Kawasan Puncak

Posted in sosial on June 28th, 2009 by RM

Meskipun jalan tol  Jakarta - Bandung telah tersambung, ternyata Puncak masih menjadi tempat tujuan wisata. Dulu memang jalur Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Bandung adalah jalur terdekat untuk mencapai Bandung dari Jakarta. Jalan sempit meliuk-liuk dikawasan perkebunan teh yang belum banyak ditumbuhi kios-kios seperti saat ini, masih sangat berbekas dalam pikiran saya.  Tapi itu dulu, tahun  70 an atau sekitar 40 tahun yang lalu :-)

Saat ini jalur puncak sudah sangat padat dan hunian juga seakan ingin mengalahkan tingginya perbukitan  didaerah Cikopo. Coba saja lihat foto berikut :

Perhatikan rumah besar dikejauhan sana. Entah siapa pemiliknya. Apakah ia orang terpelajar ? Atau penduduk asli yang yang sangat berhasil dibidang perkebunan ?  Siapapun pemiliknya nggak penting, yang penting adalah bagaimana seharusnya kita menjaga lingkungan kita  agar tampak tetap asri dan dapat memberikan kenyamanan bagi banyak orang.

Kepemilikan kolektif berupa vila yang disewakan untuk publik seharusnya dapat menguarangi keinginan pribadi yang sangat merusak tersebut. padahal belum tentu hunian tersebut didatangi sebulan sekali. Maka memang sebaiknya yang lebih diutamakan adalah pembangunan vila yang ditujukan untuk publik, dimana masyarakat bisa menyewa saja jika memerlukannya.

Misal seperti vila diatas yang bisa disewa untuk umum, dengan halaman luas dan jumlah kamar yang juga cukup banyak, seharusnya kawasan puncak tidak perlu dirambah menjadi hancur lebur yang mengakibatkan banjir kiriman bagi Jakarta :-( Cukup bayar sewa, kondisi kamar bersih, makanan minuman, kolam renang semua tertata rapi, toh tidak setiap hari kita liburan :-)

Memang ada keluarga-keluarga yang mungkin kurang nyaman berada didaerah publik misalnya koruptor etc, dan mereka inilah yang kemudian sangat ingin  privacy yang berlebihan dengan punya vila pribadi dengan pagar yang tinggi-tinggi dan seharusnya dilarang saja yang beginian, dibongkar dan dihutankan kembali demi anak cucu kita nantinya :-)

Pembangunan Jalan Terus siapapun Presidennya

Posted in sosial on June 10th, 2009 by RM
Pembangunan Jalan Terus siapapun Presidennya

Ada dua infrastruktur besar yang diresmikan pada periode kepemimpinan SBY/JK. Pertama adalah Cipularang yang diresmikan pada 12 Juli 2005 yakni sekitar awal masa jabatan SBY/JK dan yang terakhir yang tak kalah besarnya adalah Jembatan Suramadu yang akan diresmikan hari ini (10 Juni 2009.)

Memang kedua infrastruktur ini tidak murni muncul sebagai suatu gagasan SBY/JK yang kemudian direalisasikan karena membangun infrastruktur sebesar ini memang butuh waktu yang panjang dari gagasan sampai dengan berfungsinya gagasan tersebut.

Ada banyak gagasan yang muncul pada periode kepemimpinan SBY/JK, namun rasanya sulit hal itu bisa terealisasi segera. Misalnya pencanangan 1000 km jalan tol (Pemerintah merencanakan pembangunan jalan tol trans Jawa sekitar 1000 km yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya terselesaikan pada 2009) yang kelihatannya belum 1 cm pun terealisasi :-( dan 1000 rusunami (Wapres Jusuf Kalla pernah mengusulkan pembangunan 1000 rusunami di 10 kota di Indonesia. Diantaranya adalah Jakarta, Bandung, Semarang, …) sami mawon.

Mungkin giliran presiden berikutnya yang meresmikan :-), itupun kalau presiden terpilih berikutnya tidak mengubah strategi pembangunan nasional :-(

Kita berharap pembangunan dapat terus dilakukan secara berkesinambungan tanpa melihat siapa presidennya. Presiden boleh gonta-ganti tapi pembangunan jalan terus :-)

Liberalisme dan Kasus Prita

Posted in sosial on June 3rd, 2009 by RM

Kasus Prita Mulyasari (32) yang mencuat ditengah kesibukan kampanye dengan pro/kontra neoliberalisme sebenarnya menjadi sangat menarik. Siapapun sebenarnya tahu bahwa di Indonesia ini menganut sistem yang kapitalistik. Hal ini bisa dilihat dari berbagai fenomena yang ada. Boleh dikata bahwa kepemilikan pribadi terhadap tanah dan isinya boleh dibilang tanpa batas.

Warna-warna yang berbau sosialisme juga sudah lama disingkirkan, maka menjadi sangat aneh jika masih juga ada yang meributkan masalah neolib. Kenapa demikian ?

Liberalisme (kebebasan adalah nilai politik yang utama) merupakan kontrol yang paling efektive bagi penyelesaian masalah kapitalisme. Hanya dengan kebebasan inilah maka  sikap-sikap yang merugikan buruh sekaligus konsumen dapat dihilangkan atau diperkecil. Tanpa proses liberalisasi maka akumulasi, konsentrasi dan sentralisasi kapital akan semakin menekan kaum buruh dan konsumen yang kehilangan hak dan suara aparat penegak hukum dapat dibeli oleh para majikan.

Disinilah  menjadi menarik kasus Prita ini. Kontrol konsumen yang harusnya di tindak lanjuti secara bijak untuk proses perbaikan dan perlindungan pada konsumen justru disikapi dengan pengaduan sebagai bagian dari pencemaran nama baik yang justru didukung oleh keberadaan UU ITE yang mengancam kurungan lebih tinggi dari yang tercantum dalam pasal KUHP. Akibat tingginya tuntutan penjara yang diatas 5 tahun maka otomatis tersangka harus dipenjara meskipun sidang belum dimulai.

Maka gerak aparat seperti menemui jalan buntu dan kehilangan nalar terhadap pokok masalah yang sebenarnya dan semua mengacu pada perundangan yang sah dengan segala konsekwensi yang semakin memperlihatkan kuku kapitalisme sejati yang ogah dikontrol.

Liberalisme ?

Posted in sosial on June 3rd, 2009 by RM

Miranda mengaku tak tahu apa sebenarnya yang dimaksudkan sebagai ekonomi neoliberal. “Teorinya saja saya tidak paham. Selama 42 tahun saya belajar ekonomi, saya tidak tahu neoliberal,” ujarnya. “Saya coba cari buku-buku soal itu, tapi tetap tidak tahu istilah itu.”

Tulisan diatas saya kutip dari Tempo interaktif dibawah judul  “Mbak Ani dan Miranda tak paham Neolib” . Maka jelaslah bagi kita bahwa segala sesuatu tersedia dialam Indonesia, mulai dari sumber daya alam hingga sumber daya manusia (SDA & SDM), namun seolah kita tak mampu bergeming dari kemiskinan.

Sementara itu jaman sebelum kemerdekaan dicapai Sukarno begitu getol memperjuangkan anti terhadap kapitalisme. Kapitalisme sendiri diyakini Sukarno sebagai pokok masalah kemiskinan negara-negara Asia.

Seperti dalam tulisan yang saya kutip dari Buku Di Bawah Bendera Revolusi hal 181 dibawah sub judul Kapitalisme Bangsa Sendiri (1932)  :

Apakah Kapitalisme itu ?

Didalam saja punja buku-pembelaan saja pernah mendjawab: “Kapitalisme adalah stelsel pergaulan hidup, jang timbul dari tjara produksi jang memisahkankaum-buruh dari alat-alat-produksi. Kapitalisme adalah timbul dari ini tjara-produksi, jang oleh karenanja, mendjadi sebabnja meerwaarde tidak djatuh didalam tanganja kaum buruh melainkan djatuh ditanganja kaum madjikan. Kapitalisme, oleh karenanja pula, adalah menjebabkan kapitaalaccumulatie, kapitaalconcentratie, kapitaalcentralisatie dan industrieel reverse-armee. Kapitalisme mempunjai arah kepada Verelendung”, jakni menjebarkan kesengsaraan.

Jelas bahwa Sukarno menolak terjadinya konsentrasi kapital,  disatu tangan yang berakibat pada kesengsaraan belaka.  Jika kita ambil lagi bawa kosentrasi, sentralisasi dan akumulasi kapital terjadi bukan hanya dalam skala individu  namun dalam skala lintas negara, maka yang terjadi adalah sepeti apa yang kita rasakan pada saat ini.

Kita memiliki berjuta SDM dan juga memiliki beragam SDA, namun karena adanya kapital yang tersentral kita tidak mampu mendaya gunakan seluruh potensi yang kita miliki. Semua pihak berharap terjadinya arus investasi sehingga dapat memutar kegiatan SDA dan SDM yang dimiliki dan sebagian besar menjadi milik kaum pemodal tersebut. Ini bisa ditelusuri dari angka import/eksport yang dilakukan bangsa ini.

Memang bagi bangsa yang baru membangun dibutuhkan begitu banyak barang dan jasa yang harus didatangkan dari luar negara dan ini membutuhkan devisa tentunya. Devisa bisa diperoleh dengan cara menjual sumber daya alam yang dimiliki negeri ini atau melalui mekanisme hutang. Baik itu dilakukan secara individu maupun dengan cara menerbitan Surat Utang Negara. Dan sayangnya bahkan untuk mengekplorasi SDA sendiri dibutuhkan modal yang diperoleh dari hutangan :-)

Mengatasi Kapitalisme :

Didalam suatu negara kapitalistis, hal ini dapat dijawab dengan menerapkan liberalisasi yakni membiarkan pasar membentuk dirinya secara kompetitive sehingga diperoleh kondisi yang diharapkan. Dan dari wikipedia dapat diperoleh definisi Ekonomi Liberal sebagai berikut :

Ekonomi liberal adalah teori ekonomi yang diuraikan oleh tokoh-tokoh penemu liberal klasik seperti Adam Smith atau French Physiocrats. Sistem ekonomi liberal tersebut mempunyai kaitannya dengan “kebebasan alami” yang dipahami oleh tokoh-tokoh ekonomi liberal klasik tersebut. Meskipun demikian, Smith tidak pernah menggunakan paham tersebut. Konsep dari ekonomi liberal ialah bergerak kearah suatu sistem ekonomi pasar bebas dan sistem berpaham perdagangan bebas.

Ciri ekonomi liberal

  • Semua sumber produksi adalah milik masyarakat individu.
  • Masyarakat diberi kebebasan dalam memiliki sumber-sumber produksi.
  • Pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi.
  • Masyarakat terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja (buruh).
  • Timbul persaingan dalam masyarakat, terutama dalam mencari keuntungan.
  • Kegiatan selalu mempertimbangkan keadaan pasar.
  • Pasar merupakan dasar setiap tindakan ekonomi.
  • Biasanya barang-barang produksi yang dihasilkan bermutu tinggi.

Keuntungan dan kelemahan dari ekonomi liberal

Keuntungan

Ada beberapa keuntungan dari suatu sistem ekonomi liberal, yaitu:

  • Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi, karena masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah/komando dari pemerintah.
  • Setiap individu bebas memiliki untuk sumber-sumber daya produksi, yang nantinya akan mendorong partisipasi masyarakat dalam perekonomian.
  • Timbul persaingan semangat untuk maju dari masyarakat.
  • Menghasilkan barang-barang bermutu tinggi, karena adanya persaingan semangat antar masyarakat.
  • Efisiensi dan efektivitas tinggi, karena setiap tindakan ekonomi didasarkan motif mencari keuntungan.

Kelemahan

Selain ada keuntungan, ada juga beberapa kelemahan daripada sistem ekonomi liberal, adalah:

  • Terjadinya persaingan bebas yang tidak sehat.
  • Masyarakat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
  • Banyak terjadinya monopoli masyarakat.
  • Banyak terjadinya gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu.
  • Pemerataan pendapatan sulit dilakukan, karena persaingan bebas tersebut.

Hal-hal tersebut dapat menyelesaikan masalah kapitalisme dalam skala negara, namun tidak antar negara. Kapital akumulasi yang terjadi sudah demikian kuatnya sehingga apa yang diharapkan negara berkembang untuk dapat memperbaiki nasibnya akan mengalami kesulitan untuk mengakses modal, bahkan suatu negara dengan jumlah SDA yang demikian melimpah seperti Indonesiapun mengalami kesulitan, terlebih negara yang miskin SDA dan SDM. Inilah sebenarnya pokok dari masalah Liberalisme  itu.

Oleh karenanya liberalisasi seharusnya diselesaikan dulu dalam skala nasional baru melepaskan diri dalam tataran global. Jika tidak maka  para pelaku ekonomi nasional akan berhadapan pada dua masalah utama yang menyulitkan langkah mereka. Pertama adalah inflasi yang tinggi dan kedua adalah terdevaluasinya nilai rupiah akaibat kemandirian bangsa yang lemah sehingga banyak perlu devisa untuk mengatasinya. Sementara pihak-pihak yang dipercaya dapat mendatangkan devisa dalam jumlah besar malah memarkir devisanya pada bank-bank diluar negeri :-(

NeoLib

Menurut Ichsanuddin, neoliberal berasal dari Washington Consensus. Konsensus ini antara lain berisi; Pertama, larangan menyubsidi rakyat dan membiayai penyediaan dan pengelolaan barang dan jasa publik melalui apa yang dinamakan disiplin fiskal.

Jika ini yang dilaksanakan pemerintah, maka kebijakkan ini sebetulnya sudah tepat. Dengan cara inilah sebenarnya setiap warga berupaya tukar-menukar barang dan/atau jasa dengan ukuran uang yang berlaku secara internasional. Yang belum ada di negara kita justru bagaimana memisahkan antara hal-hal yang bersifat mendatangkan devisa dan hal-hal yang sebenarnya hanya alat saja secara internal. Pemerintah punya kewajiban untuk terus menjaga nilai rupiah serta mendidik rakyatnya untuk terus mulai mengukur setiap kerjanya dengan uang. Ini memang pekerjaan sulit tapi harus agar bangsa ini tidak terdiskriminasi oleh sistem penggajian yang terlalu kecil dan justru menciptakan pola kapitalistik yang menguntungkan para pemodal belaka.

Ke Puncak

Posted in sosial on May 13th, 2009 by RM

Jaman waktu masih kuliah dulu, jalur Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur-Padalarang-Bandung adalah jalur paling dekat. Oleh karenanya jalur ini dipenuhi kendaraan  Jakarta-Bandung baik itu kendaraan pribadi, suberban maupun Bis. Dan oleh karenanya pula sepanjang Cipanas banyak daerah pemberhentian untuk istirahat sejenak bagi bus dan supirnya.

Dengan dibangunnya jalan tol Cipularang, tadinya saya berpikir bahwa jalan ke Puncak pasti lenggang dan orang mungkin lebih memilih langsung ke Bandung sebagai tujuan wisata. Namun ternyata hal ini salah. Pada saat liburan seperti Sabtu dan Minggu jalan ke Puncak tetap sangat padat.

Hari Sabtu kemarin yang kebetulan hari liburan Waisak, saya ajak anak dan keponakan untuk jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara. Memang saya rencanakan berangkat jam 6 pagi dengan harapan jalan masih longgar, sayangnya dengan ini itu akhirnya baru bisa berangkat jam 7.30 pagi. Begitu sampai jalan tol saya perhatikan sudah puluhan bus pariwisata maupun bus dinas yang dipakai pariwisata menuju Puncak. Dan betu saja sesampai di Ciawi jalanan sudah sangat padat dan kendaraan berhenti mengular.

Maka saya langsung ambil jalur jalan desa yang sebenarnya banyak juga tukang ojek yang menawarkan untuk mengantar. Tapi saya yakin bahwa saya tahu jalan itu maka kendaraan langsung keluar di Ciawi arah Sukabumi, belok kiri arah Tapos tapi jangan naik ke Tapos, satu pertigaan lagi ada jalur alternatif seperti tampak dalam track BB sebagai berikut :

Alternatif ke Puncak, Jawa Barat

Widget powered by EveryTrail: GPS Geotagging

Jelas jalur ini sangat lancar meskipun kendaraan tidak dapat dipacu kencang, namun lumayanlah untuk menikmati indahnya tanah Pasundan. Dibeberapa tikungan ada polisi cepek yang siap menunjuk jalan dan jalan ini berakhir di satu jalan sebelum Taman Safari, atau sesudah pasar Cipayung. Lumayan masih bisa sarapan nasi Tim Jangkar di Cipanas :-)

Pendamping SBY

Posted in sosial on May 13th, 2009 by RM
Pendamping SBY

Saya memang bukan politisi bahkan tidak berminat untuk ikut terjun dalam kancah politik. Pun demikian ternyata saya juga tak terlalu jauh dengan para politisi :-) Jadi kalau saya tuliskan disini ulasan masalah politik yang sedikit membingungkan banyak orang awam politik, tentunya saya tidak punya maksud apa-apa kecuali menganalisanya sepanjang yang saya rasakan dan ketahui.

Merapatnya PKS dan PAN kekubu Partai Demokrat memang mengejutkan, setidaknya mengejutkan bagi saya pribadi. Sebenarnya  dengan hilangnya Komunisme sebagai salah satu unsur NASAKOM  (Nasionalisme, Agama dan Komunis), maka di Indonesia tinggal ada dua unsur yakni NASA  (Nasionalis dan Agama). Pun demikian dalam perkembangannya hanya sedikit partai saja yang mencantumkan Agama sebagai ideologi. Meskipun ikatan berdasarkan Agama namun ideologi perjuangannya adalah nasionalisme seperti PKB misalnya.

Sebenarnya yang disebut Nasionalisme itu adalah : Perasaan kesukaran dan kesamaan nasib suatu komunitas manusia (imagined community) adalah cikal bakal lahirnya sebuah nation state (negara nasional), selain karena faktor ras, suku, keturunan dan bahasa. Perjuangan untuk persatuan nasional, kebebasan nasional dari campur tangan dunia luar, mewujudkan kemandirian, keaslian/keistimewaan, dan identitas nasional harus dilakukan demi martabat suatu bangsa.

Sedangkan yang Agama : Biasanya ideologi ini melintas batas negara. Prinsip dasarnya: bahwa teks-teks agama secara lateral, harus menjadi rujukan dalam mengkonstruksi kehidupan bernegara dan mengaktualisasi Ide-ide syariah dalam kehidupan bernegara, bentuk negara yang diinginkan adalah khilafah dan adanya dewan syariah.

diambil dari : http://bendiel.kotangawi.com/sejenak-mengkaji-ideologi-partai-politik/

Dari kedua ideologi NASA (Nasionalis-Agama) ini jelas bahwa keterpaduan keduanya menjadi agak sulit terealisasi. Terlebih latar belakang yang melingkupi misalnya PKS yang ‘pernah’ berkeinginan menghidupkan kembali Piagam Jakarta dan mengubahnya lagi menjadi piagam Madina atau PAN yang sebenarnya bukan berbasis Agama namun akhirnya ke Agama juga yang pernah berkeinginan membentuk negara Federal, yang bagi kelompok nasionalis yang cinta NKRI tentu sulit diterima.

Mengingat kali ini SBY yang maju sebagai Capres kedua kalinya, yang konon menurut survey dipasangkan dengan ’sandal jepit’ pun akan menang, namun bagi kelompok nasionalis akan sangat riskan jika SBY memilih wakil dari PKS atau PAN. Hal ini timbul dari rasa kekuatiran terhadap non basis nasionalis yang berlebihan yang sebenarnya sudah tidak perlu ada.

Karena rasa kuatir inilah maka timbul ‘Koalisi Besar’ yang diharapkan akan mampu melibas dominasi SBY atau setidaknya membungkam langkah-langkah non Nasionalis dengan membuat  kebijakkan di DPR.  Menyadari kondisi ini, sepertinya SBY tidak ingin ambil resiko, maka ia justru mengambil langkah mendekati PDI-P untuk berkoalisi dengan berbagai tawaran yang tentunya menarik bagi PDI-P. Dan pilihan Budiono sebagai Wakil Presiden juga memberikan rasa nyaman pada kelompok Nasionalis lainnya bahwa seandainya SBY menangpun kondisi masih tetap aman terkendali. Kontan saja banyak pihak meradang yang tadinya merasa sudah bisa mendekati PD. Dan kita sebagai orang awam politik hanya bisa menyaksikan langkah-langkah ajaib yang sebenarnya nggak juga ajaib karena pakemnya memang harus demikian :-)

Tagihan BB kok membangkak ?

Posted in sosial on May 4th, 2009 by RM

Penasaran juga dengan tagihan HP yang mencapai 1,5 juta. Dimana letak kemahalannya ? Sementara biasa bayar tagihan hanya sekitar 400 ribu saja. Apakah hal ini berkaitan dengan HP Blackberry BOLD yang baru saya gunakan ? Apakah ini berkaitan dengan GPRS yang Brosernya jauh lebih baik dibanding HP Blackberry sebelumnya yang bertype 8100 ? Ataukah karena jalan ke Malaysia dan GPS saya hidupkan ?

Untuk mengatasi rasa penasaran itu, kemarin ke Bandung ngantar anak sekalian jalan-jalan, GPS saya hidupkan pulang pergi, Saya lihat tagihan tanggal 2 May 2009 20:45:21 yang nilainya Rp. 37.330,- Kemudian saya catat lagi 4 May 2009 09::46:14 yang nilainya Rp. 41.490,- Jadi meskipun GPS saya hidupkan Jakarta Bandung PP dan bisa dimonitor secara live oleh anak saya ternyata tagihan hanya bertambah Rp. 4.160,- Jadi dimana letak kemahaln bulan lalu ? Detail tagihan sementara belum saya terima jadi belum bisa dianalisa :-(


GPS tracking powered by InstaMapper.com


GPS tracking powered by InstaMapper.com

BB Sebagai GPS Tracking

Posted in sosial on May 1st, 2009 by RM


GPS tracking powered by InstaMapper.com

Ternyata Blackberry juga bisa difungsikan sebagai GPS Tracking. caranya sangat mudah yakni dengan mendownload dari http://mobile.blackberry.com GPS Tracking. Setelah mendownload program kecil itu kemudian kita mendaftarkan HP kita ke http://instamapper.com

Dari http://instamapper.com kita akan memperoleh Device Key yang perlu kita masukkan ke HP kita dengan cara activekan GPS Tracker kemudian tekan menu dan tekan setting, maka masukkan nomer Device Key.

Perbedaanya dengan Holux, tracking ini dilakukan secara live artinya data langsung dikirim ke instan mapper sehingga bisa dilihat secara live dari internet kemana gerangan gerak-gerik kita jika GPS tracker diaktivkan :-)

Seperti yang terlihat dari peta diatas, maka akan berubah lagi jika lain hari anda buka blog ini dan saya sudah merecord perjalanan lain :-)

Wapres

Posted in sosial on April 27th, 2009 by RM
Wapres

Posisi SBY pada saat ini rasanya seperti kita sedang menghadapi kondisi Suhato pada ‘Jaman Orba’. Pada saat itu melalui ‘kebulatan tekad’ sudah dapat dipastikan bahwa Suharto adalah presiden berikutnya tinggal kita pilih siapa gerangan wakil presiden yang akan dipilihnya.  Demikian pula halnya yang terjadi pada diri SBY saat ini, dengan kemenangan melalui ‘quick count’ sebesar lebih kurang 20 %, telah banyak pihak yang memastikan bahwa SBY adalah pemenang pada pemilihan presiden yang akan datang.

Hal ini mungkin saja terjadi jika lawan-lawan dari SBY adalah muka lama pada pilpres 2004, maka dengan tambahan pengalaman SBY jadi Presiden 2004-2009 maka jelaslah bahwa kedudukan SBY pun semakin menguat dengan pemikiran tanpa pengalamanpun sudah unggul tahun 2004. Kekuatan ini semakin menjadi-jadi manakala pihak-pihak yang sebenarnya punya potensi untuk nyapres , dengan peraturan yang sengaja dikondisikan malah memutuskan diri untuk puas sebagai Wakil Presiden saja :-)

Memang sangat sulit menghadapi masa mengambang yang jelas pilihannya bukan dilandaskan pada ideologi, namun hanya pada orang per orang yang dikenal, baik karena ‘ketenaran’ maupun ‘keturunan siapa’ menjadi patokan yang utama. Sementara partai hanyalah sebagai kendaraan kutu loncat yang bisa dilompati para oportunis untuk mengejar posisi.

Pun demikian tetap ada yang menarik dalam pilpres kali ini. Yakni seolah mengutub antara pihak yang berniat menggalakkan pemberatasan korupsi hingga akar-akarnya yang ini dicerminkan oleh kinerja KPK dalam kepemimpinan SBY melawan pihak yang merasa lahan-lahannya mulai terobrak-abrik oleh sepak terjang KPK.

Keluarnya Golkar dari Koalisi yang ada menambah tegas garis tersebut diatas, ditambah lagi keinginan PKS untuk merapat semakin jelas warna yang mungkin akan diambil dalam langkah SBY dalam periode mendatang dan ini akan memacu pihak-pihak yang beroposisi terhadap SBY semakin meningkatkan kinerjanya untuk memenangkan posisi Pilpres yang akan datang.

Kondisi diatas tentunya menyulitkan penilaian masyarakat akan kondisi nyata yang dihadapi selama periode kepeminpinan SBY.  Ambilah contoh bagaimana kita menilai kinerja KPU yang acak adul. Seperti tanpa ada prasangka macam-macam dan juga ada keterlibatan ‘penguasa’ seolah kesalah KPU menangani hajat besar di negeri ini menjadi kesalahan KPU semata.

Padahal jika diperbandingan kinerja KPU 2004 yang lalu yang sebagian besar petingginya di ‘meja hijaukan’, baik dari total biaya maupun kecanggihan datanya jauh lebih bagus tahun 2004 :-).

Padahal sebenarnya keberhasilan KPK atau KPU adalah sama-sama mencitrakan kemampuan Pimpinan tertinggi negeri ini pada periodenya :-)

Menuju Mati …..

Posted in sosial on April 24th, 2009 by RM

Detik detik berlalu
Dalam hidup ini
Pelan tapi pasti
Menuju mati

Kerap datang rasa takut
menyusup dihati
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia

Pada hening dan sepi
Aku bertanya
Dengan apa ku isi
Detikku ini

Kerap datang rasa takut
menyusup dihati
Takut hidup
ini terisi
Oleh sia-sia

Tuhan kemana kami
setelah ini
Adakah engkau dengar
Doaku ini

Oleh : Iwan Abdulrachman

Perasaan diatas adalah perasaan yang lumrah kita rasakan semakin umur kita bertambah. Ada rasa takut bahwa hidup ini akan terisi oleh kesia-siaan. Hal ini akan membuat kita bercermin lagi menatapi langkah-demi langkah yang telah kita lalui.

Abah menjelaskan bahwa hidup ini harus kita isi dengan perbuatan dan bersyukurlah bahwa kita terpilih diantara begitu banyak orang yang mencari kerja. Bahwa kerja yang skala besar memang harus dilaksanakan secara berorganisasi, maka tak jadi masalah jika kita terpilih sebagai salah satu pengisi organisasi tersebut agar suatu karya besar dapat ditampilkan. Hal ini juga yang mengakibatkan hidup tak lagi terisi oleh kesia-siaan.

Kerja dengan penuh pengorbanan terlalu murah jika hanya dihitung dengan uang, karena suatu karya bagi kebaikan sesama akan lebih berharga dan tak ternilai. Jika kita hitung dengan cermat, memang sebagian besar waktu kita sebenarnya digunakan untuk kerja dibanding keluarga bahkan beberapa keluarga harus rela meninggalkan anak istrinya untuk periode tertentu. Dan tentunya semua ini untuk menjawab bahwa kita sebenarnya “Takut hidup ini terisi oleh sia-sia”

Track 07 DETIK HIDUP - Track 07 DETIK HIDUP