat dan Betawinya sendiri tinggal sedikit :-(

Sebenarnya, kalau kita cermati memang banyak negara yang memiliki pusat administratif dan pusat perniagaan yang dipisah. Kita ambil saja beberapa contoh :

Jerman Barat ibu kota di Bonn yang kemudian di pindahkan ke Berlin setelah reunifikasi dengan Jerman Timur. Sementara Pusat Perniagaanya ada di Frankfurt. Ada banyak orang mengira bahwa Sydney adalah ibu kota Australia karena kota ini adalah kota terbesar di Australia, padahal pada tahun 1927 pemerintah Australia mnetepkan Canberalah ibu kota Autralia.

Atau untuk kasus Kanada, banyak kota besar seperti Toronto, Montreal, Kingston tapi sebenarnya ibukotanya malah berada di Ottawa, sebuah desa dulunya dan bagaimana perkebangannya saat ini ?

Atau bisa juga kita belajar dari Birma yang dulunya ibukotanya berada di Yangoon (Rangon) dan telah dipindahkan oleh Rezim Birma yang tertutup ke kota Naypyidaw. Kota ini letaknya 460 km dari Rangoon.

Jadi memang Ibu Kota sebenarnya tidak identik dengan pemerataan atau akan  tumbuh menjadi kota yang bisa lebih besar dari kota pusat perniagaan, Para pengusaha akan tetap memilih tempat usaha yang layak untuk dikembangkan dari pada mengacu pada Ibu Kota suatu negara, misal Shanghai atau Hongkong akan tetap menjadi pusat perniagaan dibanding Beijing. Dan Jakarta juga akan tetap menjadi pusat perniagaan memasok segala kebutuhan masyarakat di bagian radiusnya yang mencapai 1.000 km an dan itu pusat dari penduduk Indonesia yang berjuta jumlahnya dan ini adalah potensi bisnis yang tak akan peduli dimana ibu kota Indonesia berada :-)