Angan-angan koe
untuk negeriku yang sangat kucinta
Februari 3, 2010 at 11:28 · Filed under sosial
Pada dasarnya Indonesia ini adalah negara yang sangat kaya, hampir semua jenis energi tersedia di negeri ini. Seharusnya pola penanganannya juga berbeda sedikit dari negara lain yang apa-apanya serba terbatas.
Pada hakekatnya kesejahteraan negeri ini adalah kemampuan anak bangsa Indonesia untuk dapat saling tukar menukar barang dan jasa secara adil. Ada banyak pola yang dilakukan untuk saling tukar ini.
Gotong Royong :
Pola ‘gotong royong’ adalah pola dimana tukar menukar barang dan jasa tidak dilakukan dengan ukuran ‘uang’. Ukuran yang digunakan adalah kebersamaan sosial. Ada untung ruginya menerapkan hal ini. Keuntungannya adalah tersedianya kebutuhan masyarakat tanpa harus menunggu adanya ‘uang’ dan hal ini sangat memungkinkan di negeri yang sebenarnya segala sesuatunya telah disediakan oleh alam Indonesia yang demikian kayanya.
Kerugian dari pola ini adalah masyarakat bertransaksi barang/jasa tanpa ukuran uang. Hal ini berakibat masyarakat ter’diskriminasi’ pada saat ia harus masuk dalam pergaualan masyarakat yang segala pertukaran barang/jasa nya diukur dengan uang.
Sebagai contoh, haji Ali yang biasa memarkir mobilnya dipasar sebuah desa tidak dipungut bayaran meskipun hal itu dilakukan seharian. Semua orang tahu itu mobil H. Ali dan ikut menjaga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini tidak berlaku ketika mobilnya diparkir di Jakarta yang satu jam dipungut 2000 perak.
Hal-hal semacam ini juga mengakibatkan terjadinya urbanisasi dimana masyarakat lebih berharap tenaganya diukur dengan uang dan itu berlaku dalam masyarakat modern sehingga mereka rela untuk menjadi PRT diibukota bahkan TKI.
Subsidi :
Subsidi sebenarnya adalah bentuk peralihan dari masyarakat ‘gotong royong’ menjadi masyarakat modern. Pertukaran barang/jasa tidak diukur penuh dengan uang yang berlaku global. Pertukaran barang/jasa dilakukan dengan ‘uang’ ukuran lokal karena sebagian biaya yang seharusnya dibayar penuh ditanggung oleh pemerintah.
Hal ini juga berdampak buruk. Masyarakat kotapun ikut ter ‘diskriminasi’ karena ada kecendrungan untuk tidak dibayar dengan ukuran pasar modern mengingat sebagian kebutuhannya telah dibayar oleh Pemerintah dalam bentuk subsidi.
Padahal masyarakat perkotaan yang ‘modern’ sebagian kebutuhannya di sediakan oleh pasar global, akibatnya gaji tidak cukup sehingga diperlukan ‘obyek’an sampai hal-hal yang berbau korupsi hanya sekedar untuk pemenuhan kebutuhan standard saja.
Pasar Modern :
Segala pertukaran barang/jasa diukur dengan ukuran ‘uang’. Hal ini terjadi akibat begitu banyak dan ruwetnya pertukaran barang dan jasa. Seperti parkir mobil H. Ali tadi sudah tidak mungkin lagi dilakukan mengingat begitu banyak jumlah mobil dan lebarnya pergerakan sehingga dibutuhkan tangan-tangan profesional untuk menjaga properti dari tangan usil
Karena kompleksnya pertukaran barang/jasa ini maka ketika ada subsidi yang ditarik akan terjadi penyesuaian disana sini sampai tiba pada rasa keadilan semua pihak untuk dapat saling bertukar barang/jasa dengan perasaan adil dalam ukuran uang.
Pada kondisi yang demikian maka seharusnyalah negara memberikan subsidi pada konsumen yang tak berdaya dalam bentuk jaminan Sosial Nasional yang berbentuk Bantuan Tunai Langsung (BLT). Tujuannya adalah masyarakat yang terkendala karena fisik/mental/ usia atau masalah sosial lainnya tetap dapat mengakses produk berupa barang/jasa yang dihasilkan oleh mereka yang bergerak dibidang komersial tanpa mengganggu hitungan keuangan yang dilakukan.
Hal ini akan lebih baik lagi jika Pemerintah juga bisa mendaya gunakan mereka yang memperoleh Jaminan Sosial Nasional untuk mengisi hal-hala kebutuhan sosial masyarakat. Jika penerima enggan untuk mengisi kebutuhan sosial masyarakat maka dipersilahkan untuk pindah ke komersial.
Ketika masyarakat sudah tidak terdiskriminasi lagi, maka tidak ada alasan untuk tidak menjual produk-produk seperti CPO didalam negeri karena ongkosnya pengiriman juga jauh lebih murah.
Januari 28, 2010 at 11:58 · Filed under sosial
Banyak diributkan dalam pansus mengenai uang negara atau bukan dana lps. Padahal menurut saya pribadi, semua uang rupiah yang beredar adalah uang milik negara. Negaralah yang menerbitkan dan negara pula yang bisa menyatakan itu berlaku/tidak berlaku.
Pemerintah, swasta dan masyarakat hanya dapat menggunakan uang sebagai catatan saja, sebagai bank notes, agar setiap jasanya dalam memberikan barang atau jasa bisa terukur dalam keadilan.
Keadilan inilah yang utama. Pencurian, perampokan, pembobolan, korupsi adalah bagian dari transaksi (berpindahnya uang) secara tidak adil. Maka disinilah peranan hukum dan hukuman agar manusia tetap bisa produkstif dan memafaatkan hasil produksi dalam keadilan dengan perantara uang.
Jika kita menyadari hal ini, maka ada banyak cara orang menjaminkan barang-barangnya yang telah diperoleh dengan perantara uang yakni dalam bentuk asuransi. Asuransi inilah yang menjamin jika terjadi sesuatu dengan properti yang kita miliki
Sekarang kita diperkenalkan dengan asuransi terhadap uang tabungan yang dijamin lembaga yang bernama Lembaga Penjamin Simpanan. LPS tak lain adalah asuransi yang hanya saja tidak langsung preminya dimintakan pada nasabah penyimpan namun dimintakan pada Bank Penyimpan dana masyarakat. Namun prinsipnya sama saja karena kemungkinan hilangnya dana masyarakat justru terjadi pada bank yang kacau operasinya. Maka secara borongan ya dijamin uang para nasabah penyimpan tersebut.
Jadi apakah dana yang ada di LPS uang negara…. jawabanya ya semua uang rupiah adalah uang negara Republik Indonesia. Para nasabah berhak menuntut uangnya karena Lembaga itu didirikan untuk melindungi dananya yang disimpan di Bank yang kebetulan bermasalah karena prinsipnya tidak boleh hilang keadilan bagi pemegang uang yang diterbitkan negara sebagai catatan hasil kerjanya.
Oktober 24, 2009 at 10:12 · Filed under sosial
Ternyata camera pocket Canon IXUS 80 IS atau diluar negeri dikenal dengan Canon SD 1100 IS bisa juga menghasilkan format RAW, meskipun aslinya fasilitas ini tidak tersedia. Caranya sebetulnya tidak terlalu sulit kalau mau diikuti instruksinya sebagai berikut :
- Buat SD card anda menjadi bootable dengan cara mendownload dan mengeksekusi CARDTRICKS dan ikuti seluruh perintah yang ada disitu.
- Pilih jenis software yang cocok untuk kamera anda dan klik disini untuk IXUS 80 DOWNLOAD
- Dengan Cardtricks masukkan file tersebut ke SD Card anda dengan cara tekan tombol CHDK-> Card dan contreng overwrite
- Tekan Exit (or press Escape), SD Card telah siap untuk mengupdate IXUS anda.
- Masukkan SD Card dan hidupkan pada posisi playback mode maka intruksi Firm Update seperti pada link inipun telah tersedia.
- Menu-menu barupun tersedia pada kamera anda seperti tombol print paling atas akan berfungsi sebagai alt, tinggal aktifkan function/set atau menu semua tersedia disana.
- Software yang dibuat Canon Hacker’s Development Kit (CHDK) ini hanya berfungsi pada SD card yang sudah di program, jika kita gunakan SD Card lainnya ia akan kembali pada setting awal.
- Sayangnya *.CR2 tidak atau saya belum tahu caranya menghasilkan EXIF sehingga belum bisa dibaca Digital Photo Professional sehingga saya harus down load software XDepth Raw Converter yang menunya nggak sebanyak DPP dengan hasil sebagai berikut sebelum dan sesudah diproses jadi jpeg :


Oktober 8, 2009 at 08:30 · Filed under sosial
Saya coba untuk membuat foto dengan pencahayaan apa adanya (matahari yang diselimuti awan pagi ini) dan juga gambar tak diolah lagi. Ini hanya untuk mencoba seperti apa gerangan Focal Length sapu jagad ini bekerja pada range 18 mm hingga 270 mm.
Ternyata hasilnya boleh dibilang tak ada pengaruh seperti terlihat pada rangkaian gambar berikut yang untuk 18 mm sampai 50 mm tak mungkin maju lagi untuk mengejar focus sementara yang lain mundur agar gambar tampil dengan ukuran yang mendekati sama :

ISO: 200
Exposure: 1/250 sec
Aperture: 3.5
Focal Length: 18mm
ISO: 200
Exposure: 1/125 sec
Aperture: 4.0
Focal Length: 42mm
ISO: 200
Exposure: 1/160 sec
Aperture: 4.5
Focal Length: 50mm
ISO: 200
Exposure: 1/100 sec
Aperture: 5.0
Focal Length: 70mm
ISO: 200
Exposure: 1/100 sec
Aperture: 5.6
Focal Length: 100mm
ISO: 200
Exposure: 1/60 sec
Aperture: 5.6
Focal Length: 130mm

ISO: 200
Exposure: 1/60 sec
Aperture: 5.6
Focal Length: 218mm

ISO: 200
Exposure: 1/60 sec
Aperture: 6.3
Focal Length: 270mm
Demikianlah kira-kira hasilnya, jadi terlihat tidak perlu ragu akan ada masalah pada panjang focal tertentu
Oktober 7, 2009 at 10:12 · Filed under sosial
Sudah lama ingin punya lensa yang bisa dari lebar sampai zoom. Dan kebetulan Tamron mengeluarkan lensa sapu jagad tersebut yakni AF18-270mm F/3.5-6.3 Di II VC (Vibration Compensation) LD Aspherical (IF) Macro. Lensa ini dari wide anggle dengan panjang focal 18 mm sampai zoom dengan panjang focal 270 mm.
Tadinya saya ragu untuk beli lensa ini, yang saya khawatirkan lensa tersebut berat sehingga cenderung goyang jika tidak menggunakan tripod. Ternyata dengan berat cuma 550 gram menjadi enak buat ditenteng.
Dari posisi yang sama yakni didepan JPC Kemang saya coba ambil foto apartemen yang ada di depannya dan hasilnya bisa dilihat sebagai berikut :
Photo information
Loading…
Camera:
Canon
Model:
EOS 450D
Exposure:
1/500 sec
Aperture:
6.4419613
Focal Length:
270mm
Oct 6, 2009
Camera: Canon
Model: Canon EOS 450D
ISO: 200
Exposure: 1/200 sec
Aperture: 6.3
Focal Length: 32mm
Oct 6, 2009
Camera: Canon
Model: Canon EOS 450D
ISO: 200
Exposure: 1/250 sec
Aperture: 6.3
Focal Length: 18mm.
Maka pantaslah jika lensa Tamron ini dapat Tamron Wins 11th EISA Award: 18-270mm VC Earns “Best Travel Lens”, yang tentunya dengan lensa sapu jagad ini para pelancong gak perlu ganti-ganti lensa
Saya tambahin gambar bunga yang diambil dari jarak sekitar 3 m dengan focal length 270 mm (35 mm equivalent 436 mm) dan foto Rumah 30 mm (35 mm equivalent 49 mm)


September 29, 2009 at 09:43 · Filed under sosial
Awalnya saya coba bandingkan hasil antara DSLR Canon dengan DSLR Nikon khususnya pada warna foto yang dihasilkan. Ternyata setelah jauh lebih mendalami lagi, cara ini salah total. Kamera DSLR umumnya memberikan beberapa pilihan format sebagai bentuk output file. JPEG adalah bentuk yang umum, namun ada juga bentuk RAW yakni sebagai bahan dasar foto yang belum diproses.
Bentuk RAW di Canon tampil dalam format *.CR2 (Canon Raw 2) sedang di Nikon dalam format *.NEF (Nikon Electronic format).
Keduanya dalam bentuk RAW yang bisa di proses di komputer dengan program yang disediakan Canon atau Nikon. Tidak perlu kuatir membuat kesalahan dalam pengambilan foto selama fokus masih terjaga, karena semua setting terhadap foto dapat dilakukan di komputer
Kita bisa merubah White Balance (WB), bisa juga merubah warna agar tampak lebih terang atau lebih gelap sesuai keinginan kita. memang merekam RAW sedikit lebih lama beberapa detik dan filenya juga besar, tapi dengan SD card yang ada sekarang dengan kapasitas hingga 16 G kelihatannya bukan masalah dibanding kekecewaan dapat hasil yang mengecewakan


Memang jadi masalah ketika CD yang saya peroleh pada saat beli camera entah berada dimana dan melalui proses download di Canon dan ketika kita mau instal. software meminta CD asli maka harus diakali dulu dengan cara membuat dan mengeksekusi file canon.reg yang dibuat dengan notepad yang berisi sebagai berikut :
Windows Registry Editor Version 5.0
[HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Canon\EOS Utility]
[HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Canon\DPP]
[HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Canon\ZoomBrowser EX]
Dengan software Digital Photo Profesional (DPP) pengelolaan terhadap foto memang jadi sangat mudah.
Untuk Canon 450D yang tadinya coba saya bandingkan hasilnya dengan Nikon D90 yang memang lebih unggul karena tersedia fasilitas Video, ternyata Canon juga tersedia software Picture Style Editor. Software ini menghasilkan file format *.PF2. Kita bisa membuat definisi warna yang dalam contoh ini saya beri nama biru.PF2 Saya buat demikian karena jengkel lihat langit jakarta yang selalu overcast.
Setelah saya buat filenya kemudian dengan sofware EOS Utility saya masukkan ke Picture Style di Kamera yang berisi Standard, Potrait, Landscape …. dan saya tempatkan di User Dif. 1. Dan hasilnya langsung jadi JPEG dengan langit biru seperti terlihat pada gambar dibawah ini

September 27, 2009 at 07:28 · Filed under sosial

Mungkin bagi yang terbiasa wisata ke Pulau, Pulau Belitung bisa jadi pilihan yang menarik. Bagi penduduk Jakarta, Pulau Seribu memang merupakan pilihan yang menarik, namun untuk mendapatkan keaslian alam dengan kejernihan lautannya, maka kita harus menempuh jarak sekitar 60 km dari Jakarta menuju P. Matahari, P. Kotok, P. Sepa atau P. Pantara yang dengan kapal cepat ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam . Harga paket yang juga gak terlalu murah atau sekitar 1,8 juta untuk 2 hari 1 malam.
Maka untuk liburan lebaran kali ini saya putuskan untuk lebih ke utara lagi dari Jakarta dan itu sampai di P. Belitung. Pulau ini cukup besar dengan ukuran dari ujung ke ujung sekitar 90 km dan di sekitarnya banyak pulau-pulau kecil yang sangat indah seperti P. Lengkuas, P. Burung dan pulau-pulau lainnya.
Seminggu sebelum lebaran baru saya putuskan untuk berkunjung kepulau ini dengan membawa rombongan keluarga sebanyak 8 orang. Awalnya dengan yakin saya atur sendiri hotel dan penerbangan. Masalah baru timbul ketikla hotel dan penerbangan yang di pesankan sekretaris ternyata gak klop. Selidik punya selidik ternyata saya mengacu ke kalender tahun 2008. Kepanikanpun terjadi mengingat hampir semua hotel yang lumayan sudah terisi penuh.
Berhubung tiket sudah di issued, terpaksa saya hubungi pak Kusuma yang foto dan HP nya terpampang di www.belitungisland.com seorang tour organizer. Saya sampaikan saya sudah punya tiket tapi gak punya hotel, jadi tolong carikan Hotel, mobil dan boat untuk acara 4 hari 3 malam di Belitung. Akhirnya dengan bantuan pak Kusuma saya dapat malam pertama di hotel Billiton, Belitung, kemudian pindah ke Bukit Berahu kemudian pindah lagi ke Pondok Impian… ya beginilah kalau di musim lebaran pergi dadakan tanpa perencanaan yang matang
Penerbangan dari Soekarno-Hatta hanya perlu waktu 50 menit menuju Tanjung Pandan yakni ibu kota kabupaten Belitung Barat. Setiap harinya ada dua penerbangan dengan Boeing 737 yang dilayani oleh Sriwijaya Air dan Batavia Air. Setiba di Bandara kami telah di jemput orangnya pak Kusuma, pak Asep namanya. kami langsung chekin ke Billiton Hotel yang jaraknya sekitar 18 km dari bandara atau tepatnya di pusat kota Tanjungpandan. Hotelnya lumayan, hanya saja cuma ada 24 kamar, dan rombongan kami dapat 3 kamar… lumayanlah.
Acara selanjutnya cari makan dan pak Asep merekomendasikan ke RM Mutiara. Disinilah terasa enaknya pakai tour organizer, karena banyak tempat makan yang nyaris tanpa papan nama dan terletak bukan dijalan utama. Tempatnya hanya diketahuai oleh mereka yang sudah terbiasa makan di tempat tersebut. Coba dulu makanan khas Belitung yakni Gangan yakni kepala ikan ketarap yang sangat bergajih dimasak warna kuning dengan dicampur nanas. Setelah puas makan siang yang cukup lezat dan nunggu cukup lama berhubung hanya ada tiga orang yang melayani kami sementara yang lainnya masih mudik, maka perjalanan langsung menuju rumah adat, rumah tuang kuase dan pantai ke Tanjung Pendam.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan kami kembali ke hotel untuk bersiap cari makan malam. Ternyata belum banyak restoran yang buka di hari pasca lebaran ini. Dan yang bukapun sangat dipenuhi oleh pengunjung. Maka kami putuskan untuk mencicipi seafood kaki lima yang ternyata rasanya juga sangat sedap. Ditemani otak-otak khas Belitung yang legit, baso ikan yang gak ada amis-amisnya menambah sedap makan malam kami.
Hari kedua kami isi dengan perjalanan ke Manggar yakni ibukota Kabupaten Belitung Timur. Dikota Manggar inilah si Ikal (Laskar Pelangi) membeli kapur di warung si babah
Sebelum sampai Manggar kami sempat mampir di bendungan peninggalan jaman Belanda dan dilanjutkan ke replika SD Muhammadiyah Gantong dan dilanjutkan main ke pantai Burung Mandi yang berpasir sangat putih dan dihiasi kapal nelayan warna-warni yang parkir diatasnya. Setelah puas perjalanan dilanjutkan makan siang di A1.

Selesai makan, perjalanan dilanjutkan ke kelenteng Cina yang telah berumur sekitar 200 tahun. Tempatnya indah didaerah perbukitan dengan pemandangan laut dari atas kelenteng. Sebetulnya dari kelenteng ini sudah dekat dengan pantai yang konon juga indah, sayangnya menurut informasi sedang ada dangdut dan macet. Juga lihat dari banyaknya masyarakat yang berbondong-bondong ke sana saya batalkan saja dan langsung menuju Tanjung Tinggi.

Di sini terdapat batuan Granit yang tersusun aneka rupa dengan besarnya kira-kira sebesar bangunan ruko tiga lantai. Ditempat ini juga digunakan untuk syuting film laskar pelangi. Banyak warung makan ikan bakar disekitar bebatuan ini sayangnya kami tak sempat mencicipi karena hari sudah sore dan kami harus chek in di Bukit Berahu.

Hari ketiga diisi dengan perjalanan menuju pulau-pulau cantik disekitar Tanjung Kelayang. Kami berangkat dari tanjung ini dan saya minta langsung menuju Pulau Lengkuas, agar masih cukup pagi untuk snorkeling anak-anak. Di pulau ini terdapat Mercu Suar yang cukup tinggi, terdiri dari 18 bordes dengan anak tangga sejumlah 306. Pengunjung bebas untuk naik keatas…. kalau kuat

Tidak terasa main di pulau-pulau ini memang bisa seharian, tapi kami harus segera kembali ke Tanjungpandan buat beli oleh-oleh.
Dari yang coba kami hitung perorang jatuh sekitar 2,25 juta untuk 4 hari tiga malam dan ke Pulau Seribu 1,8 juta untuk dua hari satu malam
Perlu dicoba keduanya yang jelas memang mengasyikkan

Juni 28, 2009 at 10:24 · Filed under sosial
Meskipun jalan tol Jakarta – Bandung telah tersambung, ternyata Puncak masih menjadi tempat tujuan wisata. Dulu memang jalur Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Bandung adalah jalur terdekat untuk mencapai Bandung dari Jakarta. Jalan sempit meliuk-liuk dikawasan perkebunan teh yang belum banyak ditumbuhi kios-kios seperti saat ini, masih sangat berbekas dalam pikiran saya. Tapi itu dulu, tahun 70 an atau sekitar 40 tahun yang lalu
Saat ini jalur puncak sudah sangat padat dan hunian juga seakan ingin mengalahkan tingginya perbukitan didaerah Cikopo. Coba saja lihat foto berikut :

Perhatikan rumah besar dikejauhan sana. Entah siapa pemiliknya. Apakah ia orang terpelajar ? Atau penduduk asli yang yang sangat berhasil dibidang perkebunan ? Siapapun pemiliknya nggak penting, yang penting adalah bagaimana seharusnya kita menjaga lingkungan kita agar tampak tetap asri dan dapat memberikan kenyamanan bagi banyak orang.
Kepemilikan kolektif berupa vila yang disewakan untuk publik seharusnya dapat menguarangi keinginan pribadi yang sangat merusak tersebut. padahal belum tentu hunian tersebut didatangi sebulan sekali. Maka memang sebaiknya yang lebih diutamakan adalah pembangunan vila yang ditujukan untuk publik, dimana masyarakat bisa menyewa saja jika memerlukannya.

Misal seperti vila diatas yang bisa disewa untuk umum, dengan halaman luas dan jumlah kamar yang juga cukup banyak, seharusnya kawasan puncak tidak perlu dirambah menjadi hancur lebur yang mengakibatkan banjir kiriman bagi Jakarta
Cukup bayar sewa, kondisi kamar bersih, makanan minuman, kolam renang semua tertata rapi, toh tidak setiap hari kita liburan
Memang ada keluarga-keluarga yang mungkin kurang nyaman berada didaerah publik misalnya koruptor etc, dan mereka inilah yang kemudian sangat ingin privacy yang berlebihan dengan punya vila pribadi dengan pagar yang tinggi-tinggi dan seharusnya dilarang saja yang beginian, dibongkar dan dihutankan kembali demi anak cucu kita nantinya

Juni 10, 2009 at 07:52 · Filed under sosial
Ada dua infrastruktur besar yang diresmikan pada periode kepemimpinan SBY/JK. Pertama adalah Cipularang yang diresmikan pada 12 Juli 2005 yakni sekitar awal masa jabatan SBY/JK dan yang terakhir yang tak kalah besarnya adalah Jembatan Suramadu yang akan diresmikan hari ini (10 Juni 2009.)
Memang kedua infrastruktur ini tidak murni muncul sebagai suatu gagasan SBY/JK yang kemudian direalisasikan karena membangun infrastruktur sebesar ini memang butuh waktu yang panjang dari gagasan sampai dengan berfungsinya gagasan tersebut.
Ada banyak gagasan yang muncul pada periode kepemimpinan SBY/JK, namun rasanya sulit hal itu bisa terealisasi segera. Misalnya pencanangan 1000 km jalan tol (Pemerintah merencanakan pembangunan jalan tol trans Jawa sekitar 1000 km yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya terselesaikan pada 2009) yang kelihatannya belum 1 cm pun terealisasi
dan 1000 rusunami (Wapres Jusuf Kalla pernah mengusulkan pembangunan 1000 rusunami di 10 kota di Indonesia. Diantaranya adalah Jakarta, Bandung, Semarang, …) sami mawon.
Mungkin giliran presiden berikutnya yang meresmikan
, itupun kalau presiden terpilih berikutnya tidak mengubah strategi pembangunan nasional
Kita berharap pembangunan dapat terus dilakukan secara berkesinambungan tanpa melihat siapa presidennya. Presiden boleh gonta-ganti tapi pembangunan jalan terus
Juni 3, 2009 at 20:54 · Filed under sosial
Kasus Prita Mulyasari (32) yang mencuat ditengah kesibukan kampanye dengan pro/kontra neoliberalisme sebenarnya menjadi sangat menarik. Siapapun sebenarnya tahu bahwa di Indonesia ini menganut sistem yang kapitalistik. Hal ini bisa dilihat dari berbagai fenomena yang ada. Boleh dikata bahwa kepemilikan pribadi terhadap tanah dan isinya boleh dibilang tanpa batas.
Warna-warna yang berbau sosialisme juga sudah lama disingkirkan, maka menjadi sangat aneh jika masih juga ada yang meributkan masalah neolib. Kenapa demikian ?
Liberalisme (kebebasan adalah nilai politik yang utama) merupakan kontrol yang paling efektive bagi penyelesaian masalah kapitalisme. Hanya dengan kebebasan inilah maka sikap-sikap yang merugikan buruh sekaligus konsumen dapat dihilangkan atau diperkecil. Tanpa proses liberalisasi maka akumulasi, konsentrasi dan sentralisasi kapital akan semakin menekan kaum buruh dan konsumen yang kehilangan hak dan suara aparat penegak hukum dapat dibeli oleh para majikan.
Disinilah menjadi menarik kasus Prita ini. Kontrol konsumen yang harusnya di tindak lanjuti secara bijak untuk proses perbaikan dan perlindungan pada konsumen justru disikapi dengan pengaduan sebagai bagian dari pencemaran nama baik yang justru didukung oleh keberadaan UU ITE yang mengancam kurungan lebih tinggi dari yang tercantum dalam pasal KUHP. Akibat tingginya tuntutan penjara yang diatas 5 tahun maka otomatis tersangka harus dipenjara meskipun sidang belum dimulai.
Maka gerak aparat seperti menemui jalan buntu dan kehilangan nalar terhadap pokok masalah yang sebenarnya dan semua mengacu pada perundangan yang sah dengan segala konsekwensi yang semakin memperlihatkan kuku kapitalisme sejati yang ogah dikontrol.
Next entries »